Ekonomi Syariah untuk Semua, Fesyar Jawa 2026 Hadir dengan Konsep One-Stop Services

Teks Foto : salah satu booth fashion yang ada di Festival Ekonomi Syariah (Fesyar) Regional Jawa 2026 di Grand City Surabaya dengan menghadirkan UMKM, forum edukasi, layanan ekonomi syariah, serta berbagai kompetisi. (ist)

SURABAYA – Festival Ekonomi Syariah (Fesyar) Regional Jawa 2026 resmi dimulai di Grand City Surabaya, Jumat (25/9/2026). Bank Indonesia (BI) mengemas agenda tahunan tersebut dengan cakupan kegiatan yang lebih beragam untuk memperluas pemahaman sekaligus mendorong partisipasi masyarakat dalam ekosistem ekonomi dan keuangan syariah.

Koordinator Fesyar Jawa 2026, Yono Haryono, mengatakan penyelenggaraan tahun ini dirancang dalam tiga kelompok kegiatan utama, yakni Sharia Forum, Sharia Fair, serta berbagai kompetisi.

Menurutnya, Sharia Forum menjadi ruang edukasi melalui seminar dan talkshow yang membahas isu serta perkembangan ekonomi dan keuangan syariah. Sementara Sharia Fair menghadirkan produk-produk dari UMKM binaan BI yang berasal dari 14 kantor perwakilan di Pulau Jawa.

“Di Sharia Fair kami menghadirkan UMKM mitra Bank Indonesia dari 14 kantor perwakilan se-Jawa, khususnya yang bergerak di sektor modest fashion dan halal food,” ujar Yono.

Tidak hanya menyasar pelaku usaha dan masyarakat umum, Fesyar Jawa 2026 juga memberikan ruang bagi generasi muda untuk menunjukkan kemampuan di bidang akademik maupun seni.

Sejumlah kompetisi digelar dengan peserta dari berbagai jenjang pendidikan. Di antaranya final Olimpiade Ekonomi Syariah Nasional se-Jawa, lomba hadroh, nasyid, hingga kompetisi robotik yang diperuntukkan bagi siswa sekolah dasar.

Tahun ini, BI juga membawa perubahan pada konsep penyelenggaraan Fesyar Jawa. Jika pada tahun sebelumnya kegiatan dipusatkan di Masjid Al-Akbar Surabaya, seluruh rangkaian Fesyar 2026 kini berlangsung di Grand City Surabaya.

Yono menyebut pemilihan lokasi tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas akses masyarakat terhadap kegiatan ekonomi dan keuangan syariah.

“Kalau di masjid terkesan eksklusif untuk umat Muslim saja. Dengan digelar di Grand City, inklusivitasnya dapat. Siapa pun, termasuk non-Muslim, kami undang untuk hadir karena ekonomi syariah ini pada dasarnya bersifat inklusif untuk semua pihak,” katanya.

Menurut dia, penggunaan venue dengan kapasitas yang lebih besar juga membuka kesempatan bagi lebih banyak pihak untuk terlibat. Mulai dari pelaku usaha syariah, lembaga keuangan, otoritas terkait, hingga pemerintah daerah.

Tak berhenti pada pameran produk, Fesyar Jawa 2026 turut membawa konsep one-stop services. Melalui konsep tersebut, masyarakat dan pelaku usaha dapat memperoleh berbagai informasi serta layanan yang berkaitan dengan ekosistem ekonomi syariah dalam satu lokasi.

Pengunjung dapat melihat dan membeli produk UMKM unggulan, sekaligus memperoleh informasi mengenai proses sertifikasi halal, layanan pembiayaan dari perbankan syariah, hingga layanan lembaga amil zakat (LAZ).

Yono menambahkan, Fesyar Jawa 2026 diharapkan menjadi ruang kolaborasi bagi berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di Jawa.

“Event Fesyar ini merupakan bentuk ‘wakaf’ dari Bank Indonesia. Siapa saja yang memiliki semangat sama untuk mengembangkan ekonomi dan keuangan syariah di Jawa, khususnya Surabaya, sangat kami sambut untuk meramaikan,” pungkasnya.