oleh

Tokoh Lintas Agama Bertemu Kapolda Beri Dukungan Pemberantasan Terorisme di Sulteng

PALU, SULTENG  – Sejumlah tokoh lintas agama menemui Kapolda Sulteng Irjen Pol. Drs. Abdul Rakhman Baso, SH, untuk memberikan dukungan atas upaya Polda Sulteng bersama aparat TNI yang tergabung dalam Satuan Tugas (Satgas) Tinombala untuk memberantas terorisme di Sulteng. Para tokoh lintas Agama itu bersilaturahmi dengan Kapolda pada Senin (30/22/2020).

Tokoh lintas agama itu dipimpin Ketua FKUB Sulteng, Prof. H. Zaenal Abidin, P.hd dan diterima langsung Kapolda Sulteng di ruang kerjanya. Kedatangan para tokoh agama ini, selain memberikan dukungan terhadap upaya yang telah diambil Polda Sulteng terhadap upaya pemberantasan terorisme di Sulteng, juga menyerahkan pernyataan sikap bersama Persatuan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injil Indonesia (PGLII), Forum Umat Kristen (FUKRI) Sulteng dan Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Sulteng terhadap tragedi pembantaian di Desa lembantongoa, Kabupaten Sigi, Sulteng.

Kabidhumas Polda Sulteng Kombes Pol. Didik Supranoto,SIK yang turut mendampingi Kapolda Sulteng, melalui rilis yang diteruskan kepada awak media di Palu, Senin (30/11/2020) mengatakan, para tokoh lintas Agama Sulteng hari ini bertemu Kapolda Sulteng menyampaikan rasa prihatin atas “tragedi lemban tongoa Sigi”. Para tokoh lintas agama itu membacakan dan menyerahkan pernyataan sikap bersama tertanggal 30 November 2020 yang mereka tanda tangani dan diserahkan langsung kepada Kapolda Sulteng.

Didik menjelaskan, ada lima point pernyataan sikap bersama PGLII, FUKRI dan FKUB Sulteng atas “Tragedi Lemban Tongoa Sigi” yaitu :

Satu, mengharapkan kepada pemerintah dan Institusi terkait dalam hal ini, Gubernur Sulawesi Tengah, Kapolda Sulawesi Tengah dan Danrem 132 Tadulako untuk bisa segera menuntaskan kasus ini sampai tuntas secara transparansi, menangkap dan menindak tegas para pelaku sesuai dengan amanah UUD 1945 serta memberikan empati yang bisa meringankan beban keluarga korban.

Dua, meminta kepada Pemerintah agar dapat memberikan jaminan keamanan kepada masyarakat Sulawesi Tengah dalam hal beragama dan menjalankan kegiatan keagamaan masing-masing sesuai Pasal 29 UUD 1945, terlebih khususnya bagi umat Nasrani yang sebentar lagi akan mengadakan perayaan Natal pada bulan Desember ini.

Tiga,  bahwa peristiwa di dusun Lewonu desa Lemban Tongoa Kec. Palolo Kab. Sigi bukan bagian dari ajaran Agama manapun dan tidak ada satu ajaran agama manapun yang membolehkan melakukan “Tindakan kekerasan atau menghilangkan nyawa seseorang”, tetapi boleh jadi kesalahpahaman oknum dalam memahami ajaran agamanya.

Empat, kami PGLII, FUKRI, GPID, GKST, BK, GPDI dan KFUB Sulawesi Tengah tetap mengedepankan dan mengembankan “persatuan dan kesatuan serta persaudaraan sesama anak banga Indonesia” lebih khusus di Sulawesi Tengah, dan menghimbau kepada semua pihak untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh peristiwa yang bisa menimbulkan peristiwa baru yang tidak kita inginkan bersama.*

Sebagaimana diketahui, pada Jumat (27/11/2020) telah teradi tragedi kemanusiaan di Desa Lembantonga, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi yang mengakibatkan terbunuhnya empat warga secara sadis. Para pelaku diduga kuat adalah kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Poso pimpinan Ali Kalora. ***

 

Komentar

News Feed