BERITA  

Briket 4 Bahan dari Ampas Kopi, Siswa SMA Muhammadiyah 2 Mayong Jepara Ciptakan Energi Alternatif

Mengubah Limbah Ampas Kopi Menjadi Energi Alternatif

Ampas kopi sering kali dianggap sebagai limbah yang tidak berguna dan dibuang begitu saja. Namun, di tangan para siswa SMA Muhammadiyah 2 Mayong Jepara, ampas kopi bisa menjadi sumber energi alternatif yang bernilai jual tinggi. Tiga siswi, Naila Azzahra (X1), Salwa Asmaul Khusna (XI1), dan Hanania Afanin (X7), berhasil menciptakan briket berbahan dasar ampas kopi dengan aroma khas dan daya bakar yang optimal.

Keunikan Briket dari Ampas Kopi

Briket yang mereka buat memiliki keunikan tersendiri, yaitu aroma kopi yang muncul saat dibakar. Hal ini memberikan daya tarik bagi pengguna yang ingin merasakan sensasi kopi meskipun hanya dalam bentuk briket. Selain itu, tekstur ampas kopi yang mudah terbakar juga memungkinkan pembakaran yang lebih cepat dan stabil. Dengan kombinasi arang, tepung tapioka, dan air sebagai bahan perekat, briket ini bisa bertahan cukup lama saat digunakan.

Proses Pembuatan Briket

Proses pembuatan briket dimulai dengan mengumpulkan ampas kopi dari berbagai kedai kopi. Ampas kopi kemudian dikeringkan selama sehari hingga benar-benar kering. Setelah itu, ampas kopi ditumbuk agar lebih halus. Sebelum dicetak, bahan pendukung seperti arang, tepung tapioka, dan air dicampur secara proporsional.

Komposisi briket terbaik terdiri dari 60% arang, 30% ampas kopi, dan 10% tepung tapioka yang dicampur sedikit air. Semua bahan dicampur dan dicetak sesuai ukuran yang diinginkan. Cetakan briket harus dikeringkan selama 2-3 hari agar siap digunakan sebagai bahan energi alternatif.

Pengembangan dan Pemanfaatan

Salwa Asmaul Khusna menjelaskan bahwa proses pengumpulan bahan hingga pembuatan produk membutuhkan waktu sekitar seminggu. Hasil briket tersebut telah melalui uji coba pembakaran dan menunjukkan aroma kopi yang khas serta daya tahan yang baik. Ia menyatakan bahwa peran ampas kopi dalam briket adalah untuk meningkatkan efisiensi pembakaran dan mengurangi pemborosan limbah.

Tim Salwa berencana mengembangkan inovasi ini lebih lanjut dengan melakukan kerjasama dengan kedai-kedai kopi dan tempat usaha lainnya. Dengan demikian, ampas kopi yang biasanya dibuang bisa dimanfaatkan secara maksimal.

Partisipasi dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah

Briket ampas kopi yang mereka kembangkan, bernama “CoffeeBriq”, telah diikutkan dalam ajang Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) Zestopia 2026. Produk ini masuk tiga besar karya terbaik dalam kompetisi ide bisnis tingkat SMA/SMK/MA se-Kabupaten Jepara. Inovasi ini menunjukkan bahwa siswa dapat menciptakan solusi kreatif untuk menghadapi masalah lingkungan.

Potensi Ekonomi dan Lingkungan

Dengan mengolah ampas kopi menjadi briket, siswa ini tidak hanya membantu mengurangi limbah, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi. Ide ini muncul dari keprihatinan terhadap limbah ampas kopi yang belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal, limbah tersebut memiliki potensi besar untuk diolah menjadi produk bernilai tambah.

Inovasi ini juga menunjukkan kemampuan siswa dalam berpikir kritis dan kreatif. Melalui karya ini, mereka membuktikan bahwa generasi muda bisa memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan perkembangan ilmu pengetahuan.

Harapan dan Masa Depan

Pembina LKTI, Riza Ramadhani, berharap prestasi ini menjadi motivasi bagi siswa lain untuk terus berkembang dan berani berkompetisi. Dengan semangat “Tiada Hari Tanpa Prestasi”, SMA Muhammadiyah 2 Mayong berupaya menunjukkan eksistensinya sebagai lembaga pendidikan yang mampu melahirkan generasi kreatif dan inovatif.

Semoga prestasi ini menjadi pengalaman berharga dan memacu semangat untuk meraih capaian yang lebih tinggi di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *