jatim.
SURABAYA – Bagi Wakil Ketua DPD Partai Golkar Jawa Timur sekaligus Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya Arif Fathoni, kunjungan ke Pulau Bawean, Kabupaten Gresik bukan sekadar agenda safari politik. Perjalanan itu menjadi momen pulang setelah 26 tahun meninggalkan pulau yang pernah membentuk perjalanan hidupnya.
Terakhir kali Fathoni tinggal di Bawean pada 1998 saat masih duduk di bangku SMP. Kini, dia kembali bersama rombongan safari politik Partai Golkar yang dipimpin Ketua DPD Partai Golkar Jawa Timur sekaligus anggota DPR RI Ali Mufthi. Namun, di balik agenda politik tersebut, tersimpan kisah yang jauh lebih personal.
“Pulau Bawean adalah sekolah kehidupan bagi saya. Di sini saya belajar bukan hanya pelajaran di sekolah, tetapi juga belajar tentang hidup dan kehidupan,” ujar Fathoni dalam keterangan tertulis, Selasa (7/7).
Pria yang akrab disapa Toni itu bercerita, dirinya tinggal di Bawean setelah kedua orang tuanya berpisah. Saat sang kakak memilih tinggal bersama ibu, Toni memutuskan ikut pamannya agar beban ibunya lebih ringan. Pamannya kemudian membiayai pendidikan Toni sehingga dia dapat melanjutkan sekolah di Pulau Bawean pada 1996 hingga 1998.
Di pulau itulah kemampuan berbicara di depan publik mulai terasah. Toni mengaku hampir selalu meraih juara pertama lomba pidato dalam Pekan Olahraga dan Seni Ma’arif (Porsema) selama bersekolah di Bawean. Pengalaman tersebut, menurutnya, menjadi bekal berharga hingga kini saat menjalankan tugas sebagai politisi.
Selama tiga hari mengikuti safari politik pada 4-6 Juli 2026, Toni menyempatkan diri mengunjungi kembali sejumlah tempat yang pernah menjadi bagian dari masa kecilnya. Dia bersyukur keindahan alam Bawean masih terjaga.
“Alhamdulillah saya melihat hutannya masih terjaga. Tidak ada penggundulan hutan. Bentang pantainya juga masih sangat indah seperti dulu,” katanya.
Namun, di balik keindahan alam tersebut, Toni justru menemukan persoalan yang menurutnya belum banyak berubah selama lebih dari dua dekade. Dalam dialog bersama masyarakat, kepala desa, hingga pemerintah kecamatan, keluhan mengenai layanan kesehatan dan transportasi laut kembali mencuat.
Toni mengaku persoalan itu pernah dia rasakan sendiri ketika tinggal di Bawean. “Problem itu dulu juga saya alami ketika kecil tinggal di Bawean. Warga yang sakit tidak bisa dirujuk karena kapal tidak berangkat akibat cuaca buruk,” kenangnya.
Menurut dia, kondisi tersebut semestinya sudah tidak terjadi lagi. Keberadaan RSUD Umar Mas’ud Bawean yang kini berstatus paripurna harus diikuti dengan ketersediaan dokter spesialis, tenaga kesehatan, dan peralatan medis yang memadai. “Kalau rumah sakitnya sudah berstatus paripurna, harusnya fasilitas dan tim medis sudah lengkap. Warga cukup berobat di Bawean. Kalau tidak, berarti persoalannya masih sama seperti 26 tahun lalu,” ujarnya.
Persoalan transportasi laut juga kembali dia rasakan saat hendak meninggalkan Bawean. Kapal yang akan ditumpanginya batal berlayar karena cuaca buruk sesuai peringatan BMKG. “Ini seperti mengulang pengalaman 26 tahun lalu. Dulu saya mengalaminya, sekarang ternyata masyarakat masih menghadapi persoalan yang sama,” katanya.
Toni berharap pemerintah dapat menghadirkan kapal dengan kapasitas lebih besar yang mampu beroperasi saat gelombang lebih tinggi sehingga mobilitas warga maupun distribusi logistik tidak selalu terhenti akibat cuaca. Dia juga berharap Bupati Gresik dan Gubernur Jawa Timur dapat memperkuat koordinasi untuk menjadikan transportasi laut dan layanan kesehatan sebagai prioritas pembangunan Pulau Bawean.
Selain itu, Toni menilai Bawean memiliki potensi besar di sektor pariwisata. Namun, pengembangannya harus tetap menjaga karakter masyarakat yang religius dan mengedepankan konsep ekowisata berbasis kearifan lokal. “Kalau wisata Bawean berkembang, biarlah berkembang dengan karakter Bawean sendiri. Yang dibangun adalah ekowisata berbasis kearifan lokal, bukan meniru daerah lain,” tuturnya.
Bagi Toni, kepulangan ke Bawean menjadi pengingat atas perjuangan hidup yang pernah ditempanya di pulau tersebut. “Saya merasa mendapatkan energi kembali. Semangat hidup yang dulu saya pelajari di Bawean menjadi pengingat untuk terus berbagi manfaat dan melayani masyarakat,” ujarnya.
Dia berharap berbagai aspirasi masyarakat yang diperoleh selama safari politik dapat diperjuangkan melalui kebijakan dan penganggaran, terutama untuk menyelesaikan persoalan klasik layanan kesehatan dan transportasi yang hingga kini masih dirasakan warga. “Kami berharap masalah klasik yang terjadi di Bawean 26 tahun lalu, dan sekarang masih tetap sama, bisa segera diatasi, terutama masalah pelayanan kesehatan dan kapal. Menurut saya ini sangat penting dan harus dipikirkan pemerintah demi kemajuan Pulau Bawean ke depan,” pungkasnya.





