Mengenang Cinta Rupiah dan Cindy Cenora

Cindy Cenora menjadi terkenal setelah menyanyikan lagu “Aku Cinta Rupiah” di tengah kampanye Gerakan Cinta Rupiah yang diprakarsai oleh putri Soeharto.

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

Intisari-Online.com –

Aku cinta rupiah biar dolar dimana-mana/Aku suka rupiah karena aku anak Indonesia … Mau beli baju pakai rupiah/Jajannya juga pakai rupiah/Mau beli buku buku sekolah … Pakai rupiah ya bayarnya…

Masih ingat dengan lirik lagu di atas? Benar, itu adalah penggalan lirik dari lagu “Aku Cinta Rupiah” dari album perdana Cindy Cenora,
Aku Cinta Rupiah.
Lagu itu muncul di tengah-tengah kampanye Gerakan Cinta Rupiah yang diprakarsai oleh Siti Hardijanti Rukmana (Mbak Tutut), putri sulung Soeharto, pada 1998.
Gerakan Cinta Rupiah adalah kampanye ekonomi yang disuarakan seiring dengan terjadinya krisis moneter di Indonesia pada 1997-1998. Krisis itu menyebabkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS jeblok, sejeblok-jebloknya.
Mengingat Gerakan Cinta Rupiah adalah mengingat keberadaan penyanyi cilik Cindy Cenora.
Krisis moneter 1998 di Indonesia sejatinya adalah peristiwa yang kompleks. Banyak faktor yang saling terkait yang menjadi penyebabnya.
Krisis moneter 1998 bermula di Thailand pada Juli 1997 saat pemerintah negara tersebut membiarkan nilai tukar bath mengambang bebas setelah kehabisan cadangan devisa untuk mempertahankannya. Kondisi itu menyebabkan bath terdevaluasi secara signifikan dan kemudian menyebar ke negara-negara lain di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Sebulan kemudian, Agustus 1997, nilai tukar rupiah mulai tertekan oleh serangan spekulatif. Bank Indonesia menaikkan suku bunga untuk mencoba mempertahankan nilai rupiah, tetapi hal ini malah memperburuk situasi dengan menambah beban perusahaan yang sudah berutang dalam mata uang asing.
Pada Oktober 1997, Dana Moneter Internasional (IMF) mulai ikut campur. Indonesia meminta bantuan lembaga tersebut, dengan syarat, IMF meminta Indonesia untuk melakukan reformasi ekonomi, termasuk menutup 16 bank bermasalah.
Penutupan bank ini menyebabkan kepanikan di sektor perbankan dan menurunkan kepercayaan publik terhadap sistem keuangan.
Lalu pada November 1997, krisis semakin memburuk dengan terus merosotnya nilai rupiah. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS jatuh dari sekitar 2.600 menjadi lebih dari 4.000 dalam beberapa bulan.
Krisis ini menyebabkan banyak perusahaan bangkrut. Penyebabnya, karena mereka tidak mampu membayar utang luar negeri yang melonjak dalam nilai rupiah.
Tahun berganti, dan rupiah tak kunjung pulih. Pada Januari 1998, rupiah terus anjlok. Nilai tukar rupiah terus merosot tajam, mencapai sekitar 17.000 per dolar AS pada bulan itu.
Kondisi itu mulai memicu ketidakstabilan sosial dan politik di Indonesia. Dan kondisi itu, ketegangan sosial mulai meningkat pada Februari-Maret 1998.
Protes terhadap pemerintah mulai meningkat. Kondisi ekonomi yang semakin parah memicu kekhawatiran akan ketidakmampuan pemerintah untuk mengatasi krisis. Ketidakpuasan masyarakat terhadap Presiden Soeharto dan rezim Orde Baru mulai memuncak.
Puncaknya terjadi pada Mei 1998, yang ditandai dengan kerusuhan Mei dan jatuhnya Presiden Soeharto. Kerusuhan ini menyebabkan banyak korban jiwa dan kerusakan properti.
Pada 21 Mei 1998, di tengah tekanan politik yang semakin besar, Presiden Soeharto mengundurkan diri setelah berkuasa selama 32 tahun. Wakil Presiden B.J. Habibie dilantik menjadi presiden.
Juni 1998, pemerintahan baru yang dipimpin BJ Habibie mulai melaksanakan reformasi ekonomi dan politik sebagai bagian dari program pemulihan yang didukung oleh IMF. Pemerintah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk menstabilkan ekonomi, termasuk restrukturisasi perbankan dan utang, serta liberalisasi ekonomi.
1999 hingga 2000, dilakukan pemulihan ekonomi secara bertahap. Setelah periode ketidakstabilan politik dan ekonomi, Indonesia mulai pulih secara perlahan. Nilai rupiah mulai stabil, inflasi menurun, dan ekonomi kembali tumbuh, meskipun proses pemulihan memakan waktu beberapa tahun.
Bermula dari sekolah modeling Sanggar Titi Qadarsih
Seperti disinggung di awal, mengingat Gerakan Cinta Rupiah adalah mengingat Cindy Cenora, pelantun lagu “Aku Cinta Rupiah”. Ya, walaupun lagu itu tidak banyak berdampak pada pemulihan rupiah dan ekonomi di Indonesia.
“Rambut dikuncir dua model air mancur, wajah cerah ceria. Itulah Cindy Cenora, penyanyi cilik yang melejit lewat lagu ‘Aku Cinta Rupiah’. Lagunya riang, liriknya bagus, dan tentu saja juga enak disimak,” tulis Majalah
Bobo
edisi 25-XXVI 1998.
Lewat lagu itu, Cindy berhasil menyabet penghargaan tertinggi untuk kategori Penyanyi Cilik (Wanita) Pendatang Baru Terbaik dalam acara Anugerah PWI Musik, di Istora Senayan, pada 10 Mei 1998.
Cindy Cenora kecil dikenal sebagai sosok yang agak tomboy, tulis
Bobo
. Bahkan mamanya bilang, “Cindy waktu kecil terlampau aktif, seperti anak laki-laki.” Sukanya kejar-kejaran dan berantem-beranteman.
Cindy disebut kurang begitu betah jika disuruh pakai rok. Supaya karakter perempuannya muncul, mamanya kemudian mengirim sang putri ke sekolah model Sanggar Titi Qadarsih. Sejak bergabung di sanggar milik ibu dari musisi Indra Qadarsih itu, Cindy yang mulai sering mengikuti kegiatan
modelling
ini akhirnya mulai terbiasa mengenakan rok.
Rupanya, oke juga penampilan Cindy saat mengenakan rok. Bahkan di beberapa arena lomba peragaan busana yang diikuti, Cindy pun beberapa kali berhasil menyabet gelar juara. Luar biasa, bukan?
Setelah setahun bergelut dengan dunia
catwalk
, Cindy mulai tertarik dengan dunia tarik suara. Rupanya, perempuan kelahiran Jakarta, 17 Desember 1990, itu diam-diam ingin jadi penyanyi.
Karena itulah, Cindy akhirnya dimasukkan ke sekolah vokal Bina Suara Sehati. Sejak itulah bakat terpendam perempuan penyuka bakso itu mulai kuncup dan kemudian mekar harum.
Warna vokalnya yang khas, gerak-geriknya yang lincah dan spontan, serta didukung penampilannya yang gaya, membuat Cindy yang waktu itu baru duduk di Kelas 1 ditawari rekaman. Ibarat kata, pucuk dicinta ulam pun tiba.
Sejatinya, rencana album pertama Cindy Cenora adalah
Kekecilan
. Tapi ketika album itu hendak diluncurkan, situasi krisis moneter melanda Indonesia.
Saat itu, istilah seperti “krismon” dan “cinta rupiah” menjadi bahan pembicaraan sehari-hari dan senantiasa mewarnai berita-berita di koran, majalah, maupun televisi. Karena setiap hari mendengar istilah-istilah itu, Cindy menghubungi sang Papa, minta dibuatkan lagu dengan tema cinta rupiah.
Sang ayah kemudian menghubungi pencipta lagu Toni Hawaii. Hanya dalam beberapa hari, dikebutlah pembuatan album dan video klip “Aku Cinta Rupiah” untuk segera diluncurkan.
Setidaknya sudah ada 11 album yang telah diluncurkan oleh putri dari Djunaedi dan Yani itu – terakhir album
Madu dan Racun
(2003) sekaligus menjadi penutup karier Cindy sebagai penyanyi lagu anak-anak.
Album perdana
Aku Cinta Rupiah.
Di beberapa lagunya, Cindy banyak berkisah tentang cinta negeri. Cobalah tengok lagu “Pulau Bali” (almu
Kekecilan
) yang mengisahkan keelokan Pulau Dewata. Ouw, manis sekali.
“Mulanya hanya coba-coba, kini keterusan,” komentar Cindy ketika ditanya kesan-kesannya sebagai penyanyi. Sebagai penyanyi cilik pendatang baru yang muncul langsung bersinar, Cindy langsung memiliki ribuan penggemar.
Pada masa-masa terkenalnya itu, puluhan surat diterima Cindy setiap hari. Biasanya Cindy membaca surat-surat itu sepulang sekolah.
“Isinya, ada yang mau kenalan, minta biodata, minta
postcard
, ada juga yang permintaannya aneh-aneh, seperti minta dikirimi bando, cincin, baju, buku dan macam-macam,” ujar Cindy.
Apakah semua permintaan pasti dikasih? “Hahaaa, yang minta macam-macam kan banyak, Bo!” jawab Cindy ketika itu, sambil tertawa. “Tapi ada juga sih yang minta baju lantas Cindy kasih,” katanya lagi, “Ada tiga turis asal Belanda. Waktu di Hotel Borobudur mereka lihat video klip ‘Kekecilan’ di televisi. Lewat bantuan petugas hotel mereka menemui Papa. Setelah ketemu Papa, ternyata mereka minta baju yang dipakai Cindy pada waktu nyanyi di album
Kekecilan
. Katanya sih untuk oleh-oleh cucunya di Amsterdam sana.”
Surat yang datang, biasanya langsung dibuka, dicatat alamatnya, lantas dibalas secara bergiliran. Tak hanya itu, Cindy juga tak lupa untuk membalas surat-surat itu.
Cindy Cenora kecil juga suka menabung. “Menabung berarti kita bisa memiliki uang sendiri,” ujar Cindy yang ketika itu juga sudah dipercaya sebagai presenter acara “Dunia Anak” di
SCTV
. “Kalau punya uang sendiri kita bisa beli apa saja. Misalnya buat jajan di sekolah, alat tulis, bando, juga buat ngasih kalau ada orang minta-minta di jalan.”
Selain menabung di bank karena anjuran orangtua, Cindy juga menabung sendiri di celengan. Cindy punya tiga celengan. Satu berbentuk es krim untuk uang logam, dan dua yang lainnya berbentuk Winnie The Pooh.
“Yang satu untuk uang logam, satunya lagi untuk uang kertas,” ujarnya. “Tapi menabungnya tidak tentu! Kalau ada duit aja … kalau lagi bokek ya nggak nabung.”
Menurut Cindy menabung di celengan ada asyiknya. “Asyiknya kita harus ngumpulin uang yang sejenis. Misalnya, kita mau uang logam lima ratusan, otomatis kalau kita dapat logam lima, ratusan, apalagi masih baru, pasti langsung ditabung. Sayang kan kalau dibuat jajan,” tambahnya.
Sayang, Cindy Cenora tidak melanjutkan kariernya sebagai penyanyi. Kehidupannya pun tidak banyak terekspos. Punya Instagram pun di-
private
sehingga hanya pengikutnya yang bisa meng-
update
hari-harinya. Tapi tetap saja, jika ada yang menyinggung Gerakan Cinta Rupiah 1998, tak afdal rasanya jika tak menyebut namanya … Cindy Cenora sang penyanyi cilik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *