Dokter Baru Unusa Disumpah, Rektor Ingatkan Pentingnya Integritas dan Empati

Teks Foto : Para dokter baru disumpah dan diminta mengedepankan integritas, adab, empati, kepedulian terhadap pasien di tengah perkembangan teknologi kesehatan dan kecerdasan buatan (AI). (ist)

SURABAYA – Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) kembali melantik dan mengambil sumpah dokter baru Fakultas Kedokteran (FK) Unusa, Kamis (13/8/2026).

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi kesehatan dan kecerdasan buatan (AI), para dokter baru Unusa diminta tidak hanya menguasai kompetensi klinis, tetapi juga menjunjung tinggi integritas, adab, serta empati dalam menjalankan profesinya.

Rektor Unusa, Prof. Tri Yogi Yuwono, mengatakan sumpah dokter yang diikrarkan bukan sekadar formalitas untuk memenuhi persyaratan profesi. Menurutnya, sumpah tersebut merupakan janji moral yang harus melekat sepanjang perjalanan pengabdian seorang dokter.

“Profesi dokter harus kalian dudukkan sebagai sebuah panggilan kemanusiaan, bukan alat mengejar materi semata,” ujar Tri Yogi dalam sambutannya.

Menurutnya, dokter lulusan Unusa memiliki tanggung jawab moral yang besar karena dididik dalam lingkungan yang menjunjung nilai Rahmatan lil ‘Alamin. Karena itu, ilmu kedokteran harus berjalan beriringan dengan akhlak dan kepedulian terhadap sesama.

Pesan tersebut dinilai semakin penting di tengah berbagai tantangan pelayanan kesehatan, termasuk persoalan etika dan empati di ruang digital. Tri Yogi menyinggung kasus almarhum Yurizal Tri Chaerawan, pasien yang sebelumnya menyampaikan keluhan terkait pelayanan kesehatan melalui media sosial.

“Kejadian memilukan seperti itu tidak boleh terjadi lagi. Saya haramkan perbuatan nirempati itu keluar dari jari atau lisan seorang dokter lulusan Unusa,” tegasnya.

Enam Pilar Dokter Unusa

Dalam kesempatan tersebut, Tri Yogi menitipkan enam karakter yang harus menjadi bagian dari kepribadian setiap dokter lulusan Unusa, yakni integritas, adab, sopan santun, empati, solidaritas, dan menghormati sesama.

Integritas diperlukan agar dokter tetap teguh memegang prinsip moral, baik ketika menjalankan praktik maupun saat berkomunikasi di ruang digital. Sementara adab dan sopan santun menjadi bagian penting dalam membangun hubungan yang baik antara dokter dan pasien.

Adapun empati, lanjut Tri Yogi, diperlukan agar dokter mampu memahami kondisi pasien yang datang untuk mendapatkan pertolongan. Pasien tidak hanya menghadapi persoalan kesehatan, tetapi juga dapat berada dalam kondisi takut, sakit, dan cemas.

“Pasien adalah amanah kudus, bukan beban,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan para dokter untuk memberikan pelayanan secara adil tanpa membedakan latar belakang sosial maupun kondisi pasien. Keenam karakter tersebut diharapkan menjadi ciri yang membedakan dokter lulusan Unusa di tengah masyarakat.

Melek Teknologi, Tetap Menjaga Nurani

Tri Yogi juga mengingatkan para dokter baru bahwa mereka memasuki dunia kedokteran yang berkembang sangat cepat. Perkembangan AI, telemedicine, genomik, big data, hingga berbagai teknologi kesehatan telah mengubah cara kerja profesi kedokteran.

“Dunia kedokteran masa depan adalah dunia yang sangat bergantung pada inovasi dan teknologi interdisipliner,” katanya.

Meski demikian, ia menegaskan teknologi tidak boleh membuat dokter kehilangan sentuhan kemanusiaan. AI dan berbagai teknologi kesehatan dapat membantu meningkatkan kualitas pelayanan, tetapi tidak dapat menggantikan nilai kemanusiaan yang menjadi inti profesi dokter.

“Teknologi medis akan terus berubah, penyakit baru akan terus muncul, namun esensi kemanusiaan dari seorang dokter tidak akan pernah bisa digantikan oleh teknologi secanggih apa pun,” ujarnya.

Karena itu, para dokter baru diminta menjadi lifelong learner atau pembelajar sepanjang hayat. Gelar dokter yang diterima bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan awal perjalanan untuk terus memperbarui kompetensi seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Tri Yogi juga berpesan kepada para dokter baru yang akan menjalani program internship dan mengabdi di berbagai fasilitas kesehatan di Indonesia agar senantiasa menjaga nama baik almamater.

“Di mana pun kalian ditempatkan, jaga nama baik almamater Unusa. Kibarkan bendera Unusa melalui prestasi, dedikasi, dan akhlakul karimah yang kalian tunjukkan kepada masyarakat,” pesannya.

Kepada para orang tua, Tri Yogi menyampaikan apresiasi atas dukungan yang diberikan hingga putra-putri mereka mampu menyelesaikan pendidikan kedokteran.

“Kepada para dokter baru, selamat berjuang, selamat mengabdi. Selamat menyelamatkan kehidupan. Jadilah lilin yang menerangi kegelapan, dan jadilah rahmat bagi alam semesta,” pungkasnya.