Beredar Kabar Hoaks: Panji Petualang Meninggal Akibat Dipatuk King Cobra
Sebuah kabar mengejutkan sempat beredar di jagat maya pada Rabu, 7 Januari 2026, mengenai meninggalnya pembawa acara dan kreator konten yang dikenal luas sebagai Panji Petualang. Narasi yang tersebar menyebutkan bahwa ia meninggal dunia setelah dipatuk oleh seekor ular king cobra. Kabar ini beredar melalui berbagai akun di platform media sosial Facebook, dengan klaim bahwa Panji sempat berada dalam kondisi kritis sebelum akhirnya menghembuskan napas terakhir.
Namun, setelah dilakukan penelusuran mendalam, kabar duka tersebut ternyata tidak benar alias hoaks. Tim pemeriksa fakta telah melakukan verifikasi terhadap informasi yang beredar dan menemukan bahwa Panji Petualang masih dalam keadaan sehat dan aktif.
Kronologi Penyebaran Narasi Hoaks
Kabar mengenai meninggalnya Panji Petualang akibat gigitan king cobra ini pertama kali menyebar melalui beberapa akun Facebook pada hari Rabu, 7 Januari 2026. Salah satu narasi yang dibagikan berbunyi: “Detik – Detik Artis Pannji Krit1s Di Rumah Sakit Terakhir di Rumah Sakit Jakarta Selatan Minta doa ya fans Semoga Beliau di ampuni segala dosanya AMIN”. Narasi ini dengan cepat menimbulkan kekhawatiran dan kesedihan di kalangan penggemar Panji.
Penyebaran informasi yang salah ini menunjukkan betapa cepatnya berita, terutama yang bersifat sensasional, dapat menyebar di era digital, bahkan tanpa verifikasi yang memadai. Penggunaan istilah seperti “kritis di rumah sakit” dan “minta doa” sengaja dirancang untuk membangkitkan emosi dan meyakinkan pembaca akan kebenaran berita tersebut.
Upaya Verifikasi dan Fakta yang Ditemukan
Untuk mengklarifikasi kebenaran kabar tersebut, tim pemeriksa fakta segera melakukan penelusuran terhadap akun media sosial resmi Panji Petualang. Verifikasi dilakukan dengan memeriksa akun Instagramnya yang memiliki tanda centang biru, yaitu @panjipetualang_real.
Aktivitas di Media Sosial: Pada hari yang sama saat kabar kematiannya beredar, Rabu, 7 Januari 2026, Panji Petualang terlihat masih sangat aktif di akun Instagramnya. Ia mengunggah berbagai konten yang menunjukkan aktivitasnya sehari-hari. Tidak ada satu pun unggahan atau informasi yang mengindikasikan bahwa ia sedang sakit parah atau telah meninggal dunia. Keaktifannya di media sosial menjadi bukti kuat pertama yang membantah kabar duka tersebut.
Analisis Foto yang Beredar: Lebih lanjut, tim pemeriksa fakta melakukan analisis terhadap foto-foto yang disertakan dalam narasi hoaks kematian Panji Petualang menggunakan Google Lens. Hasil penelusuran menunjukkan bahwa foto-foto tersebut ternyata berasal dari sebuah video YouTube yang diunggah oleh akun Sukabumi Update pada tanggal 20 Desember 2022.
Video tersebut memberitakan tentang kematian tragis seorang warga Kota Sukabumi, Jawa Barat, bernama Alprih Priyono, yang meninggal dunia pada 19 Desember 2022 akibat dipatuk oleh ular king cobra. Alprih Priyono diketahui merupakan teman dekat Panji Petualang dan pernah menjadi bagian dari timnya. Penggunaan foto Alprih Priyono dalam konteks kabar kematian Panji Petualang adalah upaya penyesatan informasi yang disengaja oleh penyebar hoaks.
Kesimpulan: Kabar Kematian Panji Petualang adalah Hoaks
Berdasarkan seluruh rangkaian penelusuran dan verifikasi yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa kabar mengenai meninggalnya Panji Petualang akibat dipatuk ular king cobra yang beredar di Facebook pada Rabu, 7 Januari 2026, adalah hoaks murni.
Panji Petualang dipastikan masih hidup dan sehat, serta aktif membagikan kegiatannya melalui media sosialnya, khususnya Instagram. Foto-foto yang digunakan dalam narasi hoaks tersebut ternyata adalah dokumentasi dari peristiwa kematian orang lain yang merupakan teman Panji, yang terjadi beberapa tahun sebelumnya.
Penting bagi masyarakat untuk selalu kritis terhadap informasi yang diterima, terutama yang beredar di media sosial. Melakukan verifikasi melalui sumber-sumber terpercaya dan akun resmi adalah langkah penting untuk menghindari penyebaran berita bohong yang dapat meresahkan publik dan merugikan nama baik seseorang. Kasus ini menjadi pengingat pentingnya literasi digital dan kehati-hatian dalam menyikapi setiap informasi yang beredar.






