OJK Beberkan Risiko Ekonomi Global dan Ketahanan Indonesia

Teks Foto : Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi saat menyampaikan paparan dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan September 2026 secara daring. (ist)

SURABAYA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan stabilitas sektor jasa keuangan nasional masih terjaga meski perekonomian global dihadapkan pada ketidakpastian geopolitik dan arah kebijakan moneter yang masih ketat.

Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan, kondisi ekonomi Indonesia relatif mampu bertahan di tengah berbagai tekanan eksternal. Salah satu faktor yang mendukung ketahanan tersebut adalah inflasi domestik yang masih berada dalam sasaran pemerintah.

“Terjaganya inflasi mendorong permintaan domestik dan tingkat konsumsi masyarakat tetap kuat dan menopang pertumbuhan ekonomi nasional,” kata Friderica dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan September 2026 yang digelar secara daring, Senin (5/10/2026).

Perempuan yang akrab disapa Kiki itu menjelaskan, ekonomi global pada 2026 diperkirakan tumbuh lebih lambat dibandingkan tahun sebelumnya. Meski demikian, proyeksi tersebut telah mengalami perbaikan dibandingkan perkiraan sebelumnya.

Salah satu penopang pertumbuhan global berasal dari meningkatnya investasi dan aktivitas perdagangan yang berkaitan dengan pengembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Namun, prospek tersebut masih dibayangi sejumlah risiko. Ketegangan geopolitik yang kembali meningkat berpotensi menekan harga minyak dan mendorong inflasi global.

Tekanan terhadap harga juga dapat diperkuat oleh fenomena El Nino yang berisiko memengaruhi produksi serta harga pangan dan berbagai komoditas pertanian.

“Kenaikan inflasi telah memicu kebijakan suku bunga global higher for longer, ditandai dengan kenaikan suku bunga kebijakan di Amerika Serikat, Eropa dan Jepang,” ujarnya.

Selain suku bunga, Kiki mencermati peningkatan imbal hasil obligasi pemerintah di sejumlah negara yang telah mencapai level tinggi dalam beberapa dekade terakhir.

Kondisi tersebut, lanjut dia, antara lain berkaitan dengan kebutuhan pembiayaan pemerintah yang semakin besar. Di sisi lain, perusahaan hyperscaler juga meningkatkan penerbitan obligasi jangka panjang untuk membiayai investasi di bidang AI.

Meski lingkungan ekonomi global masih penuh tantangan, indikator perekonomian Indonesia menunjukkan perkembangan yang relatif positif.

Salah satu sinyal tersebut terlihat dari keputusan OECD yang menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 sebesar 0,5 persen.

Kiki menilai peningkatan proyeksi itu menjadi gambaran atas masih kuatnya kepercayaan global terhadap kemampuan Indonesia menjaga ketahanan ekonomi di tengah ketidakpastian dunia.

“Ini menunjukkan bahwa ketahanan ekonomi Indonesia masih dinilai cukup baik di tengah berbagai dinamika global,” pungkasnya.