SURABAYA – Musyawarah Provinsi (Musprov) VI Persinas ASAD Jawa Timur resmi digelar di Gedung Serbaguna Padepokan Persinas ASAD, Surabaya, pada 30–31 Januari 2026. Kegiatan ini menjadi ajang konsolidasi organisasi sekaligus penguatan arah pembinaan pencak silat yang profesional, berprestasi, berbudaya, dan berkarakter luhur.
Ketua Pengprov Persinas ASAD Jawa Timur, Prof. Dr. Ir. H. Dedid Hapyanto, M.T., dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya Musprov VI serta mengapresiasi kehadiran seluruh keluarga besar Persinas ASAD dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Timur.
Menurutnya, Persinas ASAD tidak hanya berfokus pada penguasaan teknik bela diri, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral dalam membina generasi muda yang berprestasi, berakhlak, serta menjunjung tinggi nilai persatuan dan perdamaian.
“Persinas ASAD tidak sekadar mengajarkan bela diri, tetapi membentuk karakter pesilat yang berprestasi, berakhlak, dan mampu menjadi perekat persatuan,” ujar Prof. Dedid.
Ia menjelaskan, Persinas ASAD berdiri sejak 30 April 1993 di Jakarta dan hingga kini tetap konsisten menjaga amanah para sesepuh, yakni menjadikan pencak silat sebagai sarana pemersatu bangsa.
Di Jawa Timur, Persinas ASAD telah hadir dan berkembang di 38 kabupaten/kota. Organisasi ini juga aktif menjalin silaturahmi serta kerja sama dengan berbagai perguruan pencak silat yang tergabung dalam Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI).
Seiring perkembangan zaman, Persinas ASAD Jawa Timur mulai memanfaatkan teknologi digital dalam pengelolaan organisasi. Sistem manajemen berbasis data diterapkan untuk mendukung pembinaan atlet, administrasi organisasi, hingga peningkatan prestasi secara berkelanjutan.
Sementara itu, Ketua Umum Persinas ASAD, Marsma TNI (Purn) H. Sukur, M.Si., menekankan pentingnya penguatan tiga mesin utama organisasi, yakni tertib administrasi, pembinaan prestasi berbasis sport science, serta pembentukan karakter pesilat.
“Pendekar Persinas ASAD bukan untuk mencari musuh. Kita mencetak prestasi di atas matras, menjunjung sportivitas, serta menjaga persaudaraan,” tegasnya.
Ia juga mendorong agar tradisi dan kearifan lokal Jawa Timur, seperti seni kolosal perjuangan arek-arek Surabaya dan kekayaan budaya daerah lainnya, terus dikembangkan. Menurutnya, hal tersebut penting agar pencak silat dapat tampil sebagai seni dan olahraga yang membanggakan di berbagai ajang nasional maupun internasional.
Apresiasi turut disampaikan Ketua IPSI Jawa Timur, Ir. H. Bambang Haryo Soekartono, yang menilai Persinas ASAD Jawa Timur sebagai salah satu perguruan pencak silat dengan prestasi yang konsisten dan manajemen organisasi yang progresif.
“Prestasi Persinas ASAD Jatim luar biasa dan rata-rata selalu masuk tiga besar. Ini tidak lepas dari pembinaan yang terstruktur, termasuk pemanfaatan digitalisasi,” tandas Bambang Haryo Soekartono, yang akrab disapa BHS.
Ia juga menekankan pentingnya peran pesilat dalam menjaga keamanan, ketertiban masyarakat, serta memperkuat nilai-nilai kebangsaan. Menurutnya, pencak silat merupakan warisan budaya tak benda Indonesia yang telah diakui UNESCO dan harus terus dikembangkan sebagai identitas bangsa.
Musprov VI Persinas ASAD Jawa Timur diikuti oleh 76 pengurus kabupaten/kota serta 82 pembina daerah. Forum tertinggi organisasi di tingkat provinsi ini diharapkan mampu melahirkan program-program strategis yang mendorong prestasi atlet hingga level nasional dan internasional, sekaligus memperkuat peran pencak silat sebagai budaya pemersatu bangsa.






