News  

Siswa Menghadapi Soal Matematika Sulit dengan Waktu yang Ketat



Siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) mengakui bahwa soal mata pelajaran Matematika dalam ujian kemampuan akademik (TKA) tergolong sulit. Mereka menyebutkan bahwa tingkat kesulitan dan manajemen waktu menjadi tantangan utama saat mengerjakan soal TKA.

Haafiza Cheryl, seorang siswa kelas IX SMPN 9 Cipayung, Jawa Barat, menjelaskan bahwa kesulitan mulai dirasakan ketika ia memasuki pertengahan pengerjaan soal. “Di tengah-tengah pengerjaan soal, saya merasa semakin susah. Mulai dari nomor 16 hingga 20,” kata dia saat ditemui di sekolahnya, Selasa, 7 April 2026.

Menurut Haafiza, materi yang diujikan didominasi oleh aljabar serta penggabungan konsep seperti Pythagoras dan soal kontekstual seperti diskon. Meski begitu, ia mengatakan bahwa sebagian soal masih dapat dikerjakan dengan baik.

Soal waktu juga menjadi perhatian khusus bagi Haafiza. Ia menilai idealnya satu soal harus dikerjakan dalam dua menit. Total soal TKA matematika mencapai 30 dengan waktu pengerjaan selama 75 menit. Namun, beberapa soal yang sulit membutuhkan waktu lebih lama. “Ada yang sampai lima menit untuk satu soal yang sulit,” jelasnya. Terutama, menurut dia, untuk soal-soal dengan narasi atau teks yang panjang.

Siswa lain, Marvin Luckianto Kumari, juga menilai tingkat kesulitan mengerjakan soal matematika TKA 2026 ini bersifat relatif. “Ada yang susah, ada juga yang gampang. Dari 30 soal, yang paling susah kira-kira lima soal,” ujar Marvin.

Ia menyebutkan bahwa soal aljabar dan geometri menjadi bagian tersulit. Selain itu, Marvin menilai alokasi waktu selama dua menit untuk satu soal kurang memadai karena materi soal umumnya berupa literasi yang membutuhkan pemahaman lebih mendalam. “Pengerjaan soal dalam dua menit itu kurang. Saya menyelesaikan soal minimal tiga menit, bahkan lima menit untuk soal yang sulit,” tambahnya.

Meskipun demikian, Marvin menilai soal yang diujikan dalam TKA 2026 ini masih sesuai dengan kisi-kisi yang diberikan pemerintah. Ia pun menyiapkan diri dengan belajar dari buku sekolah, materi daring, hingga video pembelajaran.

Untuk menghadapi ujian hari kedua yakni Bahasa Indonesia, kedua siswa mengatakan masing-masing telah menyiapkan strategi belajar. Haafiza fokus pada pendalaman materi Bahasa Indonesia seperti majas dan teks, sementara Marvin menekankan pentingnya belajar sesuai kondisi dan menjaga konsistensi. “Kalau belajar jangan dipaksakan. Tapi tetap disiplin,” ujar Marvin.

Haafiza dan Marvin menuturkan, mereka memiliki target untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah atas (SMA) negeri yang diimpikan. Mereka saat ini masih berupaya agar mereka lolos melalui jalur prestasi dan TKA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *