IHSG Tertinggal di Asia, Turun 20% Sejak Awal Tahun



Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi indeks saham dengan kinerja terburuk di Asia sepanjang tahun berjalan atau year to date (ytd). Hingga perdagangan Senin (11/5), IHSG tercatat merosot 20,14% ke Rp 6.905. Pergerakan ini menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia mengalami penurunan yang signifikan dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan.

Managing Director PT Samuel Tumbuh Bersama, Tae Yong Shim, menyatakan bahwa anjloknya IHSG dipengaruhi oleh kombinasi faktor baik dalam maupun luar negeri. Beberapa faktor tersebut antara lain tekanan terhadap nilai tukar rupiah, eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah, serta tuntutan dari pengelola indeks global MSCI terhadap transparansi pasar modal Indonesia.

Berdasarkan data dari sejumlah bursa saham Asia, indeks saham Korea Selatan KOSPI mencatatkan kenaikan tertinggi di kawasan dengan lonjakan 84,03% ke level 7.931,16. Kenaikan signifikan KOSPI tidak lepas dari upaya reformasi pasar modal yang tengah dilakukan Korea Selatan untuk membuka peluang kenaikan status dari pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar maju (developed market) dalam klasifikasi MSCI.

Shim menjelaskan bahwa pasar modal Korea Selatan saat ini memang sedang bersiap untuk memenuhi berbagai persyaratan menuju status developed market. Ia menyebut bahwa ada potensi peningkatan status terbaru di mana Korea Selatan dapat masuk ke MSCI Developed Market. Hal ini disebabkan oleh upaya pemerintah dan lembaga terkait dalam mempersiapkan diri untuk menuju ke sana.

MSCI dalam keterangannya juga menyebut tengah memantau implementasi reformasi pasar Korea Selatan, khususnya terkait peningkatan aksesibilitas pasar saham dan pasar valuta asing. Lembaga tersebut menilai reformasi itu perlu mampu menciptakan kondisi yang setara dengan pasar valuta asing offshore yang beroperasi penuh, sebagaimana yang berlaku di negara-negara dengan status developed market.

Selain Korea Selatan, sejumlah indeks saham utama Asia juga membukukan kenaikan indeks sepanjang tahun ini. Di antaranya adalah Taiwan Stock Exchange Weighted Index yang melonjak 42,39%, Nikkei Jepang sebesar 23,99%, SET Thailand sebesar 19,11%, serta VN Index Vietnam 6,22%. Indeks lainnya yang turut mencatatkan penguatan antara lain Straits Times Singapura sebesar 6,24%, Shanghai Composite Cina 6,45%, Tadawul Arab Saudi 6,25%, Malaysia KLCI 3,88%, dan Hang Seng Hong Kong 3,03%.

Di tengah penguatan mayoritas bursa regional tersebut, IHSG menjadi satu-satunya indeks utama di Asia yang mengalami koreksi, bahkan dua digit. Hal ini menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia mengalami tekanan yang cukup besar dibandingkan dengan negara-negara tetangga.

Mengapa IHSG Terkoreksi Paling Dalam?

Shim menilai terdapat dua faktor utama yang menekan pasar saham Indonesia. Pertama, meningkatnya tuntutan MSCI terhadap transparansi dan kualitas free float emiten di pasar domestik. Kedua, pelemahan nilai tukar rupiah yang masih berlanjut. Kedua isu tersebut merupakan persoalan struktural, sehingga penyelesaiannya membutuhkan keputusan strategis dari pemilik bisnis dan pembuat kebijakan.

Sorotan MSCI terhadap struktur kepemilikan saham yang terkonsentrasi pada sejumlah emiten dinilai memicu kekhawatiran investor asing terhadap tingkat likuiditas dan aksesibilitas pasar Indonesia. Di sisi lain, pelemahan rupiah turut meningkatkan tekanan terhadap arus modal asing, terutama di tengah ketidakpastian global akibat konflik geopolitik di Timur Tengah.

Meski demikian, Shim menilai peluang pembalikan arah atau reversal tetap terbuka seiring valuasi saham domestik yang kini semakin murah. Ia menyebut Samuel Sekuritas masih mempertahankan rekomendasi underweight secara taktis untuk aset saham.

Daftar Lengkap Kinerja Indeks se-Asia sejak awal 2026:

  • KOSPI Korea Selatan: naik 84,03%
  • Taiwan Stock Exchange Weighted Index: naik 42,39%
  • Nikkei Jepang: naik 23,99%
  • SET Thailand: naik 19,11%
  • VN Index Vietnam: naik 6,22%
  • Straits Times Singapura: naik 6,24%
  • Shanghai Composite Cina: naik 6,45%
  • Tadawul Arab Saudi: naik 6,25%
  • Malaysia KLCI: naik 3,88%
  • Hang Seng Hong Kong: naik 3,03%
  • Bursa Efek Indonesia: turun 20,14%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *