Kolaborasi Ormas dan Akademisi, LDII Jatim Bahas Pendidikan Islam Berbasis Nilai

Caption : DPW LDII Jawa Timur menggelar forum bedah buku pendidikan untuk memperkuat konsep generasi profesional religius di tengah tantangan era digital dan globalisasi. (Foto : Nugi/Indonesiakini.id)

SURABAYA – Arus digitalisasi yang semakin masif, persaingan global, hingga tantangan krisis moral generasi muda menjadi perhatian serius Dewan Pimpinan Wilayah Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Jawa Timur.

Melalui penguatan sektor pendidikan, LDII menegaskan komitmennya untuk mencetak generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, spiritualitas, dan daya saing kuat.

Komitmen tersebut disampaikan dalam kegiatan bedah buku bertajuk “Sistem Model dan Corak Pendidikan LDII dalam Platform Profesional Religius dari Sabang sampai Merauke” yang berlangsung di Auditorium UIN Sunan Ampel Surabaya, Minggu (10/5/2026).

Kegiatan ini dihadiri jajaran DPD LDII kabupaten/kota se-Jawa Timur, tokoh Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), Majelis Ulama Indonesia (MUI), akademisi, unsur kepolisian, hingga berbagai elemen masyarakat.

Forum tersebut menjadi ruang diskusi terbuka mengenai model pendidikan Islam modern yang mengedepankan keseimbangan antara ilmu pengetahuan, nilai agama, dan pembentukan karakter kebangsaan.

Ketua DPW LDII Jawa Timur KH Moch Amrodji Konawi menegaskan bahwa pendidikan merupakan pondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia dan masa depan bangsa.

Menurutnya, tantangan zaman tidak cukup dijawab hanya dengan kecerdasan intelektual, tetapi juga membutuhkan kekuatan moral dan spiritual.

“Pendidikan bukan sekadar urusan dunia. Ada pendidikan agama dan pendidikan karakter yang harus berjalan beriringan agar lahir generasi yang cerdas, matang secara spiritual, dan memiliki kepedulian sosial,” ujar Amrodji.

Ia menilai berbagai persoalan sosial yang muncul saat ini tidak hanya dipengaruhi faktor ekonomi dan teknologi, tetapi juga lemahnya karakter generasi muda. Karena itu, LDII menempatkan pendidikan karakter sebagai bagian penting dalam proses pembinaan masyarakat.

Menurut Amrodji, karakter erat kaitannya dengan budaya hidup, kedisiplinan, tanggung jawab, hingga akhlak dalam kehidupan sehari-hari.

“Kami ingin melahirkan generasi yang bukan hanya pintar, tetapi juga memiliki etika, disiplin, dan cinta terhadap bangsa,” katanya.

Dalam pemaparannya, Amrodji menjelaskan bahwa sistem pendidikan LDII dibangun melalui tiga pilar utama, yakni pendidikan umum untuk meningkatkan kompetensi profesional, pendidikan agama sebagai fondasi spiritual dan moral, serta pendidikan karakter untuk membentuk kepribadian yang baik di tengah masyarakat.

Ketiga aspek tersebut menjadi dasar konsep “Profesional Religius” yang selama ini dikembangkan LDII dalam proses pembinaan generasi.

“Kalau hanya mengejar urusan dunia tanpa memperhatikan akhirat, itu tidak seimbang. Begitu juga sebaliknya. Islam mengajarkan keseimbangan antara keduanya,” jelasnya.

Ia juga memaparkan bahwa pola pendidikan di lingkungan LDII dilakukan secara berkelanjutan dan menyasar seluruh kelompok usia, mulai anak-anak hingga lansia. Pembinaan dilakukan melalui berbagai kegiatan pengajian berdasarkan kelompok usia dan kebutuhan masyarakat.

Model pembinaan tersebut, lanjutnya, menjadi bagian dari upaya membangun budaya belajar sepanjang hayat.

“Kami ingin pendidikan terus berjalan dalam setiap fase kehidupan, bukan berhenti setelah seseorang lulus sekolah,” ungkapnya.

Dalam forum tersebut, LDII juga menegaskan keterbukaannya terhadap penelitian dan kajian akademik. Buku yang dibedah merupakan hasil penelitian akademisi eksternal, bukan disusun internal organisasi.

Bedah buku menghadirkan Dr Ahmad Ali, M.Ag sebagai narasumber utama yang memaparkan hasil riset mengenai sistem pendidikan LDII di berbagai daerah di Indonesia.

Sebelumnya, penelitian serupa juga pernah dilakukan oleh akademisi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

“Penelitian ini dilakukan pihak eksternal. Artinya, kami terbuka terhadap kritik maupun kajian ilmiah. Jika ada yang baik tentu dilanjutkan, dan jika ada kekurangan bisa diperbaiki bersama,” ujarnya.

Amrodji turut mengapresiasi kehadiran berbagai organisasi Islam seperti NU, Muhammadiyah, dan MUI dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, kolaborasi antarormas menjadi modal penting dalam menjaga persatuan umat sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan dan sumber daya manusia Indonesia.

“Kami adalah saudara muda dari NU dan Muhammadiyah. Semua memiliki tujuan yang sama, yakni membangun umat dan menjaga bangsa,” katanya.

Suasana diskusi berlangsung hangat dan interaktif. Selain menjadi forum akademik, kegiatan tersebut juga memperlihatkan upaya organisasi keagamaan dalam menjawab tantangan zaman melalui pendekatan pendidikan yang menitikberatkan pada nilai moral, profesionalisme, dan kebangsaan.