Aktivitas Gunung Merapi: Guguran Lava dan Gempa Guguran Terus Terpantau
YOGYA – Gunung Merapi, yang menjulang setinggi 2968 meter di atas permukaan laut, terus menunjukkan aktivitas yang signifikan. Berdasarkan laporan pemantauan terbaru dari Balai Penyelidikan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta, pada periode pengamatan Minggu, 22 Februari 2026, antara pukul 00.00 hingga 06.00 WIB, terpantau adanya tiga kali guguran lava yang meluncur ke arah Kali Sat/Putih. Jarak luncur maksimum guguran lava ini tercatat mencapai 1900 meter, menandakan potensi bahaya yang perlu diwaspadai oleh masyarakat di sekitar lereng gunung.
Selain guguran lava, aktivitas kegempaan juga mendominasi periode pemantauan tersebut. Tercatat sebanyak 23 kali gempa guguran dengan amplitudo bervariasi antara 2 hingga 14 milimeter. Durasi gempa guguran ini pun cukup panjang, berkisar antara 73.18 hingga 198.19 detik. Fenomena ini mengindikasikan adanya pergerakan material di dalam tubuh gunung berapi.
Lebih lanjut, BPPTKG Yogyakarta juga melaporkan adanya 24 kali gempa Hybrid atau gempa Fase Banyak. Gempa jenis ini memiliki ciri amplitudo antara 2 hingga 32 milimeter, dengan waktu tempuh gelombang S dan P yang tidak teramati, serta durasi yang lebih singkat, yaitu antara 12.66 hingga 59.63 detik. Keberadaan gempa Hybrid seringkali dikaitkan dengan pergerakan magma atau fluida di dalam sistem vulkanik.
Hingga saat ini, status aktivitas Gunung Merapi masih berada pada Level III, atau Siaga. Keputusan ini diambil berdasarkan analisis data pemantauan yang berkelanjutan terhadap aktivitas vulkanik di gunung yang berbatasan antara Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah ini.
Kondisi Visual dan Klimatologi Gunung Merapi
Secara visual, pengamatan terhadap Gunung Merapi pada periode tersebut menunjukkan kondisi tertutup kabut dengan tingkat ketebalan bervariasi dari 0 hingga III. Asap kawah terpantau nihil, yang berarti tidak ada pelepasan gas vulkanik yang terlihat signifikan dari puncak.
Dari sisi klimatologi, kawasan puncak Merapi diselimuti cuaca mendung. Angin bertiup tenang dengan arah cenderung ke barat. Suhu udara di sekitar puncak berkisar antara 19.8 hingga 21.3 derajat Celsius. Tingkat kelembaban udara cukup tinggi, yaitu antara 80.3 hingga 82.3 persen. Tekanan udara tercatat antara 869.7 hingga 912.9 mmHg. Kondisi cuaca seperti ini dapat mempengaruhi visibilitas dan kondisi di lapangan bagi tim pemantau.
Rekomendasi BPPTKG dan Potensi Bahaya
BPPTKG Yogyakarta secara tegas mengeluarkan rekomendasi terkait potensi bahaya yang saat ini mengancam wilayah di sekitar Gunung Merapi. Potensi bahaya utama meliputi guguran lava dan awan panas.
Sektor Selatan-Barat Daya:
- Sungai Boyong: Potensi bahaya guguran lava dan awan panas hingga jarak maksimum 5 kilometer.
- Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng: Potensi bahaya hingga jarak maksimum 7 kilometer.
Sektor Tenggara:
- Sungai Woro: Potensi bahaya hingga jarak maksimum 3 kilometer.
- Sungai Gendol: Potensi bahaya hingga jarak maksimum 5 kilometer.
Selain itu, jika terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik berpotensi menjangkau radius hingga 3 kilometer dari puncak gunung.
Peringatan dan Imbauan bagi Masyarakat
Data pemantauan yang dihimpun secara konsisten menunjukkan bahwa suplai magma ke dalam sistem vulkanik Gunung Merapi masih terus berlangsung. Kondisi ini berpotensi memicu terjadinya awan panas guguran (APG) di dalam wilayah potensi bahaya yang telah ditetapkan.
Oleh karena itu, masyarakat yang tinggal di sekitar lereng Gunung Merapi dan juga para pengunjung diimbau untuk:
- Tidak melakukan aktivitas apapun di dalam daerah potensi bahaya. Hal ini mencakup aktivitas pendakian, pertanian, atau kegiatan lainnya yang dapat membahayakan keselamatan jiwa.
- Mewaspadai bahaya lahar dan awan panas guguran (APG), terutama ketika terjadi hujan di sekitar kawasan Gunung Merapi. Hujan dapat memicu luncuran material vulkanik yang tertahan di puncak atau lereng gunung.
BPPTKG Yogyakarta juga menegaskan bahwa jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan pada Gunung Merapi, status tingkat aktivitas gunung ini akan segera ditinjau kembali dan diinformasikan kepada publik. Kewaspadaan dan kepatuhan terhadap arahan dari pihak berwenang menjadi kunci utama dalam mitigasi bencana vulkanik.






