PLTSa Benowo, Bukti Sampah Bisa Menjadi Energi Masa Depan

Teks Foto : PLTSa Benowo Surabaya mengolah ribuan ton sampah kota setiap hari menjadi energi listrik ramah lingkungan yang disalurkan ke sistem kelistrikan Jawa Timur. (Humas PLN UID Jatim)

SURABAYA – Di ujung barat Kota Surabaya, ribuan ton sampah yang setiap hari datang ke kawasan Benowo tak lagi berakhir sebagai gunungan limbah tak bernilai. Di tempat inilah berdiri Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Benowo sebuah fasilitas yang mengubah problem klasik perkotaan menjadi sumber energi masa depan.

Cerita tentang transformasi itu mengemuka dalam kegiatan Media Gathering “Virtual Journey to Green Power: Menjelajah Energi Masa Depan” yang digelar PLN UID Jawa Timur di Kantor PLN Embong Trengguli, Surabaya, Kamis (15/1/2026).

Melalui teknologi virtual reality, para jurnalis diajak “mengunjungi” langsung dapur pembangkit EBT, termasuk PLTSa Benowo yang selama ini menjadi ikon energi hijau Jawa Timur.

General Manager PLN UID Jawa Timur Ahmad Mustaqir menegaskan bahwa PLTSa Benowo adalah bukti nyata bagaimana transisi energi tidak berhenti pada konsep, melainkan telah bekerja di lapangan.

“PLTSa Benowo merupakan wujud kolaborasi PLN dengan Pemerintah Kota Surabaya untuk menghadirkan energi listrik berbasis teknologi ramah lingkungan. Ini bukan hanya soal listrik, tapi juga solusi atas persoalan sampah perkotaan,” ujarnya di sela kegiatan.

Dari 1.600 Ton Sampah Menjadi Listrik
Setiap hari, lebih dari 1.600 ton sampah kota masuk ke fasilitas ini. Dengan kombinasi teknologi sanitary landfill dan gasification, sampah tersebut dikonversi menjadi energi listrik berkapasitas total sekitar 10,65 MW yang terhubung langsung ke sistem kelistrikan Jawa–Madura–Bali.

General Manager PLN UID Jawa Timur Ahmad Mustaqir memberikan keterangan kepada media di sela kegiatan Media Gathering “Virtual Journey to Green Power” di Surabaya, Kamis (15/1/2026).

Sejak beroperasi pada 2015, PLTSa Benowo telah menyuplai ratusan gigawatt hour listrik bersih, sekaligus memangkas emisi gas rumah kaca yang sebelumnya muncul dari timbunan sampah terbuka.

“Benowo sering menjadi tempat benchmark daerah lain. Tantangannya memang tidak mudah, tapi pembangkit ini membuktikan bahwa sampah bisa menjadi sumber energi yang andal,” tambah Ahmad.

Digitalisasi dan Transparansi Energi
Dalam media gathering tersebut, PLN juga memperkenalkan sistem digital monitoring kelistrikan Jawa Timur. Dari ruang kendali, seluruh gardu induk hingga performa pembangkit dapat dipantau secara real time.

Melalui tur virtual, awak media diajak melihat bagaimana proses pengolahan sampah di Benowo, mulai pemilahan, pembakaran terkendali, hingga uap yang menggerakkan turbin pembangkit.

“Harapan kami, teman-teman media bisa melihat secara riil meski virtual, bagaimana pembangkit EBT beroperasi. Semakin banyak cerita positif tentang energi bersih, semakin kuat dukungan publik terhadap transisi energi,” katanya.

Di Jawa Timur, kontribusi energi baru terbarukan memang masih sekitar 3,5 persen dari total daya mampu sistem. Namun PLN menargetkan akselerasi besar, terutama melalui PLTS di Madura dan kepulauan, serta optimalisasi pembangkit berbasis sampah.

Target 2027, seluruh pulau berpenghuni di Madura akan menikmati listrik 24 jam penuh berbasis bauran energi yang lebih hijau.

Benowo menjadi penanda bahwa masa depan energi Indonesia tidak hanya datang dari matahari dan air, tetapi juga dari sesuatu yang paling dekat dengan keseharian warga kota: sampah mereka sendiri.