Ketegangan Geopolitik antara AS dan Iran Memanas di Medan Perang dan Narasi
Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran semakin memanas, tidak hanya di medan perang tetapi juga dalam perang narasi. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menuduh Pentagon memanipulasi angka biaya konflik, sementara Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menghadapi tekanan dari Kongres.
Dalam pernyataannya di platform X, Araghchi menyebut bahwa biaya perang yang dikeluarkan Washington telah mencapai USD 100 miliar (sekitar Rp 1.600 triliun), jauh di atas angka resmi yang diklaim Pentagon sebesar USD 25 miliar. Ia menuding bahwa Pentagon berbohong dan bahwa taruhan Benjamin Netanyahu telah secara langsung membebani Amerika hingga USD 100 miliar sejauh ini, empat kali lipat dari yang diklaim.
Dia juga memperingatkan bahwa dampak ekonomi perang dirasakan langsung oleh warga AS, dengan rata-rata beban mencapai sekitar 500 dolar per bulan per rumah tangga. Itu belum termasuk biaya tidak langsung yang disebutnya jauh lebih besar.
Kongres AS Serang Pentagon: Biaya Membengkak hingga Alasan Perang Dipertanyakan
Sebelumnya, di Washington, Hegseth menjadi sasaran kritik tajam dalam sidang panas di bawah pemerintahan Donald Trump. Para legislator, khususnya dari Partai Demokrat, menyoroti konflik mahal yang dinilai berjalan tanpa persetujuan Kongres. Dalam forum tersebut, Pentagon mempertahankan angka biaya perang di kisaran 25 miliar dolar AS, sembari mengajukan proposal anggaran militer 2027 yang mencapai USD 1,5 triliun, rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Tokoh Demokrat seperti Adam Smith dan John Garamendi menuduh pemerintah tidak transparan, bahkan menyesatkan publik soal alasan perang. “Anda telah berbohong kepada rakyat Amerika sejak hari pertama,” kata Garamendi dalam sidang. Hegseth menepis tudingan tersebut dan menyebut kritik sebagai serangan politik.
Dampak Global: Selat Hormuz Ditutup
Konflik juga berdampak langsung pada ekonomi global setelah Iran menutup Selat Hormuz, jalur utama distribusi minyak dunia. Langkah ini memicu lonjakan harga bahan bakar dan meningkatkan tekanan politik di dalam negeri AS. Sebagai respons, militer AS mengerahkan kekuatan besar ke Timur Tengah, termasuk tiga kapal induk sekaligus. Itu pertama kali dilakukan dalam lebih dari 20 tahun.
Pernyataan keras dari Abbas Araghchi menambah dimensi baru dalam konflik ini, memperlihatkan bahwa perang tidak hanya terjadi di lapangan. Tapi juga dalam perebutan opini publik global. Di satu sisi, Pentagon berupaya mempertahankan legitimasi dan angka resmi. Di sisi lain, Iran berusaha membangun narasi bahwa beban perang jauh lebih besar dari yang diakui Washington.
Dampak Perang bagi Warga Sipil Iran
Sementara itu, dampak perang terasa nyata bagi warga sipil Iran. Laporan media lokal menyebut puluhan warga Teheran yang mengungsi akibat perang selama 40 hari dengan AS dan Israel kini diminta meninggalkan hotel tempat penampungan sementara, meski rumah mereka tidak layak huni. Sejumlah warga mengaku menerima instruksi dari otoritas kota untuk keluar dalam waktu dekat, meski inspeksi resmi menyatakan hunian mereka rusak parah akibat serangan rudal.
“Saya diminta keluar dari hotel akhir pekan ini, padahal rumah saya tidak aman dan saya tidak punya tempat lain,” ujar salah satu warga. Banyak dari mereka juga mengeluhkan tidak adanya bantuan sewa atau dukungan finansial yang memadai. Bahkan, sebagian harus mencari tempat tinggal sendiri tanpa bantuan pemerintah.
Pemerintah sebelumnya menjanjikan bantuan berupa tempat tinggal sementara, subsidi sewa, hingga dukungan rekonstruksi. Namun, realisasinya dinilai tidak konsisten. Beberapa warga mengatakan bantuan yang diterima tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar, bahkan harus mengeluarkan biaya sendiri terlebih dahulu sebelum diganti, dengan waktu tunggu hingga 10 bulan.
“Kami kehilangan segalanya. Dengan bantuan itu, kami hanya bisa membeli beberapa barang dasar,” kata seorang korban. Dengan rata-rata pendapatan di Iran hanya sekitar USD 150–200 per bulan, banyak keluarga kini kesulitan membangun kembali kehidupan mereka dan terancam kehilangan tempat tinggal.






