BISNIS  

Dukung Kesejahteraan Pengemudi, inDrive Luncurkan Layanan Keuangan Digital

JAKARTA – Kebutuhan akan layanan keuangan yang inklusif dan terjangkau bagi pekerja sektor informal, khususnya pengemudi transportasi online, terus meningkat. Menjawab kebutuhan ini, inDrive meluncurkan inDrive.Money di Indonesia pada Februari 2025, sebuah inisiatif yang bertujuan mendorong stabilitas dan pertumbuhan keuangan jangka panjang bagi para mitra pengemudi.

Sejak diluncurkan, inDrive.Money mendapat sambutan hangat dari komunitas pengemudi inDrive. Data internal menunjukkan bahwa hingga 80% pengemudi yang menerima promosi layanan ini menyatakan ketertarikan—mengindikasikan tingginya kebutuhan terhadap solusi keuangan yang fleksibel dan relevan.

“Sejak hadir di Indonesia, antusiasme mitra pengemudi terhadap inDrive.Money sangat tinggi. Ini membuktikan bahwa mereka memang membutuhkan akses keuangan yang mudah dan sesuai kondisi mereka,” ujar Wahyu Ramadhan, Communication Manager inDrive Indonesia, (25/07/25) Jum’at.

Ia menambahkan, kolaborasi dengan Ammana—platform pinjaman syariah berbasis teknologi—merupakan langkah strategis untuk menyediakan layanan keuangan yang bukan hanya praktis, tapi juga aman dan sesuai prinsip syariah.

Pasar ride-hailing di Indonesia diprediksi terus berkembang. Menurut Mordor Intelligence (2024), nilainya diperkirakan naik dari USD 2,67 miliar pada 2023 menjadi lebih dari USD 4,66 miliar pada 2028, dengan tingkat pertumbuhan tahunan sekitar 8,75%. Sementara itu, Research and Markets memperkirakan nilai pasar akan mencapai USD 4,41 miliar pada 2025 dan melonjak menjadi USD 6,26 miliar pada 2030.

Namun, sebagian besar pengemudi masih sulit mengakses layanan keuangan formal karena keterbatasan riwayat kredit dan penghasilan yang tidak tetap. Akibatnya, mereka lebih banyak mengandalkan platform fintech seperti dompet digital dan layanan pinjaman peer-to-peer (P2P).

Untuk menjembatani kesenjangan ini, inDrive bersama Ammana mengembangkan berbagai solusi keuangan berbasis teknologi, seperti pendanaan mikro, pembiayaan kendaraan, asuransi mikro, hingga fitur Buy Now, Pay Later yang mendukung kebutuhan operasional harian seperti bahan bakar dan servis kendaraan.

Model keuangan terintegrasi (embedded finance) ini menjadi semakin penting seiring meningkatnya digitalisasi. Ammana memperkirakan bahwa layanan keuangan bagi pengemudi online akan tumbuh lima kali lipat dalam lima tahun ke depan—melampaui pertumbuhan pasar pinjaman digital secara keseluruhan yang hanya diperkirakan tumbuh dua kali lipat pada periode yang sama.

“Pengemudi transportasi digital adalah bagian penting dari ekonomi digital Indonesia, tetapi masih banyak dari mereka yang belum memiliki akses ke layanan keuangan yang sesuai,” ungkap Widji Tri Kusuma Adhi, Direktur Ammana. Ia menekankan bahwa kerja sama ini bertujuan membantu mitra pengemudi menjadi lebih mandiri secara ekonomi, bahkan membuka peluang untuk naik kelas menjadi pemilik usaha.

Saat ini, hanya 51% populasi Indonesia yang memiliki rekening bank dan kurang dari 20% yang memiliki akses pembiayaan dari perbankan. Sebaliknya, layanan P2P lending tumbuh pesat dengan penetrasi sekitar 10%, didorong oleh tingginya kebutuhan masyarakat terhadap solusi keuangan digital.

Mayoritas peminjam P2P berasal dari kalangan usia 19–34 tahun (51,5%), dengan perempuan mencakup lebih dari 54% dari total peminjam. Rata-rata nilai pendanaan juga meningkat signifikan, dari Rp3,5 juta pada 2019 menjadi Rp7,1 juta pada 2024.

Kebutuhan pengemudi bukan hanya terbatas pada pembiayaan jangka pendek, melainkan juga akses terhadap tabungan, perlindungan penghasilan, serta perencanaan keuangan jangka panjang. Layanan seperti inDrive.Money menjadi pintu masuk untuk menciptakan keamanan finansial sekaligus mobilitas sosial, dari sekadar pengemudi menjadi pelaku usaha transportasi.

inDrive dan Ammana menegaskan komitmennya untuk menyediakan layanan keuangan yang aman, fleksibel, dan sesuai regulasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta Bank Indonesia. Perlindungan data pengguna juga menjadi prioritas utama dalam kolaborasi ini.

Dengan semangat inklusi keuangan, inisiatif ini menjadi langkah nyata dalam mendukung kesejahteraan pekerja sektor informal dan memperkuat kontribusi mereka dalam ekonomi digital Indonesia.