PENS Satukan Peneliti dari 19 Negara Lewat International Electronics Symposium 2026

Teks Foto : Ratusan peneliti dari 19 negara mengikuti International Electronics Symposium (IES) 2026 sebagai ajang kolaborasi dan pertukaran gagasan di bidang teknologi. (ist)

YOGYAKARTA – Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) kembali memperkuat kiprahnya di kancah internasional melalui penyelenggaraan International Electronics Symposium (IES) 2026. Konferensi internasional yang berlangsung pada 1–3 Agustus 2026 di Sahid Raya Hotel & Convention Yogyakarta itu berhasil menghimpun 526 makalah ilmiah dari 19 negara.

Mengusung tema “Cyber-Physical Systems and Society: Bringing Human Behavior and Social Dynamics into the Technological Ecosystem”, IES 2026 menjadi wadah bagi akademisi, peneliti, industri, dan pemerintah untuk mendiskusikan perkembangan teknologi yang tidak hanya berorientasi pada inovasi, tetapi juga mempertimbangkan perilaku manusia dan dinamika sosial.

Penyelenggaraan tahun ini menjadi momen bersejarah bagi PENS karena untuk pertama kalinya IES digelar di Yogyakarta. Kota pelajar tersebut dipilih karena memiliki ekosistem pendidikan tinggi yang kuat serta daya tarik bagi peneliti dari berbagai negara.

Tingginya antusiasme peserta tercermin dari jumlah makalah yang diterima panitia selama proses seleksi. Dari total 526 makalah yang masuk, sebanyak 198 makalah dinyatakan lolos dengan acceptance rate sebesar 37,6 persen.

Sebanyak 126 peneliti mempresentasikan hasil risetnya secara langsung, sementara 72 peneliti mengikuti sesi presentasi secara daring.

General Chairman IES 2026, Adnan Rachmat Anom Besari, S.ST., M.Sc., Ph.D., mengatakan penyelenggaraan IES tahun ini dirancang untuk memperluas kolaborasi internasional sekaligus memperkuat posisi PENS dalam komunitas akademik dunia.

“Tujuan utama IES adalah internasionalisasi. PENS ingin menjadi bagian dari komunitas akademik dan peneliti internasional sehingga dapat mengembangkan riset yang menjawab persoalan di Indonesia sekaligus tantangan global di bidang energi, kesehatan, dan lingkungan,” ujarnya.

Menurut Anom, tema IES 2026 mencerminkan perubahan paradigma dalam pengembangan teknologi. Inovasi tidak lagi cukup dikembangkan di laboratorium, tetapi harus melibatkan masyarakat sejak tahap perancangan agar teknologi yang dihasilkan benar-benar sesuai kebutuhan.

“Melalui tema Cyber-Physical Systems and Society, kami ingin masyarakat tidak hanya menjadi pengguna, tetapi ikut menjadi bagian dari proses pengembangan teknologi sehingga inovasi benar-benar tumbuh bersama masyarakat,” katanya.

Hadirkan Pakar Indonesia dan Jepang

IES 2026 menghadirkan empat keynote speaker dari Indonesia dan Jepang yang membahas berbagai isu strategis, mulai dari arah kebijakan riset nasional, pengembangan cyber-physical-social systems, pemanfaatan kecerdasan buatan untuk keamanan siber, hingga teknologi autentikasi terdesentralisasi yang mendukung perlindungan privasi digital.

Keempat pembicara tersebut adalah Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Dr. Fauzan Adziman, S.T., M.Eng., Prof. Dr. Naoyuki Kubota dari Tokyo Metropolitan University, Prof. Iwan Syarif, Ph.D. dari PENS, serta Prof. Toru Nakanishi dari Hiroshima University.

Selain sesi utama, konferensi juga menghadirkan tujuh workshop internasional yang membahas telekomunikasi, keamanan siber berbasis kecerdasan buatan, sistem pengukuran radiasi nuklir, software-defined vehicle, integrasi AI untuk lingkungan, teknologi imersif, hingga keamanan Internet of Things (IoT).

Diskusi ilmiah semakin kaya melalui sembilan sesi paralel yang mengangkat berbagai bidang, mulai dari energi, elektronika, telekomunikasi, robotika, komputasi cerdas, multimedia, hingga teknologi interaktif.

Bidang telekomunikasi menjadi salah satu topik yang paling diminati. Hal ini didukung kolaborasi dengan berbagai perguruan tinggi, di antaranya Telkom University, Universitas Gadjah Mada, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas AMIKOM Yogyakarta, Politeknik Teknologi Nuklir, serta sejumlah institusi lainnya.

Perkuat Kolaborasi Riset Internasional

Direktur PENS, Dr. Ing. Ir. Arif Irwansyah, S.T., M.Eng., menegaskan bahwa International Electronics Symposium merupakan bagian dari komitmen PENS dalam menghadirkan forum ilmiah bertaraf internasional yang mampu mempertemukan berbagai pemangku kepentingan.

“International Electronics Symposium merupakan wadah strategis untuk mempertemukan akademisi, peneliti, industri, dan pemerintah dalam membangun kolaborasi yang menghasilkan inovasi berdampak. Perkembangan teknologi perlu berjalan selaras dengan pemahaman terhadap perilaku manusia dan dinamika sosial agar memberi manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” ujarnya.

Arif menambahkan, PENS akan terus memperluas jejaring internasional melalui kolaborasi penelitian, publikasi ilmiah, serta pertukaran pengetahuan bersama perguruan tinggi dan mitra industri dari berbagai negara.

IES 2026 turut mendapat dukungan dari sejumlah mitra industri dan institusi pendidikan, di antaranya Cisco Indonesia, Indosat Ooredoo Hutchison, Gameloft Indonesia, Telkomsat, Telkom Indonesia, PIKEBU, dan DigiWare Unlimited Innovations.

Sebagai bentuk apresiasi terhadap kualitas riset yang dipresentasikan, panitia memberikan Best Paper Awards kepada sembilan makalah terbaik. Penghargaan tersebut terbagi ke dalam dua kategori, yakni Engineering Technology and Applications (ETA) dengan empat pemenang serta Knowledge Creation and Intelligent Computing (KCIC) dengan lima pemenang.