News  

Empat Sistem Irigasi Kuno yang Efektif Hadapi El Nino

Sistem Irigasi Kuno yang Masih Relevan di Masa El Nino

Saat El Nino datang, masalah air sering kali menjadi fokus utama. Sawah bisa cepat kering, tanah kehilangan kelembapan, dan petani terpaksa mencari solusi agar lahan tetap produktif. Ternyata, jawaban atas krisis ini tidak selalu memerlukan teknologi canggih, melainkan pengetahuan lama yang telah teruji sejak ratusan tahun silam. Di banyak peradaban kuno, pengelolaan air dilakukan dengan cara yang cerdik, hemat, dan disiplin—hal yang sangat dibutuhkan saat musim kering memanjang. Berikut adalah empat sistem irigasi kuno yang bisa diterapkan ketika El Nino mengancam.

1. Subak



Subak adalah sistem irigasi yang berasal dari Bali, Indonesia. Sistem ini bekerja melalui jaringan saluran, teras sawah, bendung kecil, serta aturan pembagian air yang dikelola bersama oleh para petani. UNESCO mencatat bahwa subak sudah ada sejak abad ke-9 dan bertahan karena pola pengelolaan air yang kolektif di tingkat lanskap, bukan hanya sekadar pada setiap petak sawah.

Yang membuat subak cocok digunakan saat El Nino adalah logika penggunaan air yang hemat dan tertib. Air tidak dialirkan secara liar ke semua lahan sekaligus, melainkan diatur bergiliran sesuai kebutuhan. Dengan demikian, pasokan air yang terbatas bisa digunakan lebih lama. Di dunia modern, prinsip ini dapat diterapkan melalui pembagian jadwal aliran, prioritas blok tanam, serta koordinasi antarpetani dalam satu area.

2. Qanat



Di daerah kering seperti Iran, masyarakat kuno telah lama memahami pentingnya menyimpan dan mengalirkan air melalui bawah tanah. Dari sana muncul qanat, yaitu sistem terowongan landai yang menyalurkan air dari sumber bawah tanah di daerah tinggi ke lahan pertanian dan permukiman. Teknologi ini diketahui sudah berkembang sekitar 2.500 hingga 3.000 tahun lalu dan digunakan luas di kawasan kering.

Keunggulan qanat terlihat saat menghadapi El Nino karena air yang bergerak di bawah permukaan akan minim hilang akibat penguapan. Dibandingkan kanal terbuka yang mudah menyusut saat matahari panas, jalur tertutup lebih efisien untuk wilayah yang panas dan berangin. Meskipun membangun qanat seperti di Persia tidak selalu realistis di semua tempat, prinsipnya bisa diadopsi dengan menggunakan saluran tertutup, pipa gravitasi, atau tampungan resapan yang mengalirkan air perlahan ke kebun dan sawah.

3. Aflaj



Jika qanat terkenal di Persia, Oman memiliki sistem serupa bernama aflaj. Sistem ini mengalirkan air dari mata air atau sumber bawah tanah ke kebun dan permukiman dengan gaya gravitasi, lalu dibagi berdasarkan aturan komunitas yang ketat. UNESCO menyebut ada sekitar 3.000 sistem aflaj yang masih berfungsi di Oman, dan jejak irigasi semacam ini diperkirakan hadir sejak sekitar 2500 SM di kawasan yang sangat kering.

Pada masa pasokan air sedikit, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh infrastruktur, tetapi juga oleh siapa yang mendapatkan jatah, kapan air dialirkan, dan berapa lama dipakai. Di daerah rawan El Nino, pola ini cocok diterapkan dengan sistem giliran irigasi yang transparan, pencatatan debit, serta kesepakatan warga tani agar air tidak disedot oleh pihak yang lebih dekat ke sumber.

4. Waru-waru



Dari kawasan Danau Titicaca di Peru dan Bolivia, ada sistem kuno bernama waru-waru. Teknik ini membentuk bedengan atau lahan tanam yang ditinggikan, dengan kanal-kanal air di sisi kiri dan kanan. Dalam kajian ilmiah (Carrasco dkk. 2021), waru-waru mampu menjaga kelembapan tanah, menyimpan air selama periode kering, dan mengatur drainase ketika curah hujan berlebihan. Sistem ini bahkan direvitalisasi kembali karena dinilai tangguh menghadapi gangguan iklim.

Untuk konteks El Nino, waru-waru menarik karena air tidak harus terus mengalir deras setiap hari. Kanal di sekeliling lahan bekerja seperti “tabungan air” mini yang meresap perlahan ke area tanam, sehingga tanah tidak cepat kering meski hujan jarang turun. Konsep ini cukup mungkin diadaptasi di lahan hortikultura, sawah tadah hujan, hingga kebun pangan skala desa dengan membangun guludan tinggi plus parit simpan air.

Kesimpulan

Di tengah cuaca yang semakin sulit diprediksi, cara-cara lama ternyata belum kehilangan taji. Ketika air menjadi urusan paling berharga, sistem irigasi kuno ini mengajarkan satu hal penting: bertani dengan cerdas jauh lebih menentukan daripada hanya mengandalkan pasokan. Jika dikelola dengan tepat, warisan teknik silam di atas bisa menjadi jawaban yang relevan bagi tantangan pertanian hari ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *