Daerah  

Ramadan Pekan Ketiga: Harga Bahan Pokok Makassar Merosot

Stabilisasi Harga Bahan Pokok di Makassar Menjelang Idulfitri: Tinjauan Mendalam KPPU

Memasuki pekan ketiga Ramadan 2026, masyarakat Kota Makassar, Sulawesi Selatan, patut bernapas lega. Sejumlah komoditas bahan pokok terpantau mengalami tren penurunan harga yang signifikan, memberikan angin segar bagi para konsumen menjelang perayaan Idulfitri. Komoditas yang paling menonjol mengalami penurunan adalah daging ayam ras dan cabai rawit, dua bahan yang kerap menjadi indikator utama fluktuasi harga kebutuhan sehari-hari.

Penurunan harga ini terungkap melalui hasil inspeksi mendadak (sidak) yang dilaksanakan oleh Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Kantor Wilayah VI Makassar di Pasar Terong Makassar pada Senin, 9 Maret 2026. Berdasarkan pantauan di lapangan, harga daging ayam ras yang sebelumnya berada di kisaran Rp65.000 hingga Rp68.000 untuk dua kilogram, kini dapat ditemukan dengan harga Rp60.000 per dua kilogram. Hal serupa terjadi pada cabai rawit, yang sempat menyentuh angka Rp70.000 per kilogram, kini berangsur turun menjadi Rp60.000 per kilogram.

Faktor Penentu Penurunan Harga

Plt Kepala Kantor Wilayah VI KPPU Makassar, Hasiholan Pasaribu, menjelaskan bahwa kunci dari penurunan harga ini terletak pada pasokan komoditas yang masih terjaga dengan baik menjelang Idulfitri. Koordinasi yang lancar dengan para distributor menjadi faktor krusial. Hingga saat ini, tidak ada indikasi hambatan dalam alur distribusi yang dapat memicu kelangkaan atau penimbunan barang.

“Suplai sejauh ini aman, pasokan aman. Jadi ini menguntungkan konsumen dan pedagang. KPPU telah menjaga agar pasokan tidak terhambat, harapannya jangan sampai ada lonjakan harga di sisa Ramadan ini,” ujar Hasiholan dalam keterangannya di Makassar pada Senin, 9 Maret 2026.

Upaya KPPU untuk memastikan kelancaran distribusi ini merupakan langkah proaktif untuk mencegah spekulasi harga yang kerap terjadi menjelang hari raya. Dengan pasokan yang stabil, diharapkan daya beli masyarakat dapat terjaga dan kebutuhan rumah tangga dapat terpenuhi tanpa memberatkan.

Komoditas dengan Kenaikan Harga yang Terkendali

Meskipun mayoritas bahan pokok menunjukkan tren penurunan, terdapat beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga, namun dalam skala yang tidak signifikan. Salah satu contohnya adalah telur ayam ras. Harga telur yang sebelumnya dibanderol Rp55.000 per rak, kini mengalami sedikit kenaikan menjadi Rp58.000 per rak.

Namun demikian, kenaikan harga telur ayam ras ini tidak diiringi dengan kelangkaan stok. Para pedagang di Pasar Terong Makassar melaporkan bahwa pasokan telur dari distributor masih aman dan belum ada keluhan mengenai kekurangan barang. Hal ini menunjukkan bahwa kenaikan harga yang terjadi lebih disebabkan oleh dinamika permintaan dan penawaran di tingkat ritel, bukan karena masalah pada rantai pasok utama.

Stabilitas Beras dan Minyak Goreng

Komoditas strategis lainnya seperti beras dan minyak goreng dilaporkan masih berada dalam rentang harga yang stabil. Hasiholan Pasaribu menegaskan bahwa harga kedua komoditas ini, terutama yang berada di bawah pengawasan Badan Urusan Logistik (Bulog), masih sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan.

“Terkait dengan Minyakita masih sesuai dengan HET-nya. Tadi teman-teman lihat sendiri ada Minyakita yang kita juga sudah survei itu masih sesuai dengan HET. Stoknya masih terkendali,” jelas Hasiholan.

Kestabilan harga beras dan minyak goreng sangat krusial bagi masyarakat, terutama bagi rumah tangga dengan pendapatan terbatas. Ketersediaan kedua bahan pokok ini dengan harga yang terjangkau sangat membantu dalam menjaga stabilitas ekonomi rumah tangga selama bulan Ramadan dan menjelang Idulfitri.

Perspektif Pedagang: Dinamika Cabai Rawit

Seorang pedagang bahan pokok di Pasar Terong Makassar, Herman, turut memberikan pandangannya mengenai pergerakan harga bahan pokok. Ia membenarkan bahwa harga cabai rawit sempat mengalami lonjakan di awal Ramadan. Namun, dalam beberapa hari terakhir, harga komoditas ini justru menunjukkan tren penurunan.

Herman menjelaskan bahwa melimpahnya stok cabai rawit di tingkat distributor menjadi penyebab utama turunnya harga. Selain itu, permintaan terhadap cabai rawit dari konsumen juga belum terlalu tinggi.

“Harga cabai rawit memang sempat naik, tapi turun lagi sekarang. Biasanya akan naik lagi nanti mendekati Lebaran. Mudah-mudahan saja stok di distributor tidak kurang,” ungkap Herman.

Pandangan Herman ini menggarisbawahi bahwa harga cabai rawit berpotensi kembali mengalami kenaikan menjelang Idulfitri. Hal ini disebabkan oleh peningkatan permintaan yang biasanya terjadi seiring dengan tradisi memasak hidangan khas Lebaran. KPPU dan para pemangku kepentingan diharapkan dapat terus memantau situasi ini agar lonjakan harga yang drastis dapat dihindari.

Secara keseluruhan, upaya pemantauan dan stabilisasi harga bahan pokok yang dilakukan oleh KPPU di Makassar menunjukkan hasil yang positif. Penurunan harga pada komoditas penting seperti daging ayam dan cabai rawit, serta kestabilan pada beras dan minyak goreng, memberikan kelegaan bagi masyarakat. Meskipun ada sedikit kenaikan pada telur, pasokan yang aman meminimalisir dampak negatifnya. Keberhasilan ini menjadi bukti pentingnya koordinasi yang baik antarlembaga dan pelaku usaha dalam menjaga stabilitas pasar, terutama di momen-momen krusial seperti menjelang hari raya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *