Sejarah dan Perkembangan Sop Ayam Klaten
Sop ayam telah lama menjadi salah satu kuliner yang melekat dengan identitas Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Keberadaannya tidak hanya sebagai makanan biasa, tetapi juga sebagai simbol budaya lokal yang memiliki sejarah panjang. Bahkan, hidangan berkuah bening ini dipilih sebagai sajian utama dalam perayaan Hari Jadi ke-222 Kabupaten Klaten pada 2026. Rencana besar ini bertujuan untuk memecahkan rekor MURI dengan menyajikan 5.222 porsi sop ayam secara bersamaan.
Sejarah sop sendiri sudah ada sejak zaman kuno. Sup atau sop merupakan salah satu jenis makanan tertua di dunia. Ribuan tahun lalu, manusia telah merebus berbagai bahan makanan menggunakan wadah dari tanah liat maupun kulit binatang. Beragam budaya memanfaatkan sup sebagai cara praktis mengolah bahan pangan seperti daging, ikan, dan sayuran menjadi makanan bergizi sekaligus menghangatkan tubuh. Istilah “sup” berasal dari bahasa Prancis soupe, yang berakar dari bahasa Latin suppa, yang berarti “merendam”. Pada masa awal, sup dibuat dengan merendam roti dalam kaldu sebelum berkembang menjadi berbagai variasi seperti yang dikenal saat ini.
Memasuki abad ke-17, sup mulai disajikan bersama roti panggang atau crouton. Pada masa itu, hidangan sup bahkan identik dengan makanan kalangan bangsawan, sementara masyarakat umum mengonsumsi versi yang lebih sederhana. Selain dikenal lezat, sayur sop juga memiliki nilai gizi tinggi karena berisi aneka sayuran seperti wortel, kentang, buncis, jagung, dan kol yang dimasak dalam kaldu. Kandungan air, vitamin, kalsium, serta karoten membuat sup menjadi salah satu menu yang menyehatkan dan dipercaya membantu meredakan gejala flu.
Berawal dari Pikulan Pak Min
Di Klaten, sop berkembang menjadi kuliner khas dengan ciri kuah bening, ayam berbumbu yang empuk, serta taburan rempah sederhana namun kaya rasa. Nama yang paling melekat dengan kuliner ini adalah Sop Ayam Pak Min. Usaha tersebut dirintis pada era 1960-an oleh pasangan Tugiman dan Wagiyem. Tugiman yang akrab disapa Pak Min diketahui merupakan seorang mantan veteran perang yang kemudian memilih berwirausaha dengan berjualan sop ayam.
Setiap hari Pak Min memikul dagangannya dari kampung ke kampung. Salah satu lokasi favoritnya adalah kawasan Terminal Klaten. Menu yang dijual saat itu cukup sederhana, yakni nasi, kuah sop bening, potongan ayam berbumbu, dan pelengkap seperti seledri serta bawang goreng. Pada masa-masa awal, usaha tersebut belum langsung sukses. Sop ayam racikan Pak Min belum banyak dikenal sehingga dagangannya kerap tidak habis terjual.
Berkembang Menjadi Warung Permanen
Perlahan namun pasti, cita rasa khas Sop Ayam Pak Min mulai mendapat tempat di hati masyarakat. Usaha yang semula dijajakan dengan pikulan berkembang menggunakan gerobak. Memasuki dekade 1980-an, keluarga Pak Min membuka warung permanen pertama di kawasan Pasar Gede Klaten. Saat itu proses memasak masih menggunakan kayu bakar yang dipercaya mampu mempertahankan aroma dan cita rasa kuah sop tetap khas. Warung tersebut menjadi tonggak penting perkembangan usaha keluarga sebelum akhirnya dikenal luas.
Memiliki Puluhan Cabang
Perkembangan usaha terus berlanjut. Pada 1999, keluarga Pak Min membuka cabang pertama di Jalan Mayor Kusmanto, Desa Sekarsuli, Kecamatan Klaten Utara. Sejak saat itu, ekspansi dilakukan ke berbagai daerah. Kini Sop Ayam Pak Min telah memiliki sekitar 40 cabang yang tersebar di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah hingga Daerah Istimewa Yogyakarta. Kesuksesan tersebut diteruskan oleh anak-anak Pak Min yang tetap mempertahankan resep turun-temurun sehingga cita rasa sop ayam khas Klaten tetap terjaga.
Jadi Ikon Hari Jadi Klaten ke-222
Popularitas sop ayam membuat Pemerintah Kabupaten Klaten memilih kuliner tersebut sebagai bagian dari perayaan Hari Jadi Kabupaten Klaten ke-222 yang diperingati pada 28 Juli 2026. Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo mengatakan rangkaian perayaan tahun ini berlangsung selama Juli hingga Agustus dengan berbagai kegiatan seni, budaya, olahraga, konser musik, hingga festival. Salah satu agenda yang paling menyita perhatian adalah pemecahan Rekor MURI makan sop ayam massal sebanyak 5.222 porsi. Menurut Hamenang, sop ayam dipilih karena telah menjadi salah satu identitas kuliner Kabupaten Klaten.
Selain pemecahan rekor MURI, masyarakat juga akan disuguhi berbagai agenda seperti Klaten Lurik Karnaval, karnaval budaya, konser musik yang menghadirkan NDX AKA, Festival Candi Sojiwan, job fair, festival gejog lesung, Asia Motocross Championship, hingga berbagai pertunjukan seni dan budaya lainnya. Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Pemerintah Kabupaten Klaten berharap masyarakat semakin bangga terhadap daerahnya, sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya dan kuliner khas Klaten kepada masyarakat luas.






