Peringatan Idul Adha yang Lebih Dalam
Idul Adha tidak hanya menjadi momen ritual keagamaan tahunan bagi umat Islam, tetapi juga menjadi kesempatan untuk memperkuat ketakwaan kepada Allah SWT. Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, dalam pernyataannya.
Momen untuk Memperkuat Keimanan
Menurut Haedar, Idul Adha setiap tahun dilaksanakan dan telah menjadi rutinitas ritual keagamaan bagi umat Islam di berbagai belahan dunia. Namun, ia menekankan bahwa makna Idul Adha tidak boleh terbatas pada seremoni lahiriah semata. Ibadah salat ied maupun kurban harus dipahami sebagai jalan untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
“Idul Adha, baik ibadah salatnya maupun kurbannya, sejatinya tidak berhenti di formalitas mata. Hakikat dan tujuan utamanya ialah meraih ketakwaan,” ujar Haedar Nashir dalam pernyataannya.
Ritual yang Mudah Dilakukan
Ia menjelaskan, aspek ritual Idul Adha secara formal relatif mudah dilakukan, mulai dari pelaksanaan salat ied hingga penyembelihan hewan kurban bagi umat Islam yang memiliki kemampuan secara ekonomi. Sementara bagi masyarakat yang belum mampu berkurban, tidak ada kewajiban yang dibebankan dan justru dapat menerima pembagian daging kurban.
Haedar menegaskan bahwa seluruh bentuk salat dalam Islam, termasuk salat Idul Adha, memiliki tujuan utama untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dari ibadah tersebut, seorang muslim diharapkan mampu menjadi pribadi yang menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.
“Ibadah salat apa pun jenisnya, termasuk salat Idul Adha, ialah mendekatkan diri kepada Allah dengan tujuan membentuk ketakwaan. Yakni menjadi pribadi yang selalu menjalankan perintah Allah dan menjauhkan larangan-Nya, sehingga mendapatkan rida dan karunia Allah (yabtaghuna fadhlam minallahi wa ridhwana),” tegasnya.
Nilai Utama Kurban
Haedar juga menegaskan bahwa ibadah kurban memiliki esensi yang sama, yakni membentuk pribadi bertakwa. Menurutnya, nilai utama kurban bukan terletak pada banyaknya hewan yang disembelih, melainkan keikhlasan dan ketundukan kepada Allah SWT.
Lebih lanjut, Haedar mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Al-Hajj ayat 37 yang menegaskan bahwa yang sampai kepada Allah bukanlah daging maupun darah hewan kurban, melainkan ketakwaan dari orang yang melaksanakannya.
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai keridaan Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkan untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik,” pungkasnya.






