oleh

Cerita Keluarga Angka, Menjalani Hidup di Masa Covid-19

Makan Seadanya, Hingga Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di Masa Covid-19

Di kehidupan masyarakat kota Palu, di masa covid-19, Penerapan Protokol Kesehatan telah diatur sedemikian rupa, agar tahapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) berjalan efektif demi mencegah penyebaran covid-19 di kota Palu.

Namun, sayang beribu sayang, penerapan PPKM yang ketat untuk masyarakat tidak direspon dengan adanya sejumlah harapan-harapan yang baik dari Pemerintah Kota Palu untuk masyarakat, utamanya bagi mereka yang masih tinggal dan menghuni di Hunian Sementara (Huntara) Asam 3 kelurahan Kabonena di masa covid-19.

LAPORAN : Mohammad Rizal

Sejak mendatangi salah satu bilik/pintu Hunian Sementara (Huntara) Asam 3 yang ditempati oleh keluarga Angka, dengan ukuran yang tidak begitu luas, kondisi bilik sudah tidak sebagus waktu pertama kali dibangun oleh Pemerintah Pusat, yang diperuntukkan untuk warga penyintas korban bencana alam gempa, tsunami dan likuifaksi 28 September 2018 silam.

Lebih kagetnya lagi, dari hasil penelusuran sejumlah tetangga yang menempati bilik Huntara (warga terdampak bencana), dengan diyakinkan oleh keluarga Angka sendiri, bilik Huntara yang sebelumnya gratis ditempati oleh warga penyintas, kini telah beralih fungsi menjadi tempat sewaan, dengan biaya satu bilik 150 ribu perbulan.

“Sebelumnya gratis, nanti ini dibayarkan 150 ribu perbulan,” kata Angka dengan ditemani istri dan seorang anaknya Ardi, Rabu (22/9/2021).

“Saya belum bayar sewa bilik ini, saya mau bayar pakai apa,” tambahnya.

Dengan sesekali mengambil kopi yang berada di atas meja seadanya dan meminumnya, Angka menceritakan, kalau dirinya merupakan salah satu korban bencana likuifaksi yang ada di kelurahan Balaroa sekitar jalan Manggis.

Rumah hilang ditelan bencana, seluruh perkakas rumah tangga, kebutuhan anak-anak sekolah, bahkan dengan seluruh dokumen berupa sertifikat rumah hilang dan ditelan oleh likuifaksi.

“Sudah tidak ada semuanya, baju anak saya pun yang sekolah SD juga sudah tidak, makanya anak saya yang satu ini bernama Ardi kelas V, sudah saya tidak kasih sekolah lagi,” tambahnya.

“Bagaimana mau kasih sekolah anak saya lagi, baju tidak ada, sementara biaya sekolah pun saya tidak bisa janjikan, karena saya sudah tidak bekerja (PHK),” lanjutnya.

Dia pun menceritakan kembali, di masa covid-19, banyak sekali cobaan dan ujian yang diberikan, belum dengan adanya kebijakan baru dari pemilik tanah yang menyewakan sebidang bilik atau pintu Huntara yang kami tinggali ini untuk dibayar tiap bulannya.

Untuk makan sehari-hari saja di masa covid-19 karena sudah diputus kerjaan dari sebelumnya bekerja di lokasi Poboyo (bersihkan ampas tromol), mau tidak mau mengharapkan ulurkan bantuan beras dari keluarga yang jauh di Sulawesi Selatan.

“Banyak cobaan dan ujian, di masa covid-19 saya sudah di PHK di tempat kerja saya yang di Poboyo sana,” kata Angka dengan raut wajah yang sedih.

“Yang kami pikirkan sekarang, covid-19 terus berlanjut, saya mau kerja apa, sementara kebutuhan di dapur harus dipenuhi,” sebutnya.

Sesekali istri Angka, Suryani ikut menambahkan, dia tegaskan, sejak tinggal di Huntara Asam 3 waktu pertama kali dibangun, di masa covid-19 sekarang berlangsung, belum ada satu pun satu liter beras yang diterima oleh keluarganya dari pemerintah kota Palu.

Bahkan dia tegaskan kembali, beras satu liter terkadang diperoleh dari tetangga sebelah yang peduli atas nasib yang menimpa keluarganya di saat-saat kesulitan yang dihadapi di masa covid-19 saat ini.

“Untuk kebutuhan makan saja kami ini sulit, cari beras saja sampai minta bantu sama keluarga yang ada di Selatan. Ada juga kebaikan dari warga sebelah yang kasih beras buat kami makan. Kalau bantuan dari pemerintah kota, satu liter beras pun tidak pernah kami terima,” jelasnya.

Dia mengharapkan, Pemerintah Kota Palu, tengok dan lihatlah keadaan warga yang tinggal di Huntara Asam 3, bilik Huntara sudah disewakan, apa ada altenatif dari pemerintah kota Palu untuk bisa membantu membiayai kebutuhan warga penyintas?.

“Kalau bisa yah bantu kami, carikan tempat tinggal yang layak untuk kami tempati,” harapnya.***

Komentar

News Feed