Emas Mencapai Rekor Tertinggi di Tengah Ketegangan Politik dan Konflik Global
Jakarta – Pasar emas global menyaksikan lonjakan harga yang belum pernah terjadi sebelumnya, menyentuh level tertinggi sepanjang masa pada perdagangan Senin, 12 Januari 2026. Pergerakan dramatis ini dipicu oleh kombinasi meningkatnya ketegangan politik internal di Amerika Serikat dan memanasnya konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Menurut laporan dari berbagai sumber terpercaya, kenaikan signifikan harga emas terjadi setelah adanya ancaman dakwaan pidana yang dilayangkan Departemen Kehakiman Amerika Serikat terhadap Federal Reserve (The Fed). Bersamaan dengan itu, eskalasi protes yang berujung pada korban jiwa di Iran semakin memperdalam ketidakpastian di kancah global. Harga emas batangan, atau bullion, dilaporkan melonjak mendekati angka 4.600 dolar AS per troy ons.
Lonjakan ini terjadi menyusul pernyataan Ketua The Fed, Jerome Powell, yang mengungkapkan bahwa bank sentral telah menerima surat panggilan pengadilan dari dewan juri Departemen Kehakiman. Panggilan tersebut terkait dengan kesaksian Powell di hadapan Kongres pada musim panas lalu mengenai proyek renovasi gedung Federal Reserve. Situasi ini secara jelas menggambarkan eskalasi konflik yang terjadi antara Presiden AS Donald Trump dan Jerome Powell, yang kembali memunculkan kekhawatiran di kalangan pasar mengenai independensi bank sentral Amerika Serikat.
Konflik Iran Memperkuat Daya Tarik Emas sebagai Aset Lindung Nilai
Di sisi lain, gelombang protes yang mematikan di Iran turut memperkuat daya tarik emas sebagai aset lindung nilai (safe haven). Ketidakpastian yang melanda Iran muncul seiring merebaknya spekulasi mengenai kemungkinan runtuhnya Republik Islam Iran. Skenario seperti ini berpotensi mengguncang tatanan geopolitik global dan memberikan dampak signifikan pada pasar minyak dunia.
Presiden AS Donald Trump pada Minggu, 11 Januari 2026, menyatakan bahwa ia tengah mempertimbangkan berbagai opsi terkait situasi di Iran. Ia juga kembali mengulang ancamannya untuk mengambil alih Greenland dan mempertanyakan nilai dari aliansi NATO. Pernyataan-pernyataan ini muncul lebih dari seminggu setelah Amerika Serikat menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro.
“Ini menjadi pengingat bahwa pasar saat ini sedang dihadapkan pada banyak ketidakpastian,” ujar Charu Chanana, seorang analis di Saxo Markets yang berbasis di Singapura. “Ketidakpastian ini mencakup berbagai aspek, mulai dari geopolitik, perdebatan mengenai pertumbuhan ekonomi dan suku bunga, hingga risiko institusional yang dipicu oleh isu-isu terbaru.”
Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga Menopang Harga Emas
Secara terpisah, harga emas berhasil menutup tahun 2025 dengan rekor tertinggi. Pencapaian ini didukung oleh berbagai faktor positif yang terjadi secara bersamaan. Faktor-faktor tersebut meliputi tren penurunan suku bunga acuan, meningkatnya ketegangan geopolitik di berbagai belahan dunia, serta menurunnya kepercayaan pasar terhadap mata uang dolar AS.
Lebih dari selusin manajer investasi terkemuka telah menyatakan preferensi mereka untuk mempertahankan kepemilikan emas dalam portofolio mereka. Mereka berargumen bahwa daya tarik jangka panjang dari logam mulia ini tetap kuat dan menjanjikan.
Data ketenagakerjaan terbaru dari Amerika Serikat juga semakin memperkuat ekspektasi pasar terhadap kemungkinan pemangkasan suku bunga acuan secara berkelanjutan. Laporan tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan lapangan kerja di bulan lalu berada di bawah perkiraan analis. Hal ini semakin memperkuat keyakinan bahwa The Fed akan terus melakukan pemangkasan suku bunga untuk menopang stabilitas dan pertumbuhan perekonomian AS.
Saat ini, pasar memperkirakan setidaknya akan ada dua kali penurunan suku bunga acuan pada tahun ini. Perkiraan ini muncul setelah The Fed telah melakukan tiga kali pemangkasan suku bunga secara berturut-turut pada paruh kedua tahun lalu. Kondisi suku bunga yang rendah ini secara inheren menguntungkan emas, mengingat emas merupakan aset yang tidak memberikan imbal hasil bunga.
Perak dan Logam Mulia Lainnya Ikut Mengalami Penguatan
Pada pukul 09.08 waktu Singapura, harga emas tercatat naik sebesar 1,7 persen, diperdagangkan pada level 4.585,39 dolar AS per ons. Indeks Bloomberg Dollar Spot sendiri mengalami penurunan tipis sebesar 0,2 persen.
Perak menunjukkan penguatan yang lebih dramatis, melonjak sebesar 4,6 persen. Penguatan ini menyusul kenaikan hampir 10 persen yang telah dicapai perak pada pekan sebelumnya, dan kini diperdagangkan mendekati rekor tertinggi sepanjang masa. Logam mulia lainnya seperti paladium dan platinum juga turut mencatatkan kenaikan harga yang positif.
Sementara itu, Mahkamah Agung Amerika Serikat belum memberikan keputusan akhir terkait tarif yang diberlakukan oleh pemerintahan Trump. Putusan mengenai isu tarif ini dijadwalkan akan disampaikan pada Rabu, 14 Januari 2026. Apabila Mahkamah Agung menolak kebijakan tarif tersebut, hal ini berpotensi menjadi kekalahan hukum terbesar bagi Presiden Trump sejak ia kembali menjabat sebagai presiden AS.






