Bukan Lebih Baik dari Penjahat’ dalam ‘Black Lagoon

Kapitalisme Total di Kota Para Bedebah

Filsuf tersohor Karl Marx pernah menulis bagaimana kapitalisme pada akhirnya mengubah hubungan manusia menjadi hubungan transaksional. Inilah yang terjadi secara garis besar di Black Lagoon.

Black Lagoon mengambil setting di sebuah kota kawasan Asia Tenggara bernama Roanapur. Bukan terjadi di Jepang atau isekai dalam anime kebanyakan, Roanapur terasa seperti sebuah neraka kapitalisme tanpa topeng moralitas. Definisi tepat sarang penjahat. Kota para bedebah.

Di Roanapur, semua orang hidup dari transaksi ilegal. Narkoba, senjata, human trafficking, informasi gelap dan pembunuhan berbayar. Tidak ada teman sejati, tidak ada kawan sehidup semati. Semuanya transaksional. Definisi itu sekaligus menjelaskan bahwa Roanapur betul-betul tempat yang bermusuhan dengan empati, akhlak dan etika. Kota yang penuh dengan penjahat dan perompak ini cuma mengenal prinsip survival of the fittest. Yang kuat hidup, yang lemah mati.

Yang menarik, Black Lagoon berkali-kali memperlihatkan bahwa dunia korporat global juga bergerak dengan pola serupa. Bedanya hanya pada metode. Mafia menggunakan kekerasan, perusahaan menggunakan kontrak kerja. Kartel mengintimidasi nyawa dengan tembakan dan tusukan, korporasi memberangus hidup orang lewat eksploitasi tenaga kerja, tekanan ekonomi dan manipulasi pasar.

Semakin jauh serial ini berjalan, semakin jelas bahwa Black Lagoon bukan cuma cerita tentang perang gangster, tapi sebuah kritik terhadap dunia modern yang telah membuat kekerasan bisa begitu terlihat halus dan terasa administratif, profesional dan legal atas nama kepentingan bisnis.

Fatamorgana Dunia Korporat

Proses Black Lagoon dalam menelanjangi bobroknya dunia korporasi dimulai dari protagonis utama serial ini. Seorang salaryman biasa asal Jepang bernama Rock. Rock adalah gambaran kaum pekerja Jepang pada umumnya. Bekerja untuk perusahaan bernama Asahi Industries, Rock dikisahkan sebagai figur yang sopan, rapi, berpendidikan, dan taat aturan. Ia juga meyakini bahwa loyalitas pada perusahaan tempat ia bekerja adalah sebuah hal mulia dan benar untuk dipertahankan.

Anggapan Rock akan hal tersebut sirna ketika ia ditugaskan untuk mengantar sebuah disk berisi rahasia perusahaan ke Asia Tenggara. Dalam perjalanan itu, kapal yang ia tumpangi dibajak oleh tentara bayaran Lagoon Company, kelompok yang kemudian menjadi pusat cerita Black Lagoon.

Awalnya, Rock masih percaya perusahaan tempat ia bekerja akan menyelamatkannya. Berangkat dari loyalitas tanpa batas yang diberikan selama ini, Rock yakin perusahaan akan melakukan hal yang sama kepadanya. Di sinilah Black Lagoon mulai mempreteli bahwa dunia korporat sebetulnya tidak semulia itu. Alih-alih menyelamatkan karyawannya itu, Asahi Industries malah memilih untuk menghilangkan seluruh jejak operasi mereka dan menghancurkan data-data transaksi perusahaan. Rock? Diabaikan. Ditelantarkan. Dilepeh.

Bagi Asahi Industries, menebus Rock dari Lagoon Company adalah hal yang terlalu berisiko dan tidak setimpal dengan kepentingan bisnis yang jauh lebih besar. Yang lebih mengganggu, semua keputusan ini dilakukan lewat rapat dengan bahasa serta gestur profesional yang dingin. Tanpa ancaman, tanpa intimidasi. Di sinilah Rock menyadari sebuah fakta bahwa bagi korporasi, manusia sering kali tidak lebih dari aset yang bisa dibuang dan digantikan. Perompak membunuh dengan senjata api, tetapi korporasi sering menghancurkan hidup manusia lewat keputusan bisnis yang terasa normal dan legal.

Rock juga mulai sadar bahwa loyalitas korporat kadang cuma sebuah fatamorgana belaka. Perusahaan tidak pernah benar-benar jadi keluarga karena karyawan di dalamnya bisa disingkirkan kapan saja. Keputusan Rock bergabung dengan Lagoon Company bukan cuma insting bertahan hidup. Itu adalah gambaran sikap tegas penolakan terhadap dunia korporat yang ternyata sama jahatnya dengan sindikat bandit.

Luka dan Angkara Murka

Di dunia Black Lagoon yang dipenuhi beragam jenis manusia amoral, sakit dan sadistik, Revy mungkin adalah salah satu karakter yang paling gila. Tidak seperti protagonis perempuan pada umumnya, Revy adalah seorang kombatan tangguh yang sangat kasar, congkak, tempramental, tidak berperasaan dan bermulut sampah. Tumbuh sebagai seorang nihilis sejati lantaran masa kecil yang penuh dengan kemiskinan, kekerasan dan trauma pelecehan seksual, Revy bisa disebut sebagai perwujudan dari produk rusak dunia yang penuh dengan luka dan angkara murka.

Baginya, dunia cuma arena survival belaka. Revy juga tidak pernah memposisikan dirinya sebagai orang baik yang penuh dengan retorika kehormatan. Ia seutuhnya sadar akan reputasinya sebagai perempuan jahat dan vulgar dengan tangan yang penuh darah di dunia yang tidak pernah sedetikpun memberinya rasa aman atau kehidupan normal. Kekejaman dunia turut membuat Revy melihat bahwa satu-satunya instrumen yang bisa membuat manusia dipandang lebih tinggi adalah uang. Bagi Revy, uang ibarat cat putih yang sanggup yang menutupi semua bentuk kotoran dan membuat pemiliknya terlihat suci.

Meski terkesan picik, hal inilah yang justru membuat Revy terlihat sebagai karakter yang paling jujur dan realistis ketimbang para karakter lain di Black Lagoon. Salah satu aspek paling menarik dari Black Lagoon adalah bagaimana Revy memandang Rock, sosok yang sangat bertolak belakang dengannya dari berbagai sisi. Di awal cerita, Rock masih percaya bahwa dunia harus berjalan sesuai pakem sistem, nilai moral dan profesional. Pandangan ini selalu diejek oleh Revy yang beranggapan bahwa dunia normal hanyalah ilusi yang dibangun manusia agar kekerasan terlihat lebih rapi.

Dalam salah satu momen penting di Black Lagoon, tepatnya di episode 7 yang berjudul Calm Down, Two Men, Revy juga menguliahi Rock bahwa mafia yang membunuh demi uang tidak ada bedanya dengan perusahaan yang menghancurkan hidup orang demi keuntungan. Sebuah pernyataan out of the box yang begitu menampar realita.

Sikap nihilistik Revy inilah yang membuat Black Lagoon kian terasa sangat relevan dengan dunia modern. Faktanya, banyak bentuk kekerasan perusahaan terhadap pekerjanya yang sama sekali tidak terlihat seperti tindak kriminalitas umum. Bentuk kekerasan ini hadir dalam format berbeda, seperti PHK sepihak, lembur berlebihan, pemberian upah di bawah standar, keterlambatan gaji dalam hitungan pekan bahkan bulan, hingga pemakaian tenaga kerja di bawah umur.

Filsuf Inggris Thomas Hobbes pernah menggambarkan dunia tanpa moralitas dan keteraturan dengan istilah “War of all against all”. Sebuah konsep yang sangat hidup di Roanapur karena semua orang di dalamnya menyambung hidup lewat segala bentuk kekerasan, ancaman dan rasa takut setiap hari. Revy adalah satu dari sekian manusia yang belajar beradaptasi di dunia seperti itu.

Secara simbolik, Revy juga merupakan lambang dari kegagalan dunia dalam melindungi masyarakatnya. Revy tumbuh di dunia yang terlampau keras dan tidak adil di mana moralitas dan kebaikan hati adalah sebuah kemewahan. Lewat Revy pula Black Lagoon sebetulnya menyadarkan bahwa pada akhirnya, manusia cuma punya dua opsi dalam menjalankan hidup yang keras: bertahan hidup, atau mampus.

Mesin yang Menggerus Kewarasan

Fenomena salaryman Jepang sering digambarkan sebagai simbol kesetiaan, kedisiplinan dan kerja keras. Padahal di balik itu, banyak kritik sosial melihat budaya kerja di Jepang sebagai sistem yang perlahan mengubah manusia menjadi mesin. Black Lagoon memberikan kritikan tajam tentang fenomena tersebut dengan sangat vivid.

Filsuf Prancis Michel Foucault yang menulis buku Discipline and Punish: The Birth of Prison pernah menjelaskan bagaimana institusi modern membentuk manusia yang patuh dan mudah dikontrol. Dalam konteks korporasi Jepang, kantor dapat dilihat sebagai sistem yang secara perlahan mendesain manusia untuk terus mengikuti sistem sembari menekan emosi dan mengorbankan diri demi produktivitas kerja. Di sisi lain, antropolog David Graeber bahkan pernah menggunakan istilah bullshit jobs untuk menggambarkan pekerjaan modern yang terasa begitu kosong, absurd dan menghancurkan makna hidup manusia.

Dalam spektrum yang lebih disturbing, filsuf Korea Selatan Byung-Chul Han pernah menulis bahwa manusia modern hidup dalam achievement society. Pemikiran ini mengatakan bahwa masyarakatlah yang membuat manusia mengeksploitasi dirinya sendiri demi produktivitas tanpa henti. Menurut Han, manusia modern tidak lagi dipaksa dengan cambuk seperti budak zaman penjajahan kuno. Mereka justru secara sukarela menghancurkan dirinya sendiri demi karier, target, dan kesuksesan.

Rock adalah potret korban dari tiga pandangan tersebut. Apa yang dialami Rock adalah bukti bahwa budaya kantoran bisa menghancurkan manusia secara psikis, sama brutalnya dengan dunia kriminal menghancurkan manusia secara fisik. Perjalanan tak terduga Rock bersama Revy dan kru Lagoon Company lainnya juga memperlihatkan bagaimana manusia bisa merasa lebih hidup di dunia kriminal yang penuh dengan kebisingan dan bau mesiu menusuk hidung dibanding di kantor korporat yang tenang, wangi, steril namun membunuh kewarasan.

Cara Berbeda untuk Mencuci Tangan

Black Lagoon bukan sekadar karya tentang bagaiman dunia kriminal bekerja. Manga ini menyampaikan sebuah kejujuran bahwa bertahan hidup di dunia yang jahat jauh lebih penting daripada menjadi manusia yang penuh dengan empati dan pemikiran positif. Lebih dari itu, Black Lagoon juga menunjukkan bahwa dunia korporat terkadang bekerja dengan logika yang tidak jauh berbeda dari dunia penjahat. Loyalitas bisa dibeli dengan iming-iming imbalan, manusia bisa diperas sedemikian rupa dan dibuang begitu saja ketika sudah dianggap tidak menghasilkan.

Meski berbeda di tampilan luar, kedua dunia ini sama-sama hidup dalam sistem yang menuntut manusia mengorbankan sebagian kemanusiaannya. Ketika hal ini terjadi, mungkin tidak ada salahnya kita duduk sejenak sembari menafakurkan apa yang dikatakan Revy kepada Rock tentang dunia:

“Apa bedanya mafia yang menarik pelatuk demi uang dengan perusahaan besar yang menghancurkan hidup orang demi keuntungan? Tidak ada. Mereka hanya menggunakan cara yang berbeda untuk mencuci tangan mereka.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *