Prestasi Mahasiswa Pendidikan Sejarah UNG di Ajang Esai Nasional
Dua mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Gorontalo (UNG) berhasil meraih medali perunggu dalam ajang kompetisi esai tingkat nasional yang digelar di Bali pada 2–3 Mei 2026. Mereka adalah Moh Raihan Mohi dan Clarisa Putri Said, dua mahasiswa semester dua Fakultas Ilmu Sosial (FIS) UNG. Keduanya berhasil memperoleh penghargaan bronze medal pada subtema pendidikan setelah bersaing dengan peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Proses Seleksi dan Persiapan
Kompetisi ini dimulai dengan tahap seleksi karya tulis. Raihan dan Clarisa mengirimkan karya mereka untuk diseleksi oleh panitia. Setelah dinyatakan lolos, mereka langsung mempersiapkan diri untuk tahap berikutnya, yaitu presentasi di hadapan dewan juri. Menurut Raihan, tidak ada ujian tambahan selain pengiriman karya yang dinilai oleh panitia. Semua berbasis pada karya yang dikirim, dan setelah lolos, mereka diundang ke Bali untuk mempresentasikan hasil karya tersebut.
Selama berada di Bali, kegiatan berlangsung selama dua hari. Hari pertama diisi dengan sesi presentasi di hadapan dewan juri, sementara hari kedua diisi dengan kegiatan kunjungan lapangan. Raihan menjelaskan bahwa fokus utama pada hari pertama adalah menyampaikan ide secara jelas dalam waktu yang terbatas. Sementara itu, kunjungan lapangan menjadi pengalaman tersendiri bagi mereka.
Penghargaan dan Pelajaran Berharga
Dalam kompetisi tersebut, terdapat berbagai kategori penghargaan, mulai dari juara umum hingga kategori khusus serta pembagian medali berdasarkan subtema. Raihan dan timnya berhasil meraih bronze medal pada subtema pendidikan. Bagi mereka, penghargaan ini bukan hanya soal hasil, tetapi juga bagaimana proses yang mereka jalani dari awal sampai akhir memberikan banyak pelajaran.
Motivasi utama mengikuti lomba tersebut adalah untuk menambah pengalaman sekaligus memperluas relasi di tingkat nasional. Raihan menuturkan bahwa sejak awal mereka memiliki keinginan untuk terus belajar dan berkembang. Mereka juga menetapkan target sebagai bentuk komitmen, tetapi semua itu harus diiringi dengan usaha yang maksimal dan doa.
Dukungan dan Kerja Sama Tim
Raihan mengatakan bahwa capaian tersebut tidak lepas dari dukungan dosen pembimbing serta lingkungan akademik yang mendorong mahasiswa untuk aktif mengikuti kompetisi. Dalam proses penyusunan karya, mereka tidak berjalan sendiri. Ada bimbingan dari dosen yang membantu mengarahkan, sehingga karya yang disusun bisa lebih terstruktur dan siap untuk dilombakan.
Clarisa juga turut membagikan pengalamannya selama mengikuti kompetisi tersebut. Menurutnya, keterbatasan waktu menjadi kendala utama yang cukup menguji kesiapan tim. Tantangan paling terasa saat presentasi, karena waktu yang diberikan hanya empat menit, sementara materi yang siapkan cukup banyak. Mereka harus melakukan penyesuaian secara cepat agar materi tetap padat namun mudah dipahami oleh juri.
Aktivitas di Luar Kompetisi
Di luar kompetisi, Raihan juga aktif di bidang literasi kampus. Ia diketahui tengah mengurus Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Literasi dan juga ikut seleksi untuk cabang penulisan puisi. Selain kegiatan lomba, ia juga aktif di UKM literasi. Kemarin sempat lulus seleksi lomba penulisan puisi tingkat nasional, jadi sekarang lebih fokus di pengembangan diri di bidang kepenulisan.
Sementara itu, Clarisa aktif sebagai pengurus Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), yang menurutnya turut membantu membangun kepercayaan diri, terutama saat tampil di forum nasional. Keduanya sepakat bahwa keikutsertaan dalam kompetisi ini tidak hanya soal hasil akhir, tetapi juga proses pembelajaran yang mereka dapatkan.
Kesimpulan
Mulai dari penyusunan karya, seleksi, hingga presentasi di hadapan juri menjadi pengalaman berharga yang memperkaya kemampuan mereka. Prestasi ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus berani mencoba dan mengembangkan diri di berbagai ajang kompetisi.
“Jangan pernah berhenti belajar, karena dari proses itulah kita bisa berkembang. Tetap rendah hati, jaga adab, dan jangan pernah takut untuk memulai sesuatu yang baru,” tutup Raihan dan Clarisa.




