Daerah  

Susy Susanti & An Se-young: Dominasi 21-0

An Se-young: Meraih Dominasi Total dan Mengejar Jejak Legenda Bulu Tangkis

An Se-young, pebulu tangkis tunggal putri nomor satu dunia asal Korea Selatan, kembali menunjukkan dominasinya yang luar biasa dengan menembus final India Open 2026. Perjalanan gemilangnya di turnamen ini seolah menegaskan hegemoni yang telah ia bangun. Namun, ambisi An kini tak lagi sekadar meraih gelar juara. Ada sebuah target yang lebih besar, sebuah kesempurnaan yang ingin ia raih dalam setiap pertandingan.

An Se-young menjadi salah satu dari segelintir atlet yang belum terkalahkan dalam dua turnamen pembuka musim 2026. Tren kemenangan beruntun yang telah ia mulai sejak Malaysia Open pekan lalu, kini ia upayakan untuk berlanjut di India Open. Ambisi serupa juga diusung oleh ganda putri nomor satu dunia, Liu Sheng Shu/Tan Ning asal Tiongkok.

Khusus bagi An Se-young, dominasi yang ia tunjukkan sepanjang pekan ini sungguh memukau. Ia tidak hanya berhasil lolos ke final tanpa kehilangan satu gim pun, tetapi secara konsisten mampu memberikan skor yang sangat rendah, bahkan seringkali di bawah sepuluh poin, kepada lawan-lawannya sejak babak pertama India Open 2026.

Performa impresif ini semakin terasa luar biasa mengingat lawan-lawan yang ia hadapi bukanlah pemain sembarangan. Turnamen yang diselenggarakan di Indira Gandhi Sports Complex, New Delhi, India, dari Rabu (14/1/2026) hingga Sabtu (17/1/2026) ini, menampilkan sejumlah nama besar yang takluk di tangan An.

Indonesia pun harus menelan kekecewaan ketika tunggal putri andalan mereka, Putri Kusuma Wardani, yang berperingkat enam dunia, harus mengakui keunggulan An dengan skor telak 21-16, 21-8 di babak perempat final.

Bahkan, dua mantan pemain nomor satu dunia dan juara dunia pun mengalami nasib serupa saat berhadapan dengan An Se-young yang kini tengah berada di puncak permainannya. Nozomi Okuhara dari Jepang takluk di babak pertama dengan skor 21-17, 21-9. Sementara itu, Ratchanok Intanon dari Thailand dilibas dengan skor 21-11, 21-7 di babak semifinal.

Selain nama-nama besar tersebut, korban An lainnya adalah Huang Yu-Hsun, pemain underdog asal Taiwan. Ia menjadi pemain yang dikalahkan An dalam waktu tercepat di babak kedua, dengan skor 21-14, 21-9.

Ambisi Kesempurnaan: Menuju Skor Nol Poin untuk Lawan

Menanggapi skor-skor telak yang ia raih, An Se-young mengungkapkan ambisinya untuk mencapai dominasi total dalam setiap pertandingannya. Dalam sebuah wawancara usai pertandingan semifinal, An menyatakan bahwa momen yang paling sempurna baginya adalah ketika ia berhasil menang tanpa memberikan lawan satu poin pun.

“Saya pikir momen ketika saya menang 21-0 adalah momen yang sempurna, dan saya ingin melakukannya,” ujar An Se-young. Meskipun ia menyadari bahwa target tersebut sangatlah sulit dicapai. “Tampaknya itu akan memerlukan waktu lama. Mungkin juga itu tidak akan pernah terjadi,” tambahnya.

Keseriusan An untuk meraih “kemenangan sempurna” ini mengingatkan pada pencapaian legenda tunggal putri Indonesia, Susy Susanti. Pada era keemasannya di tahun 1990-an, Susy Susanti, yang juga merupakan juara edisi perdana bulu tangkis di Olimpiade, pernah meraih kemenangan dengan skor yang sangat dominan.

Salah satu catatan impresif Susy adalah ketika ia mengalahkan Catrine Bengtsson dari Swedia dengan skor 11-2, 11-0. Kemenangan ini terjadi saat Indonesia menghadapi Swedia dalam babak penyisihan grup Piala Uber pada tahun 1994.

Namun, perlu dicatat adanya perbedaan sistem penilaian antara era Susy Susanti dan era bulu tangkis modern saat ini. Pada zaman Susy, dengan sistem pindah bola, poin baru bisa didapatkan jika seorang pemain memenangkan reli dari posisi melakukan servis. Berbeda dengan sistem saat ini, di mana poin dapat diraih dengan memenangkan reli, baik saat melakukan maupun menerima servis.

Menyaingi Rekor Dominasi Susy Susanti

Lebih jauh lagi, An Se-young kini semakin mendekati rekor dominasi yang pernah dicatatkan oleh Susy Susanti antara tahun 1993 hingga 1994. Berdasarkan catatan dari Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF), Susy berhasil meraih tujuh gelar beruntun dalam periode tersebut, dimulai dari German Open pada Oktober 1993 hingga Malaysia Open pada Juli 1994. Tren kemenangan luar biasa ini diraih Susy setelah mengalami kekalahan di final Indonesia Open pada Juli 1993.

BWF juga mengakui capaian Susy di ajang akhir tahun, Grand Prix Finals 1993, dalam salah satu artikelnya, meskipun rekor tujuh gelar beruntun tersebut tidak secara eksplisit tercantum dalam laman profilnya. Arsip lain dari berbagai media juga menunjukkan kesuksesan Susy yang tak tercatat secara resmi, seperti kemenangan medali emas di Piala Dunia pada September 1993. Ini berarti Susy Susanti berhasil meraih total sembilan gelar beruntun.

Kini, An Se-young tengah bersiap untuk mengukir sejarah serupa. Jika ia berhasil memenangkan final India Open 2026 pada hari ini, Minggu (18/1/2026), maka gelar tersebut akan menjadi trofi keenamnya secara beruntun. Tren juara yang belum terputus ini telah ia mulai sejak Denmark Open pada Oktober tahun lalu.

Di partai puncak India Open 2026, An Se-young kembali akan berhadapan dengan rivalnya, pemain nomor dua dunia Wang Zhi Yi. Pertandingan ini akan menjadi pertemuan ke-10 di antara keduanya sejak tahun lalu, dan hingga kini, An Se-young selalu berhasil memetik kemenangan dalam sembilan pertemuan sebelumnya. Perjalanan An Se-young di India Open 2026 bukan hanya tentang meraih gelar, tetapi juga tentang bagaimana ia mendefinisikan ulang arti dominasi dalam olahraga bulu tangkis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *