BI Jatim Ungkap Kinerja Ritel Maret 2026 Tumbuh Positif

Teks Foto : Aktivitas masyarakat yang berbelanja di Tunjungan Plaza Surabaya dan meningkat selama periode Idulfitri 2026, mendorong pertumbuhan penjualan eceran di Jawa Timur. (ist)

SURABAYA – Kinerja penjualan eceran di Jawa Timur menunjukkan tren positif pada Maret 2026. Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Jawa Timur mencatat pertumbuhan sebesar 13,6 persen secara tahunan (year on year/yoy), meningkat dibandingkan Februari 2026 yang tumbuh 13,2 persen.

Direktur Eksekutif KPw BI Jawa Timur, Ibrahim, mengungkapkan bahwa lonjakan tersebut tidak lepas dari meningkatnya konsumsi masyarakat selama momen Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri.

“Permintaan masyarakat mengalami penguatan, khususnya pada kelompok barang seperti suku cadang dan aksesori, sandang, makanan dan minuman, tembakau, serta barang budaya dan rekreasi,” ujarnya, Minggu (19/4/2026).

Tak hanya secara tahunan, secara bulanan (month to month/mtm) penjualan ritel juga menunjukkan akselerasi. Pada Maret 2026, pertumbuhan diperkirakan mencapai 8,4 persen, lebih tinggi dibanding Februari yang sebesar 4,2 persen.

Menurut Ibrahim, kondisi ini mencerminkan daya beli masyarakat yang masih cukup terjaga. Selain itu, kelancaran distribusi barang turut menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas permintaan.

“Aktivitas konsumsi masih kuat, didukung distribusi yang relatif lancar sehingga mendorong kinerja penjualan tetap tumbuh,” tambahnya.

Ke depan, pelaku usaha ritel di Jawa Timur masih menunjukkan optimisme. Bank Indonesia mencatat ekspektasi peningkatan penjualan pada periode Mei hingga Agustus 2026, yang diperkirakan akan ditopang oleh momentum Iduladha serta berbagai agenda tahunan di Surabaya.

Namun demikian, BI juga mengingatkan adanya potensi tekanan dari faktor global. Ketidakpastian ekonomi dunia, termasuk dinamika geopolitik di Timur Tengah, dinilai berpotensi memicu kenaikan harga energi yang dapat berdampak pada inflasi.

“Kondisi global perlu diwaspadai karena berpotensi meningkatkan harga energi dan komoditas turunannya, yang pada akhirnya dapat memengaruhi daya beli masyarakat,” pungkasnya.