Desainer Phillip Iswardono Gelar Pameran Mode di Yogya

Pameran Instalasi dan Fashion Show oleh Phillip Iswardono

Desainer Phillip Iswardono kembali menghadirkan karya seni yang memukau lewat pameran instalasi sekaligus fashion show bertajuk Menyuluh Wastra Menoreh Jejak. Acara ini diselenggarakan di Taman Budaya Yogyakarta (TBY) pada 2-3 Mei 2026. Berbeda dari desainer lainnya yang biasanya hanya menampilkan karyanya di atas panggung, Philip juga menyajikan pameran instalasi sebagai wujud perayaan 20 tahun perjalanan kreatifnya di industri mode Tanah Air.

Konsep Unik dalam Pameran

Pengunjung yang masuk ke ruang pameran langsung disambut dengan konsep fashion art installation yang memperlihatkan perjalanan masa lalu dan dapur kreatif sang desainer. Puluhan karya unik digantung melayang di langit-langit menggunakan bilah kayu bersilang, menciptakan efek hutan pakaian. Pengunjung dapat berjalan bebas di bawahnya untuk mengamati detail motif lurik, tenun, dan batik yang dipotong dengan gaya kontemporer.

Selain itu, saat pengunjung semakin mendekati bagian dalam ruang pamer, mereka akan disambut instalasi akar produksi busana berupa deretan alat pintal kayu tradisional serta ratusan gulungan benang warna-warni yang berserakan di lantai. Simbolisasi ini merepresentasikan aliran ide yang tak pernah putus.

Kehadiran mesin jahit manual kuno, setrika arang, serta kolase pola desain busana dari kertas koran di dinding pameran semakin memperkuat atmosfer nostalgia sekaligus memperlihatkan kerumitan fase awal dalam merancang sebuah karya mode.

Di salah satu sudut ruang pamer, terdapat suasana dramatis dengan adanya instalasi manekin dalam kurungan bambu raksasa dan busana-busana yang digantung melingkar. Instalasi ini melambangkan upaya pelestarian tradisi di tengah perubahan zaman.

Di tengah ruangan dekat panggung utama catwalk, sederet mesin tenun kayu besar disorot lampu merah yang memberikan kesan sakral. Hal ini seolah mengingatkan bahwa setiap helai kain lahir dari proses yang sangat personal dan memakan waktu lama.

Wastra bagi saya bukan sekadar kain, namun ruang ingatan dan identitas perjalanan tradisi bangsa yang bergerak bersama dengan ciri berbeda,” kata Phillip Iswardono ditemui di sela pameran, Sabtu, 2 Mei 2026.

Eksplorasi Wastra Nusantara

Dalam berkarya, Phillip selalu terselip keinginan untuk menghidupkan kembali nilai-nilai sakral wastra sebagai identitas Indonesia yang beragam. Melalui pameran tunggalnya tersebut, ia ingin merefleksikan eksplorasi mendalamnya terhadap wastra Nusantara dari tujuh wilayah Indonesia. Yakni Badui, Jawa, Palembang, NTT, NTB, Bali, dan Makassar.

“Saya melibatkan 74 model yang masing-masing membawakan satu busana secara eksklusif,” ujar dia.

Alhasil, pergelaran ini menjadi ruang yang menyuguhkan dialog antara nilai tradisi dan inovasi kontemporer dalam satu panggung yang megah dan bersahaja. Phillip menegaskan pencapaian ini bukan sekadar perayaan pribadi, melainkan sebuah dedikasi untuk mengangkat martabat budaya daerah.

“Persembahan ini bukan karena saya, tetapi untuk Yogyakarta dan tentunya untuk Indonesia,” ujar Phillip.

Kolaborasi dan Tujuan Pameran

Project Manager pergelaran, Nyudi Dwijo, mengungkapkan bahwa konsep imersif dalam perhelatan ini dirancang agar audiens tidak hanya menyaksikan busana, tetapi juga memahami perjalanan kreatif di baliknya. “Gelaran ini tak sekadar pameran fashion, namun dikemas unik menggabungkan seni instalasi fashion agar lebih menarik dan berbeda,” kata Nyudi.

Maestro batik yang juga desainer kenamaan Yogyakarta, Afif Syakur yang menjadi penasehat pameran itu mengungkap kolaborasi pameran dan fashion show Philip ini mengusung misi agar posisi wastra tetap relevan dalam konteks modern.

“Dedikasi seorang desainer dalam mengabdi pada kebudayaan dapat dilakukan dalam berbagai cara, salah satunya memotrer segala kekayaan budaya Indonesia seperti yang dilakukan Philip,” ujarnya.

Target Audiens dan Keterlibatan Generasi Muda

Pada hari kedua pergelaran ini, 3 Mei 2026, pameran ini dibuka untuk umum dengan target para pelajar SMK dan mahasiswa tata busana. Hal ini dilakukan untuk membuka ruang berbagi pengetahuan generasi muda dengan sang desainer.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *