Veda Ega Pratama: Rookie Moto3 2026 yang Tampil Mengesankan
Veda Ega Pratama tidak lagi sekadar menjadi rookie yang mencuri perhatian di Moto3 2026. Setelah lima seri pertama musim ini, pembalap Honda Team Asia itu justru tampil sebagai pendatang baru paling komplet: cepat, konsisten, dan semakin sulit dikejar oleh para rival seangkatannya.
Data terbaru setelah GP Catalunya menunjukkan bahwa Veda memimpin klasemen Rookie of the Year dengan 58 poin. Ia unggul 16 angka atas Brian Uriarte di posisi kedua, sementara pembalap rookie lain seperti Hakim Danish, Casey O’Gorman, Rico Salmela, hingga Zen Mitani masih tertinggal lebih jauh.
Keunggulan itu membuat satu pertanyaan menjadi semakin relevan: seberapa superior Veda dibandingkan rookie Moto3 lain pada musim 2026? Jika melihat poin, hasil seri per seri, jumlah finis enam besar, serta cara ia bangkit saat akhir pekan berjalan sulit, jawabannya cukup jelas: Veda saat ini berada satu level di atas para pesaingnya.
Keunggulan Bukan Hanya dari Satu Balapan
Yang membuat posisi Veda istimewa bukan hanya karena ia ada di puncak klasemen rookie, tetapi karena keunggulan itu dibangun lewat performa yang relatif stabil di beberapa lintasan berbeda. Sampai usai GP Prancis, detikSport mencatat bahwa Veda sudah mengumpulkan 50 poin, meraih satu podium, tiga kali finis enam besar, dan satu kali gagal finis di Moto3 GP Amerika Serikat.
Setelah GP Catalunya, jumlah poinnya naik menjadi 58. Artinya, meski start dari posisi belakang dan tidak menjalani akhir pekan yang sempurna, Veda tetap mampu menambah angka penting yang membuat gap dengan para rival justru melebar.
Di sinilah letak pembeda utamanya. Banyak rookie bisa mencuri perhatian dalam satu seri, tetapi tidak semua mampu menjaga ritme poin ketika situasi balapan berubah. Veda justru menunjukkan kualitas itu sejak awal musim.
Dari Thailand Sampai Catalunya
Musim Veda dimulai dengan sangat meyakinkan. Pada debutnya di Thailand, ia langsung finis di posisi kelima dan membawa pulang poin besar yang langsung menempatkannya dalam radar persaingan rookie terbaik.
Lalu datang seri Brasil, momen yang mengubah persepsi banyak orang. Veda finis ketiga dan menjadi pembalap Indonesia pertama yang naik podium di ajang Grand Prix, sebuah hasil yang bukan cuma bersejarah tetapi juga memperkuat statusnya sebagai rookie berbahaya.
Setelah itu, Veda tidak menghilang. Ia tetap berada di jalur kompetitif dengan finis keenam di Jerez dan keempat di Prancis, dua hasil yang menunjukkan bahwa performanya bukan kebetulan sesaat.
Catalunya menjadi ujian berbeda. Veda sempat kesulitan sejak sesi practice, harus melalui jalur yang lebih berat dalam akhir pekan, lalu start dari posisi belakang. Namun, ia tetap mampu menutup balapan di posisi kedelapan dan menjaga momentum poin.
Jika ditarik sebagai satu garis besar, urutan hasil Veda dari Thailand, Brasil, Jerez, Prancis, hingga Catalunya menunjukkan pola yang sangat kuat: finis P5, P3, P6, P4, lalu P8. Untuk ukuran rookie, itu adalah paket konsistensi yang sangat mahal di Moto3.
Gap Poin dengan Rookie Lain Kian Terlihat
Klasemen rookie terbaru memperlihatkan betapa besar jarak yang sudah dibangun Veda. Usai Catalunya, ia mengoleksi 58 poin, sedangkan Brian Uriarte berada di posisi kedua dengan 42 poin.
Hakim Danish berada di urutan berikutnya dengan 27 poin. Casey O’Gorman mengoleksi 22 poin, Rico Salmela 21 poin, lalu nama-nama lain seperti Jesus Rios dan Leo Rammerstorfer masih terpaut lebih jauh, sementara Zen Mitani belum membuka poin.
Dari angka itu saja sudah terlihat bahwa Veda tidak hanya unggul tipis. Selisih 16 poin dari Brian Uriarte dan lebih dari 30 poin dari beberapa rookie lain menunjukkan bahwa ia sedang membangun dominasi nyata, bukan sekadar memimpin sementara karena satu hasil besar.
Konsistensi Jadi Senjata Terbesar
Kompetitor banyak menyoroti posisi Veda di klasemen rookie, tetapi belum semuanya membedah bagaimana keunggulan itu terbentuk. Padahal kuncinya ada pada konsistensi finis di area depan dan kemampuannya meminimalkan kerusakan saat akhir pekan tidak ideal.
Sampai pertengahan Mei 2026, Veda tercatat sudah meraih satu podium dan tiga finis enam besar. Itu berarti mayoritas hasil terbaik di kategori rookie sejauh ini justru dikunci oleh pembalap Indonesia tersebut.
Bandingkan dengan rookie lain yang masih naik-turun dari satu seri ke seri berikutnya. Ada yang sesekali kompetitif, tetapi belum mampu mempertahankan aliran poin seperti Veda. Dalam perebutan Rookie of the Year, pola seperti ini sering lebih menentukan daripada satu podium semata.
Veda juga punya satu hal yang jarang dimiliki rookie: kemampuan tetap terlihat berbahaya meski start dari belakang. Di Catalunya, misalnya, ia tetap bisa finis P8 setelah memulai balapan dari posisi jauh di belakang barisan depan. Ini menguatkan gambaran bahwa race craft Veda saat hari balapan sering lebih matang daripada beberapa rivalnya.
Bukan Sekadar Cepat, tapi Tahan Tekanan
Ada satu detail yang membuat narasi superioritas Veda makin kuat. Ia memang sempat sekali gagal finis di GP Amerika Serikat, tetapi setelah itu responsnya justru impresif karena langsung kembali mengumpulkan hasil solid di seri-seri berikutnya.
Dalam konteks rookie, respons terhadap kegagalan sering jadi pembeda terbesar antara pembalap yang sekadar menjanjikan dan pembalap yang siap bersaing serius. Veda menunjukkan bahwa mental balapnya cukup matang untuk bangkit cepat, lalu kembali menutup balapan di posisi atas.
Karena itu, label rookie terbaik saat ini terasa bukan sekadar tempelan klasemen. Veda memimpin karena ia memang punya kombinasi yang lebih lengkap: poin tinggi, hasil seri yang konsisten, kemampuan finis enam besar, dan daya tahan mental ketika akhir pekan tidak berjalan mulus.
Peluang Makin Terbuka
Dengan 58 poin setelah lima seri, Veda kini bukan hanya memimpin klasemen rookie, tetapi juga terus menjaga posisinya di papan atas klasemen umum Moto3. Situasi ini membuat namanya makin kuat dalam perburuan gelar Rookie of the Year 2026.
Selama ia mampu menjaga pola hasil seperti di Thailand, Brasil, Jerez, Prancis, dan Catalunya, para rival akan semakin sulit mengejar. Brian Uriarte masih menjadi ancaman terdekat, tetapi untuk saat ini, Veda Ega Pratama adalah standar baru di kelompok rookie Moto3 2026.




