Alumni FK Unusa Sukses Taklukkan Studi Magister Kesehatan Masyarakat di Belgia–Prancis

Teks Foto : Mohammad Qoimam Bilqisthi Zulfikar, alumni FK Unusa, penerima beasiswa Erasmus Mundus yang berhasil menyelesaikan studi Magister Kesehatan Masyarakat di Belgia dan Prancis. (ist)

SURABAYA – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh alumni Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa). Mohammad Qoimam Bilqisthi Zulfikar, atau akrab disapa Qoimam, lulusan Pendidikan Dokter dan Profesi Dokter Fakultas Kedokteran (FK) Unusa, berhasil menyelesaikan studi Magister Kesehatan Masyarakat melalui program bergengsi European Public Health Master – Europubhealth+.

Program tersebut ia tempuh di dua negara Eropa, yakni Belgia dan Prancis, dengan dukungan penuh beasiswa internasional Erasmus Mundus Excellence Scholarship dari Uni Eropa.

Perjalanan akademik Qoimam dimulai dari FK Unusa selama lebih dari enam tahun. Ia menuntaskan tahap Sarjana Pendidikan Dokter selama empat tahun, kemudian melanjutkan Profesi Dokter selama dua tahun tujuh bulan. Proses pendidikan profesinya sempat mengalami penyesuaian akibat pandemi COVID-19, namun kondisi tersebut tidak menyurutkan semangatnya untuk terus melangkah ke jenjang yang lebih tinggi.

Pada studi magisternya, Qoimam menjalani tahun pertama perkuliahan di University of Liège, Belgia. Selanjutnya, tahun kedua ia tempuh di EHESP French School of Public Health, Prancis. Program Europubhealth+ dikenal memiliki ritme akademik yang sangat intens, dengan kurikulum lintas negara, lintas budaya, serta lintas disiplin ilmu.

“Di Belgia, saya dituntut sangat serius secara akademik. Mulai dari biostatistik menggunakan software R, ujian oral, hingga simulasi perancangan undang-undang kesehatan menjadi pengalaman yang sangat menantang,” ungkap Qoimam dalam keterangan tertulis, (15/01/26) Kamis.

Sementara itu di Prancis, sistem pembelajaran menggunakan model alternate, yakni kombinasi antara perkuliahan dan magang profesional berbayar. Qoimam menjalani magang riset selama 11 bulan bersama Fondation MNH Prancis dengan fokus pada isu kesehatan tenaga kesehatan.

Ia menegaskan bahwa bekal ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan di FK Unusa sangat membantunya beradaptasi dengan tuntutan akademik internasional.

“Fondasi metodologi dan ilmu kesehatan masyarakat yang saya dapatkan di Unusa sangat kuat. Itu membuat saya tidak terlalu kesulitan mengikuti perkuliahan magister yang materinya jauh lebih mendalam,” jelasnya.

Qoimam juga menyoroti suasana klinis di University of Liège yang mengingatkannya pada pengalaman kuliah dan praktik di RSI Jemursari, rumah sakit pendidikan FK Unusa.

“Atmosfer klinisnya terasa familiar. Pasien lalu-lalang, dosen mengajar dengan jas dokter. Itu membuat saya merasa seperti kembali ke Unusa,” tuturnya.

Lebih lanjut, ia berpesan kepada mahasiswa FK Unusa agar sejak dini menaruh perhatian besar pada penguasaan bahasa Inggris. Menurutnya, hampir seluruh literatur kedokteran dan jurnal ilmiah internasional menggunakan bahasa Inggris, sehingga kemampuan ini menjadi kunci penting untuk bersaing di tingkat global.

Ia juga mendorong mahasiswa untuk aktif mengikuti kegiatan di luar kelas seperti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), penelitian, pengabdian masyarakat, serta organisasi kemahasiswaan.

“Soft skills seperti kepemimpinan, komunikasi, dan kerja tim sangat penting, dan itu banyak ditempa lewat organisasi,” ujarnya.

Prestasi Qoimam menjadi bukti nyata bahwa lulusan FK Unusa mampu berkiprah di tingkat global. Capaian ini sekaligus menegaskan komitmen FK Unusa dalam mencetak dokter yang unggul secara akademik, profesional, serta memiliki daya saing internasional.