Daerah  

Pangan Aman Lebaran Tenang: Kaltim Siapkan Ribuan Ton Beras, Pantau HET Ketat

Ketersediaan Pangan Kalimantan Timur Terjamin Jelang Idulfitri

Menjelang Hari Raya Idulfitri, masyarakat Kalimantan Timur dapat bernapas lega. Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur telah mengambil langkah-langkah strategis untuk memastikan ketersediaan pangan tetap aman dan harga tetap stabil. Berbagai komoditas pokok, mulai dari beras, minyak goreng, gula, hingga daging, dipastikan memiliki stok yang memadai untuk memenuhi lonjakan permintaan selama periode krusial ini.

Kondisi Pasar Terkendali dan Stok Bulog Melimpah

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM (DPPKUKM) Kalimantan Timur, Heni Purwaningsih, memberikan jaminan bahwa kondisi pasar di Kaltim masih dalam batas aman dan relatif terkendali. Beliau menjelaskan bahwa pergerakan perdagangan antar pelaku usaha selama ini berjalan dengan baik secara mandiri. Peran pemerintah lebih difokuskan pada memastikan kelancaran distribusi barang, mencegah pungutan liar, dan mengatasi kendala teknis di lapangan, seperti hambatan bongkar muat di pelabuhan.

“Ya saya katakan masih terkendali. Artinya masyarakat tidak perlu khawatir,” ujar Heni. Beliau menambahkan bahwa pembentukan harga di pasar mengikuti mekanisme yang wajar, yaitu harga pokok dari tingkat produsen ditambah biaya distribusi. Selama stok barang tercukupi, tidak ada faktor signifikan yang dapat memicu lonjakan harga yang drastis.

Di sisi lain, Perum Bulog Kantor Cabang Kabupaten Paser juga memastikan ketersediaan bahan pokok menjelang Idulfitri 1447 Hijriah dalam kondisi aman. Gudang Bulog saat ini menyimpan sekitar 2.000 ton beras yang siap didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Kabupaten Paser dan Penajam Paser Utara. Kepala Kantor Bulog Cabang Paser, Muhammad Mukhlis, menyatakan bahwa stok ini dinilai cukup untuk menghadapi lonjakan permintaan menjelang Lebaran.

Selain beras, Bulog juga menyiapkan stok minyak goreng Minyakita sebanyak 90 ribu liter. “Dengan penambahan dua ribu ton beras dan sembilan puluh ribu liter Minyakita, jumlah ini aman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga Idulfitri,” terang Mukhlis. Bulog juga menyediakan komoditas lain seperti daging sebanyak 3 ton dan gula pasir hingga 30 ton untuk mengantisipasi meningkatnya kebutuhan masyarakat menjelang Lebaran. Mukhlis menambahkan bahwa stok pangan masih berpotensi bertambah karena adanya pasokan tambahan dari pusat, serta Bulog juga melakukan penyerapan gabah dari petani lokal untuk memastikan ketersediaan beras tetap aman.

Saat ini, harga beras SPHP ditetapkan dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp65.500 per 5 kilogram, harga Minyakita Rp15.700 per liter, dan gula pasir Rp17.500 per kilogram.

Pengawasan Harga Eceran Tertinggi Diperketat

Sebagai langkah antisipasi menjelang Lebaran, pemerintah daerah juga memperketat pengawasan terhadap harga bahan pokok. Heni Purwaningsih menyebutkan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan Satgas Saber Pungli Polda Kalimantan Timur untuk mengawasi penerapan HET sejumlah komoditas penting seperti beras, gula, dan minyak goreng.

Selain pengawasan, pemerintah juga terus melakukan edukasi kepada para pelaku usaha agar mematuhi ketentuan harga yang telah ditetapkan. Edukasi ini bahkan telah dilakukan sejak tahun sebelumnya, khususnya terkait mutu dan harga beras di pasaran. “Kita sudah sampaikan jauh-jauh hari. Sekarang mereka juga harus bijak. Tidak ada celah lagi memanfaatkan momen hari besar keagamaan untuk mengambil keuntungan sepihak,” tegasnya.

Jika ditemukan pelanggaran harga yang melampaui HET, pemerintah akan mengedepankan langkah edukatif terlebih dahulu. “Pertama tahapannya kita panggil untuk edukasi dan pemahaman. Jangan sampai saat ada sanksi mereka beralasan belum tahu atau belum diberitahu. Biasanya kalau ditemukan penyimpangan, kita panggil dulu dan kita edukasi,” jelasnya.

Keterbatasan Kemasan Kecil Menjadi Perhatian

Di sisi lain, Komisi II DPRD Balikpapan menyoroti pola distribusi beras di pasaran yang belum sepenuhnya menyesuaikan kebutuhan masyarakat. Anggota Komisi II DPRD Balikpapan, Japar Sidik, mengungkapkan bahwa sebagian distributor saat ini lebih banyak memasarkan beras dalam kemasan 25 kilogram dibandingkan kemasan kecil 5 kilogram.

“Kami mendapat penjelasan bahwa stok beras sebenarnya ada. Hanya saja yang kosong di pasaran itu kemasan lima kilogram,” ujarnya. Japar menjelaskan bahwa pengemasan beras dalam ukuran kecil membutuhkan biaya tambahan lebih besar, sehingga sebagian distributor memilih menjual beras dalam kemasan besar. Kebijakan HET juga menjadi pertimbangan distributor dalam menentukan ukuran kemasan.

Japar menekankan bahwa dominasi kemasan besar justru dapat menyulitkan sebagian masyarakat, terutama rumah tangga dengan kemampuan ekonomi terbatas. “Tidak semua masyarakat sanggup membeli beras langsung 25 kilogram. Banyak yang biasanya membeli lima kilogram karena menyesuaikan kemampuan keuangan,” tandasnya. Komisi II berencana terus memantau pola distribusi beras di pasaran dan berkoordinasi dengan dinas terkait agar distribusi tersebut lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Inflasi Kalimantan Timur Tetap Terkendali

Memasuki momen Ramadan dan menjelang Hari Raya Idulfitri, geliat belanja masyarakat di Kalimantan Timur menunjukkan peningkatan signifikan. Meskipun permintaan barang pokok dan jasa meningkat, Bank Indonesia melaporkan bahwa inflasi di Bumi Etam masih terkendali.

Berdasarkan data terbaru, Indeks Harga Konsumen (IHK) Provinsi Kalimantan Timur pada Februari 2026 mencatatkan inflasi sebesar 0,60 persen (month-on-month). Angka ini memang lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang hanya 0,04 persen (month-on-month). Namun, secara tahunan, inflasi Kaltim berada di level 4,64 persen (year-on-year), masih lebih rendah dari rata-rata nasional yang mencapai 4,76 persen (year-on-year).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kaltim, Jajang Hermawan, menjelaskan bahwa kenaikan harga pada Februari 2026 utamanya dipicu oleh beberapa sektor. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat inflasi 0,97 persen (month-on-month) dengan andil 0,29 persen. “Hal ini seiring dengan tingginya permintaan komoditas pangan strategis selama Ramadan, jelang Idulfitri dan sisa momen Imlek 2026. Di momen HBKN biasanya masyarakat memang banyak berbelanja,” sebutnya.

Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya seperti emas perhiasan mencatat inflasi 2,66 persen (month-on-month). “Kenaikan ini didorong oleh harga emas yang melonjak drastis hingga rata-rata Rp3.085.000 per gram pada Februari 2026,” imbuhnya.

Samarinda Inflasi Tertinggi, TPID Perkuat Sinergi

Dari pantauan di beberapa daerah, Kota Samarinda menjadi wilayah dengan inflasi tertinggi di Kalimantan Timur, mencapai 5,29 persen. Sebaliknya, wilayah Kabupaten Penajam Paser Utara mencatatkan inflasi paling rendah, yakni 4,13 persen. Tekanan inflasi yang lebih tinggi berhasil tertahan oleh penurunan harga pada sektor transportasi, yaitu penurunan harga BBM non-subsidi pada awal Februari 2026 yang tercatat turun sekitar 3–4 persen. Kebijakan ini membantu menjaga stabilitas harga di tengah tingginya mobilitas masyarakat yang mulai bersiap untuk mudik Lebaran.

Menanggapi kondisi ini, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Kaltim terus memperkuat sinergi melalui strategi 4K:
* Keterjangkauan Harga: Memastikan harga tetap dalam jangkauan masyarakat.
* Ketersediaan Pasokan: Menjamin stok pangan tetap aman hingga hari H Lebaran.
* Kelancaran Distribusi: Memastikan alur barang dari produsen ke pasar tidak terhambat.
* Komunikasi Efektif: Memberikan informasi yang tepat kepada masyarakat agar tidak terjadi panic buying.

“Langkah pengendalian terus diperkuat agar masyarakat bisa menjalankan ibadah Ramadan dan merayakan Idul Fitri dengan tenang tanpa dihantui lonjakan harga yang ekstrem,” pungkas Jajang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *