MENTAWAI – Upaya menjaga kualitas hasil tangkapan nelayan di wilayah kepulauan terus didorong melalui pemanfaatan teknologi sederhana yang bisa diterapkan langsung di lapangan. Hal itu dilakukan Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Diponegoro (UNDIP), dan Universitas Airlangga (UNAIR) lewat program Pengabdian Masyarakat Kolaborasi Indonesia (PMKI) 2026.
Program yang berlangsung pada 11–12 Agustus 2026 tersebut mengusung tema “Pemberdayaan Usaha Perikanan Skala Kecil melalui Inovasi Cold Storage Box dan PCM–Hydrogel Pack untuk Peningkatan Masa Simpan dan Daya Saing Produk.”
Kegiatan menyasar nelayan di dua wilayah Kepulauan Mentawai. Pada 11 Agustus, kegiatan digelar di Desa Muara Sikabaluan, kemudian berlanjut ke Dusun Labuan Bajau, Desa Sigapokna, pada 12 Agustus. Masing-masing lokasi diikuti sekitar 30 nelayan atau total sekitar 60 peserta.
Kolaborasi ini menjadikan ITB sebagai pelaksana utama dengan melibatkan tim dari UNDIP dan UNAIR. Kegiatan diketuai Dr. Damar Rastri Adhika, S.T., M.Sc. dari ITB, bersama Nor Basid Adiwibawa Prasetya, S.Si., M.Sc., Ph.D. dari UNDIP dan Dr. Suhailah,S.Si., M.Si. dari UNAIR.
Kegiatan dimulai dengan sosialisasi mengenai pentingnya penanganan hasil tangkapan setelah nelayan melaut. Materi tersebut menekankan bagaimana penyimpanan yang tepat bisa membantu menjaga mutu ikan sekaligus mengurangi risiko kerugian akibat hasil tangkapan cepat mengalami penurunan kualitas.
Sosialisasi di dua lokasi disampaikan Nor Basid Adiwibawa Prasetya dari UNDIP. Para nelayan juga diajak berdiskusi mengenai kondisi penyimpanan hasil tangkapan yang selama ini mereka lakukan serta tantangan yang dihadapi di lapangan.
Setelah sesi sosialisasi, kegiatan dilanjutkan dengan praktik membuat komponen penyimpanan dingin. Mahasiswa UNDIP memberikan pelatihan pembuatan panel Phase Change Material (PCM), sedangkan mahasiswa UNAIR mengenalkan cara membuat PCM-Hydrogel Pack.
Pelatihan tersebut tidak berhenti pada pengenalan teknologi. Masyarakat juga diajak memahami proses pembuatannya sehingga ke depan dapat membuat dan mengembangkan komponen tersebut secara mandiri sesuai kebutuhan.
Respons masyarakat pun cukup tinggi. Para nelayan aktif mengikuti diskusi, menyimak demonstrasi, hingga terlibat langsung dalam praktik pembuatan panel PCM dan PCM-Hydrogel Pack.

“Program ini bukan hanya memberikan alat kepada masyarakat, tetapi juga bagaimana pengetahuan dan keterampilan tersebut bisa diteruskan setelah tim perguruan tinggi kembali,” demikian semangat utama kegiatan PMKI 2026.
Untuk menjaga keberlanjutan program, masing-masing desa juga memilih satu warga yang mendapat pelatihan lebih intensif mengenai pembuatan dan penggunaan PCM serta PCM-Hydrogel Pack. Warga tersebut mendapatkan pendampingan langsung dari tim selama proses praktik.
Tim juga menyerahkan masing-masing dua unit cold storage box yang sudah jadi di setiap lokasi. Selain perangkat tersebut, masyarakat menerima alat dan bahan yang diperlukan untuk membuat panel PCM serta PCM-Hydrogel Pack.
Teknologi cold storage box yang diperkenalkan menggunakan panel PCM dan PCM-Hydrogel Pack sebagai media penyimpan energi termal untuk membantu menjaga suhu penyimpanan. Teknologi ini dinilai potensial menjadi salah satu pilihan untuk mendukung rantai dingin pada usaha perikanan skala kecil.
Kehadiran teknologi tersebut menjadi penting bagi wilayah kepulauan seperti Mentawai yang masih menghadapi tantangan dalam akses terhadap fasilitas penyimpanan dingin. Dengan penyimpanan yang lebih baik, hasil tangkapan diharapkan dapat bertahan lebih lama selama proses penyimpanan maupun distribusi.
Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan kualitas ikan. Masa simpan yang lebih panjang juga diharapkan dapat mengurangi potensi kerugian pascapanen sekaligus membuka peluang bagi nelayan untuk meningkatkan nilai dan daya saing produk perikanan mereka.
Program PMKI 2026 ini sekaligus menjadi ruang kolaborasi bagi mahasiswa dari berbagai bidang. Dari ITB, tim melibatkan mahasiswa Magister Teknologi Nano, yakni Rizal, Rizki, Nadiya, dan Bita, serta mahasiswa Magister Teknik Fisika, Detty.
Sementara itu, UNAIR mengikutsertakan tiga mahasiswa Program Studi Rekayasa Nanoteknologi, Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin, yakni Farah, Karina, dan Grandee. UNDIP melibatkan dua mahasiswa dari Departemen Kimia, Syera dan Yusuf.
Kolaborasi lintas kampus tersebut mempertemukan keahlian teknologi nano, teknik fisika, kimia, dan bidang terkait untuk menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat secara langsung.
Program ini juga tidak sekadar berorientasi pada penyerahan bantuan berupa perangkat. Transfer pengetahuan, pelatihan, keterampilan produksi, hingga pendampingan menjadi bagian penting agar teknologi yang diperkenalkan bisa terus digunakan masyarakat secara mandiri.
Kegiatan tersebut turut mendukung sejumlah target pembangunan berkelanjutan, di antaranya SDG 4: Quality Education, SDG 7: Affordable and Clean Energy, serta SDG 9: Industry, Innovation and Infrastructure.
Antusiasme nelayan selama dua hari pelaksanaan menjadi modal penting bagi keberlanjutan program. Keterlibatan masyarakat dalam proses belajar dan praktik menunjukkan bahwa inovasi teknologi dapat diterima ketika diperkenalkan dengan pendekatan yang dekat dengan kebutuhan mereka.






