oleh

Komunitas Historia Kritisi Peresmian Jalan R Soeprapto di Huntap Tondo

PALU, INDONESIAKINI.ID – Komunitas Historia Sulawesi Tengah (Sulteng) melayangkan kritikannya melalui surat terbuka terhadap peresmian jalan R.Soeprapto di Jalan Hunian Tetap (Huntap) I kelurahan Tondo saat memperingati hari Bhakti Adhiyaksa,Kamis (22/07/2021).

Kordinator Historia Sulteng, Moh.Herianto mengaku saat melihat sejumlah foto terkait peresmian   nama  Jaksa Agung  R.Soeprapto , menjadi nama jalan di kompleks  Huntap I kelurahan Tondo. Menurutnya jika menelisik sejarah nasional, sekiranya  nama R. Soeprapto dikenang sebagai Bapak Kejaksaan RI,  yang memangku jabatan Jaksa Agung RI  pada periode 1951-1959.

Herianto mempertanyakan sekaitan hubungan R.Soeprapto dengan Kota Palu sehingga harus menjadi nama jalan yang dihadiri langsung Wali Kota Palu, Hadianto dan Wakil Wali Kota Palu,dr Reny A Lamadjido serta Kejati Sulteng, Jacob Hendrik Pattipelohy SH, MH.

“Sebagai warga  Kota Palu, saya  melayangkan surat terbuka ini  adalah untuk mendapatkan jawaban sekaitan  dengan  pertanyaan, apa hubungan Jaksa Agung  R.Soeprapto  dengan Kota Palu , atau secara spesifik lokasi Huntap  I Tondo, sehingga  menjadi sangat penting nama beliau disematkan  menjadi nama jalan yang ada di sana. (Atau hanya karena merespon hari Bhakti  Adhiyaksa, yang diperingati saban 22 Juli???),”ucap Herianto dalam surat terbuka yang diterima redaksi media ini, jelang peresmian jaln R. Soeprapto.

Bagi Herianto, masih tokoh lokal yang memiliki keterkaitan dengan pengadilan terlebih lagi dalam memperingati hari Bhakti  Adhiyaksa.

“Sedang di lain sisi, begitu banyak tokoh lokal yang perlu diorbitkan namanya, contohnya, Tjatjo Idjaza, Pue Nggari, Dato Labungulili dan lain-lain,”ucapnya.

Bahkan, Herianto menyebutkan, masih terdapat kesalahan dalam penulisan nama sejumlah tokoh lokal yang seharusnya perlu menjadi perhatian Pemerintah Kota (Pemkot) Palu.

“Belum lagi sejumlah Nama tokoh  yang keliru penulisaanya , semisal  jalan Raja Moili yang semestinya  Radja Maili, jalan Towua harusnya Tovoa Langi,  atau jalan Mokolembake , semestinya Mokole Bangke  (Raja  Besar) yang merujuk pada  Raja  Talasa di Kerajaan Poso,”sebut Heri.

Dirinya juga telah melakukan pengusulan nama para tokoh lokal dan perbaikan penulisan nama tokoh lokal yang masih memiliki berdasarkan penelusuran dari Historia Sulteng. Akan tetapi, belum ada respon dari Pemkot Palu. Pihaknya menyayangkan tindakan Pemkot Palu yang lebih mengedepankan nama tokoh dari luar daerah ketimbang nama tokoh lokal sendiri.

“Bukan Tanpa Alasan, sejatinya  pengusulan nama tokoh- tokoh lokal  tersebut telah kami usulkan untuk disemakan  menjadi nama jalan di Kota Palu, pun halnya terkait  penelusuran nama yang keliru, tetapi sampai saat ini belum ada tindak lanjutnya. Mengherankan bagi kami, justru pengusulan  nama tokoh  dari luar begitu cepat direspon oleh pemerintah daerah. Olehnya kami memohon jawaban  terkait pertanyaan kami di atas,”tandasnya.DAL

Komentar

News Feed