FIFA Kekuasaan, Dua Negara dengan Penonton Terbanyak Belum Miliki Hak Siar Piala Dunia 2026

Persiapan Piala Dunia 2026 yang Menghadapi Tantangan

Piala Dunia 2026, yang akan digelar pada 11 Juni hingga 19 Juli di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, tinggal menghitung hari. Ajang sepak bola terbesar di dunia ini akan menarik perhatian jutaan penonton dari seluruh dunia. Namun, FIFA kini menghadapi tantangan besar dalam hal hak siar televisi, terutama di negara-negara dengan jumlah penonton terbesar.

India dan China, dua negara dengan populasi terbesar di dunia, masih belum mencapai kesepakatan untuk membeli hak siar Piala Dunia 2026. Hal ini berpotensi menyebabkan kekecewaan bagi jutaan penggemar sepak bola di kedua negara tersebut.

Di India, Reliance-Disney menawarkan dana sebesar 20 juta dolar AS (sekitar Rp350 miliar) untuk mendapatkan hak siar Piala Dunia 2026. Namun, FIFA tidak setuju karena tawaran ini dinilai jauh lebih rendah dari permintaan mereka. Sebelumnya, FIFA menuntut sekitar 100 juta dolar AS untuk hak siar Piala Dunia 2026 dan 2030. Dalam Piala Dunia 2022 lalu, Reliance berhasil memperoleh hak siar dengan nilai sekitar 60 juta dolar AS, yang diumumkan sekitar 14 bulan sebelum turnamen dimulai.

Turnamen tersebut berhasil menarik lebih dari 110 juta penonton daring di berbagai platform. Setelah itu, Reliance dan Disney membentuk usaha patungan untuk menjadi kekuatan dominan di sektor media dan streaming di India. Meski tawaran 20 juta dolar AS menunjukkan kekuatan negosiasi mereka, sumber mengatakan bahwa situasi keuangan tidak memungkinkan mereka untuk memenuhi permintaan FIFA.

Seorang sumber menjelaskan bahwa Reliance-Disney merasa bahwa Piala Dunia 2026 akan memiliki jumlah penonton yang lebih rendah di India karena pertandingan akan diadakan di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Banyak pertandingan akan disiarkan setelah tengah malam di India, yang bisa mengurangi minat penonton.

Selain Reliance-Disney, Sony juga memutuskan untuk tidak membeli hak siar dari FIFA karena alasan ekonomi. Perhitungan menunjukkan bahwa harga yang ditawarkan oleh FIFA tidak layak bagi mereka.

Sementara itu, China juga masih belum mencapai kesepakatan meskipun menjadi salah satu negara dengan jam tayang terbanyak dalam Piala Dunia 2022. Bersama dengan India, kedua negara ini menyumbang lebih dari 22 persen dari total penonton Piala Dunia daring global.

Dengan semakin dekatnya Piala Dunia 2026, fakta bahwa India dan China masih belum memiliki hak siar tentu akan menimbulkan kepanikan bagi FIFA. Hal ini dapat secara signifikan mengurangi jumlah penonton langsung di televisi secara global.

Di Asia Tenggara, hingga awal Mei, hanya enam dari 11 negara di kawasan tersebut yang telah mengamankan hak siar untuk Piala Dunia 2026, termasuk Indonesia melalui saluran TVRI. Negara-negara dengan basis penggemar besar seperti Thailand dan Malaysia masih dalam ketidakpastian. Negosiasi untuk memperoleh hak siar televisi Piala Dunia 2026 belum menunjukkan terobosan apa pun.

Tantangan di Berbagai Wilayah

Selain India dan China, beberapa negara lain juga menghadapi kendala dalam negosiasi hak siar. Di Asia Tenggara, hanya sedikit negara yang sudah memperoleh hak siar. Sementara itu, negara-negara dengan basis penggemar besar seperti Thailand dan Malaysia masih dalam proses negosiasi yang belum menunjukkan hasil.

Negosiasi antara FIFA dan penyiar lokal di berbagai wilayah tetap menjadi isu utama. Proses negosiasi ini tidak hanya memengaruhi jumlah penonton, tetapi juga dampak finansial bagi FIFA. Keterlambatan dalam kesepakatan bisa mengurangi pendapatan dari iklan dan sponsor.

Beberapa pihak percaya bahwa solusi cepat diperlukan agar semua negara bisa mengakses pertandingan Piala Dunia 2026. Dengan adanya perubahan teknologi dan platform streaming, kemungkinan besar akan ada inovasi baru dalam distribusi hak siar.

Kesimpulan

Piala Dunia 2026 akan menjadi ajang penting bagi dunia sepak bola. Namun, tantangan dalam hal hak siar harus segera diselesaikan agar semua penonton di seluruh dunia bisa menikmati pertandingan tanpa hambatan. FIFA dan penyiar lokal perlu bekerja sama untuk mencari solusi yang saling menguntungkan. Dengan komunikasi yang baik dan negosiasi yang efektif, Piala Dunia 2026 bisa menjadi sukses secara global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *