BERITA  

Geliat Peternak Sapi Jumbo di Blora Menjelang Iduladha

Kembangkan Usaha Ternak Sapi Jumbo di Desa Beganjing

Menjelang Hari Raya Iduladha 2026, aktivitas peternakan sapi di Desa Beganjing, Kecamatan Japah, Kabupaten Blora, mulai menggeliat. Salah satu peternak setempat, Kasno, telah menyiapkan puluhan sapi berukuran jumbo untuk memenuhi permintaan pasar, khususnya dari Jakarta Utara.

Kasno yang juga menjabat sebagai Kepala Desa Beganjing ini menyampaikan bahwa permintaan sapi kurban berukuran besar terus meningkat setiap tahun. Ia pun secara khusus fokus memelihara sapi dengan bobot mendekati satu ton hingga lebih dari satu ton.

“Untuk persiapan Iduladha tahun ini, saya memang terbiasa memelihara sapi ukuran jumbo karena banyak pesanan dari Jakarta. Targetnya bobot mendekati 1 ton, bahkan ada yang sampai 1 ton lebih,” katanya.

Selama kurang lebih 15 tahun, Kasno rutin mengirim sapi ke Jakarta. Dalam satu musim Idul Adha, ia bisa mengirim hingga 125 ekor sapi jumbo. Sementara itu, sapi ukuran sedang hingga kecil umumnya dipelihara oleh warga sekitar.

“Kalau yang sedang dan kecil banyak dipelihara masyarakat sini. Saya fokus di jumbo karena perawatannya lebih khusus dan tidak semua peternak sanggup,” jelasnya.

Proses Perawatan Sapi Jumbo

Untuk menghasilkan sapi berukuran besar, Kasno memulai perawatan sejak sapi masih kurus. Ia sering kali membeli bakalan sapi, kemudian digemukkan. Dia memberikan pakan bernutrisi seperti bekatul dan konsentrat yang dicampur agar meningkatkan nafsu makan.

“Setiap hari saya kasih bekatul sekitar lima piring, konsentratnya tiga piring, dicampur jadi satu. Tujuannya supaya dagingnya padat, tidak lembek,” jelasnya.

Dalam waktu minimal 9 bulan hingga satu tahun, sapi-sapi tersebut mengalami peningkatan bobot signifikan. Bahkan, salah satu sapi miliknya yang awalnya dibeli seharga Rp26,5 juta kini memiliki bobot lebih dari 1 ton dan dijual dengan harga mendekati Rp100 juta.

“Biasanya saya jual di bawah Rp 100 juta, sekitar Rp 90 jutaan di Jakarta, karena ini saya kan ternak sendiri,” imbuhnya.

Pemilihan Bakalan Sapi

Dalam memilih bakalan sapi yang berpotensi menjadi jumbo, Kasno memiliki kriteria khusus. Dia menekankan pentingnya memperhatikan struktur tubuh sejak awal.

“Kalau pilih bakalan, saya lihat dari kakinya dulu, harus tegap dan lurus. Lalu punggungnya datar, dan kepalanya agak besar. Biasanya itu punya potensi tumbuh besar,” terangnya.

Menurutnya, pemilihan bakalan yang tepat sangat menentukan hasil akhir, karena tidak semua sapi bisa tumbuh maksimal meski diberi pakan yang sama. Di kandangnya, Kasno memelihara berbagai jenis sapi unggulan, di antaranya limosin, simental, peranakan ongole (PO), brangus, hingga pegon. Beragam jenis tersebut dipilih karena memiliki potensi pertumbuhan yang baik jika dirawat secara optimal.

“Jenisnya macam-macam, ada limosin, simental, PO, brangus, pegon. Semua punya keunggulan masing-masing, tapi kalau dirawat dengan baik hasilnya bisa maksimal,” terangnya.

Dia menambahkan, kualitas pakan sangat berpengaruh terhadap bentuk tubuh sapi, termasuk kepadatan daging.

“Kalau cuma rumput saja tidak cukup. Harus ada tambahan nutrisi supaya tubuhnya bisa besar, padat, dan proporsional,” katanya.

Tantangan dalam Usaha Ternak Sapi

Meski usaha ternak sapi jumbo terbilang menjanjikan, Kasno mengakui adanya risiko besar. Salah satunya saat wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) melanda. Dia bahkan pernah mengalami kerugian ketika harus membawa pulang puluhan sapi dari Jakarta karena terindikasi penyakit PMK.

“Selama 15 tahun, kerugian paling terasa ya saat PMK itu. Waktu itu saya sampai bawa pulang 26 ekor sapi dari Jakarta karena kondisinya pincang dan tidak laku,” ujarnya.

Alih-alih dijual, sapi-sapi tersebut kembali dirawat di kandang selama kurang lebih satu tahun hingga kondisinya pulih dan layak jual kembali.

Untuk penanganan PMK, Kasno menerapkan beberapa langkah perawatan khusus. Sapi yang terjangkit PMK dipindahkan ke kandang tanah agar kaki yang sakit tidak semakin parah akibat lantai keras.

“Kalau kena PMK, kakinya pasti sakit dan bengkak. Jadi harus dipindah ke kandang tanah supaya lebih empuk,” jelasnya.

Selain itu, ia juga memberikan ramuan tradisional yang terdiri dari daun sirih, madu, telur, serta tambahan vitamin yang dicampur dan diberikan secara rutin.

“Perawatannya cukup lama, bisa sampai 9 bulanan lebih supaya benar-benar pulih. Alhamdulillah, bisa sembuh meski tidak langsung normal,” terangnya.

Proses Distribusi dan Pengiriman

Selain penyakit, tantangan lain juga datang dari proses distribusi. Menurut Kasno, risiko terbesar saat pengiriman adalah ketika menurunkan sapi dari truk, terutama untuk sapi berukuran besar.

“Kalau proses pengiriman, alhamdulillah aman. Tapi, saat proses menurunkan sapi dari truk yang harus hati-hati, karena kalau sampai terpeleset bisa fatal,” katanya.

Meski demikian, selama 15 tahun menjalankan usaha, dia mengaku belum pernah mengalami kematian sapi saat pengiriman.

Kasno mengatakan, usaha ternak sapi sudah digelutinya sejak muda. Berawal dari tiga ekor sapi, kini ia mampu mengembangkan usahanya sampai jumlah sapinya terus berkembang.

“Saya memang hobi dari kecil. Dari tiga ekor, saya kembangkan terus sampai sekarang. Alhamdulillah hasilnya bisa seperti ini,” terangnya.

Dia juga menilai, potensi ternak sapi jumbo masih sangat menjanjikan, asalkan didukung pola perawatan dan pakan yang tepat.

“Sapi di Blora itu banyak sekali, cuman memang perawatan dari petani kurang. Artinya pola makannya seperti ini pakai bekatul, pakai konsentrat, kalau sapi cuma dikasih makan rumput saja, saya yakin enggak bisa tumbuh besar dan badan gemuk itu tidak mungkin, karena protein dan gizinya kurang,” paparnya.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *