KARANGANYAR – Dari kawasan perkebunan teh di lereng pegunungan Kemuning, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Teh Gambyong Kemuning terus mendorong perluasan pasar. Usaha yang mulai dirintis sejak 2014 itu kini telah menjangkau sejumlah daerah di Indonesia.
Pemilik UMKM Teh Gambyong Kemuning, Eko Woryanto, menyebut keberlangsungan usaha tersebut tidak terlepas dari pola kemitraan yang dibangun bersama petani teh. Pengembangan bisnis juga semakin kuat setelah mendapat pembinaan dari Bank Indonesia (BI).
Menurut Eko, kerja sama dengan petani mulai dibangun setahun setelah dirinya merintis usaha. Pertemuan bersama petani dan kelompok tani saat itu menjadi awal terbentuknya kemitraan untuk menjamin ketersediaan bahan baku.
“2014 saya merintis usaha, kemudian 2015 kita kumpul dengan para petani dan kelompok tani untuk membahas bagaimana saya bisa disuplai bahan baku. Kerja sama itu sampai sekarang,” ujarnya saat kegiatan Capacity Building Media BI bertajuk Media Connect: Insight, Impact & Collaboration di Pondok Gambyong Kemuning, Selasa (6/10/2026).
Kemitraan tersebut kini melibatkan 26 petani yang tergabung dalam satu gabungan kelompok tani (gapoktan). Lahan teh yang dikelola melalui kerja sama itu mencapai hampir 50 hektare.
Namun, Eko mengatakan kapasitas produksi masih sangat bergantung pada kondisi cuaca. Saat curah hujan tinggi, produksi pucuk teh dapat mencapai 1–1,5 ton setiap hari. Sementara ketika memasuki musim kemarau, produksinya turun pada kisaran 300–600 kilogram per hari.
Dari bahan baku teh yang sama, Teh Gambyong Kemuning mengolahnya menjadi berbagai jenis produk, mulai dari teh hijau, teh hitam, teh putih hingga oolong.
Setidaknya terdapat lima produk utama yang kemudian dikembangkan menjadi sekitar 16 produk turunan. Diversifikasi tersebut menjadi salah satu upaya untuk memperluas pilihan konsumen sekaligus pasar penjualan.
Distribusi produknya pun tidak lagi terbatas di wilayah sekitar Karanganyar maupun Jawa Tengah. Teh Gambyong Kemuning kini telah dipasarkan ke sejumlah daerah lain, termasuk kawasan Jabodetabek.
Eko mengatakan peran BI turut memberikan dorongan terhadap perkembangan UMKM tersebut. Pembinaan yang dimulai sejak 2019 tidak hanya membuka akses promosi, tetapi juga membantu penyediaan sarana produksi.
“Pembinaan BI yang dimulai sejak 2019, turut mendorong pengembangan usaha. Selain membuka akses promosi, BI memberikan dukungan sarana produksi yang membantu proses perawatan, pemanenan hingga pengolahan,” tuturnya.
Dukungan tersebut, lanjut Eko, ikut berdampak terhadap peningkatan kapasitas usaha. Ia memperkirakan terjadi kenaikan sekitar 30–40 persen dibandingkan kondisi sebelum mendapatkan pembinaan BI.
“Efeknya untuk peningkatan kurang lebih sekitar 30 sampai 40 persen, dari awal sebelum kita dibina oleh BI dan setelah dibina oleh BI,” ungkap Eko.
Salah satu dukungan yang dirasakan dalam proses produksi adalah penggunaan mesin pemanen. Dengan alat tersebut, kemampuan panen yang sebelumnya berkisar 30–60 kilogram per orang setiap hari dapat meningkat menjadi sekitar 70–100 kilogram.
Pertumbuhan usaha teh di Kemuning juga ikut memunculkan aktivitas ekonomi lain di kawasan tersebut. Perkebunan teh yang sebelumnya berfokus pada aktivitas produksi kini berkembang menjadi salah satu kawasan wisata yang melahirkan beragam peluang usaha masyarakat.
Sejumlah usaha pendukung bermunculan, mulai dari jasa jeep wisata, event organizer, tubing hingga outbound. Perkembangan sektor wisata tersebut turut membuka kesempatan bagi masyarakat lokal untuk kembali bekerja dan membangun usaha di daerah asal.
“Banyak yang awalnya merantau ke luar kota, sekarang kembali ke kampung untuk membangun dan menjadi pelaku wisata,” pungkasnya.






