SURABAYA – Di saat industri fesyen bergerak semakin cepat dengan produksi berbasis mesin, Batik Tuban Lokcan memilih jalur berbeda. Usaha yang digerakkan Carlina Ita Ratna Yunita itu tetap mempertahankan proses tradisional dalam menghasilkan Tenun Gedog dan Batik Tulis khas Tuban, Jawa Timur.
Bagi Ita, mempertahankan cara produksi warisan leluhur bukan berarti menutup diri dari perkembangan pasar. Justru, proses yang panjang dan dikerjakan secara manual menjadi nilai tambah yang membuat produknya memiliki karakter sekaligus daya jual tersendiri.
Upaya menjaga keaslian produk bahkan dilakukan sejak tahap paling awal. Batik Tuban Lokcan membangun ekosistem produksi yang melibatkan masyarakat dan perajin lokal. Ita juga menanam kapas secara mandiri di lahan khusus untuk memastikan bahan baku yang digunakan tetap terjaga.
Setelah dipanen, kapas diproses secara manual hingga menjadi benang. Benang tersebut kemudian ditenun menggunakan alat tradisional sebelum masuk ke tahap pembuatan batik melalui proses pencantingan dan pewarnaan dengan racikan khusus.
Rangkaian produksi yang seluruhnya mengandalkan keterampilan tangan itu membuat pengerjaan kain membutuhkan waktu relatif panjang. Satu batch kain dapat memerlukan waktu hingga sekitar satu bulan, mulai dari kapas dipetik hingga menjadi kain siap digunakan.
“Seluruh rantai produksi kami lakukan secara berurutan. Butuh waktu sekitar satu bulan dari kapas dipetik sampai jadi sehelai kain,” ujar Ita disela-sela opening ceremony Festival Ekonomi Syariah (Fesyar) Regional Jawa 2026 di Grand City Surabaya, (26/09/26) Sabtu.
Menurut Ita, lamanya proses tersebut justru menjadi bagian penting dari nilai produk yang ditawarkan. Setiap kain memiliki proses pengerjaan dan sentuhan perajin yang membuat hasil akhirnya tidak sekadar menjadi produk fesyen, tetapi juga membawa cerita mengenai tradisi dan budaya masyarakat Tuban.
Dari sisi bisnis, pilihan mempertahankan produksi tradisional juga memberikan hasil yang cukup menjanjikan. Dalam kondisi normal, Batik Tuban Lokcan mampu mencatat omzet rata-rata sekitar Rp50 juta setiap bulan.
Potensi pendapatan tersebut dapat meningkat ketika produk dibawa ke berbagai pameran berskala nasional maupun diperkenalkan melalui peragaan busana. Menurut Ita, omzet bulanan bahkan dapat mencapai sekitar Rp100 juta ketika mengikuti pameran besar dan agenda fashion show di sejumlah kota metropolitan.
“Omzet bisa melonjak drastis hingga menyentuh angka Rp100 juta per bulan kalau kami aktif mengikuti pameran besar dan catwalk di kota-kota metropolitan seperti Jakarta,” katanya.
Karena itu, Ita memandang pameran bukan hanya sebagai sarana transaksi. Kehadiran Batik Tuban Lokcan di berbagai ajang juga menjadi kesempatan untuk mengenalkan proses pembuatan kain tradisional sekaligus membuka akses pasar baru.
Ia berharap semakin banyak masyarakat mengenal Tenun Gedog dan Batik Tulis Tuban bukan sekadar sebagai produk kerajinan, tetapi sebagai bagian dari kekayaan budaya yang memiliki nilai ekonomi.
Melalui pendekatan tersebut, Batik Tuban Lokcan berupaya menunjukkan bahwa tradisi dan bisnis dapat berjalan beriringan. Ketika proses produksi yang diwariskan secara turun-temurun mampu dipertahankan sekaligus dikemas sesuai kebutuhan pasar, kain tradisional pun memiliki peluang untuk menembus pasar yang lebih luas.






