Pendampingan Tanpa Henti, Suratman Bersyukur JKN Lindungi Amir dalam Perawatan Jiwa

KEBUMEN- Suratman (67), warga Kedawung RT 1/6, Kecamatan Pejagoan, Kabupaten Kebumen, kembali menjalani kontrol rutin untuk anaknya, Amir Ma’arif, di Poli Jiwa Puskesmas Pejagoan. Sudah bertahun-tahun ia setia mendampingi putranya yang mengalami gangguan kejiwaan sejak masih duduk di bangku SMK. Dengan suara pelan, Suratman mengaku tidak mengetahui secara pasti apa yang memicu kondisi tersebut. Namun, ia sangat ingat bagaimana perubahan perilaku anaknya mulai tampak.

Menurutnya, Amir awalnya menjadi lebih mudah marah, sering bicara sendiri, kerap keluyuran tanpa arah. Bahkan pada malam hari jam tidurnya berantakan, dan aktivitas hariannya berubah total. Situasi itu membuat keluarga sangat cemas.

“Waktu itu kami bingung dan takut. Perilaku Amir berubah sekali,” ujar Suratman.

Karena khawatir kondisi Amir semakin memburuk, Suratman mengambil langkah berani. Ia membohongi Amir dengan pura-pura mengajaknya pergi bermain ke Magelang. Padahal sebenarnya ia berniat membawa Amir ke Rumah Sakit Jiwa Prof. Dr. Soerojo Magelang untuk mendapatkan penanganan medis.

“Saya bilangnya mau jalan-jalan saja, supaya dia mau ikut. Padahal saya bawa untuk berobat,” kenangnya.

Amir menjalani perawatan di RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang sebanyak dua kali. Setelah itu, proses pemulihan dilanjutkan di RSPDM Martani selama satu tahun. Selanjutnya, ia menjalani pengobatan lanjutan di Puskesmas Pejagoan. Sudah satu tahun terakhir Amir melakukan kontrol rutin sebulan sekali di poli jiwa Puskesmas Pejagoan. Perlahan-lahan, kondisinya menunjukkan perkembangan yang positif.

“Alhamdulillah sekarang membaik. Walaupun masih harus terus kontrol rutin, tapi sudah lebih komunikatif dan bisa mengurus diri sendiri,” tutur sang ayah dengan nada syukur.

Suratman mengapresiasi pelayanan kesehatan yang ia terima selama ini. Administrasi dinilai mudah, petugas sigap, dan dokter pun memberikan penjelasan yang detail mengenai kondisi Amir. Ia juga mendapat pesan agar Amir rutin minum obat dan diberikan aktivitas yang ringan dan terarah. Menurutnya, kesabaran dan kedisiplinan dalam menjalani pengobatan menjadi kunci perbaikan kondisi putranya.

Lebih jauh, Suratman menyampaikan rasa syukurnya karena seluruh biaya pengobatan kini ditanggung oleh Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Sebelum menjadi peserta JKN dengan segmen Peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI), ia pernah memeriksakan kondisi Amir secara mandiri dan merasakan betapa mahalnya biaya obat yang harus dibeli. “Kalau bayar sendiri berat sekali. Obatnya mahal. Alhamdulillah sekarang semua ditanggung JKN,” ungkapnya.

Ia berharap program JKN dapat terus berjalan dan memberikan perlindungan bagi masyarakat luas, terutama bagi mereka yang membutuhkan layanan kesehatan rutin seperti anaknya. Dengan prinsip gotong royong, Suratman percaya program ini akan terus berkesinambungan dan menjadi penopang kesehatan masyarakat dari berbagai lapisan.

“Semoga JKN terus ada untuk membantu orang-orang seperti kami,” pungkasnya penuh harapan.

Penulis: FandiEditor: Redaksi