Kadin Mendesak Pembatalan Impor Kendaraan Niaga India, Fokus pada Kemandirian Industri Otomotif Nasional
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyuarakan keprihatinan mendalam terkait rencana impor 105.000 unit kendaraan niaga dari India, yang diperkirakan bernilai Rp 24,66 triliun. Langkah ini dikhawatirkan akan berdampak buruk pada industri otomotif dalam negeri dan bertentangan dengan program industrialisasi yang sedang digalakkan pemerintah. Kadin mendesak Presiden terpilih Prabowo Subianto untuk segera meninjau ulang dan membatalkan rencana impor tersebut.
Saleh Husin, Wakil Ketua Umum Bidang Perindustrian Kadin Indonesia, menegaskan bahwa impor kendaraan dalam bentuk utuh (completely built up/CBU) ini berpotensi mematikan geliat industri otomotif nasional. Alih-alih menggerakkan roda perekonomian dalam negeri, kebijakan ini justru dinilai bertentangan dengan visi dan program kerja Presiden yang seharusnya mendorong kemandirian industri.
“Perusahaan otomotif di dalam negeri sebenarnya telah menyatakan kesiapannya untuk memenuhi kebutuhan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP),” ujar Saleh dalam keterangan resminya. Ia menekankan bahwa kebutuhan akan mobil pikap oleh KDKMP seharusnya menjadi momentum emas untuk memajukan industri otomotif nasional, bukan malah membuka pintu bagi produk impor yang dapat merusak ekosistem industri yang telah terbangun.
Ancaman Terhadap Industri Komponen dan Rantai Pasok Nasional
Dampak negatif dari impor kendaraan CBU ini tidak hanya berhenti pada industri perakitan kendaraan. Saleh Husin menyoroti bahwa industri komponen otomotif, yang merupakan bagian krusial dari backward linkage industri perakitan, akan menjadi pihak yang paling terpukul. Kondisi ini dapat mengancam keberlanjutan produksi mobil di dalam negeri.
Industri komponen otomotif, yang mencakup berbagai elemen penting seperti mesin, bodi, sasis, ban, aki, kursi, hingga komponen elektronik, memegang peranan vital dalam menentukan kekuatan rantai pasok industri otomotif secara keseluruhan.
“Semakin kuat produksi komponen otomotif lokal, semakin tinggi pula Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang dapat dicapai. Hal ini berimplikasi pada peningkatan penyerapan tenaga kerja lokal dan efek pengganda yang positif terhadap perekonomian nasional,” jelas Saleh.
Sebaliknya, jika pasar otomotif nasional didominasi oleh kendaraan impor dalam bentuk utuh, industri komponen nasional akan menghadapi tekanan yang luar biasa. Agenda hilirisasi dan industrialisasi yang menjadi prioritas pemerintah pun berpotensi melemah.
Detail Rencana Impor dan Kritik Kadin
Sebagai informasi, PT Agrinas Pangan Nusantara telah ditunjuk oleh pemerintah untuk merealisasikan impor 105.000 unit kendaraan dari India. Tujuan utama dari impor ini adalah untuk mendukung operasional KDKMP.
Adapun rincian kendaraan yang akan diimpor meliputi:
- 35.000 unit mobil pikap 4×4 yang diproduksi oleh Mahindra & Mahindra Ltd. (M&M).
- 35.000 unit pikap 4×4 dari Tata Motors.
- 35.000 unit truk roda enam dari produsen yang sama.
Pengiriman kendaraan ini rencananya akan dilakukan secara bertahap sepanjang tahun 2026. Hingga berita ini ditulis, Kadin mencatat bahwa sebanyak 200 unit pikap Mahindra dilaporkan telah tiba di Indonesia.
Kadin Indonesia berpendapat bahwa alih-alih mengimpor kendaraan jadi, pemerintah seharusnya mendorong investasi dan pengembangan industri otomotif di dalam negeri. Beberapa langkah strategis yang bisa dipertimbangkan antara lain:
- Stimulus untuk Industri Lokal: Memberikan insentif fiskal dan non-fiskal kepada produsen otomotif dalam negeri yang berkomitmen untuk meningkatkan kapasitas produksi dan TKDN.
- Pengembangan Industri Komponen: Mendorong riset dan pengembangan serta investasi pada industri komponen otomotif agar mampu memenuhi standar global dan kebutuhan pasar domestik.
- Fokus pada Hilirisasi: Memastikan bahwa setiap kebutuhan akan kendaraan, terutama untuk sektor strategis seperti koperasi desa, dipenuhi melalui produksi dalam negeri yang terintegrasi dengan rantai pasok lokal.
- Kerja Sama Teknologi: Menjalin kerja sama dengan perusahaan otomotif global untuk transfer teknologi dan joint venture yang dapat memperkuat kemampuan industri nasional, bukan sekadar menjadi pasar bagi produk jadi.
Kadin Indonesia berharap agar Presiden terpilih Prabowo Subianto dapat mempertimbangkan kembali rencana impor ini demi menjaga kesehatan dan keberlanjutan industri otomotif nasional, yang merupakan salah satu pilar penting perekonomian Indonesia. Fokus pada kemandirian dan penguatan industri domestik dinilai sebagai langkah yang lebih strategis untuk jangka panjang.






