News  

PT Terminal Teluk Lamong Buktikan Komitmen ESG Lewat Program Kepiting Soka

JAKARTA – PT Terminal Teluk Lamong (TTL) kembali mencatatkan prestasi di bidang Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Anak perusahaan BUMN tersebut meraih penghargaan TJSL & CSR Award 2026 Kategori Gold melalui program pemberdayaan masyarakat pesisir bertajuk “Pengembangan Kelompok Budidaya Kepiting Soka”.

Penghargaan tersebut diberikan dalam ajang TJSL & CSR Award 2026 yang digelar di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (6/8/2026).

Tahun ini, TJSL & CSR Award mengusung tema “Transisi TJSL Menuju ESG Rating dan Creating Shared Value”. Tema tersebut mencerminkan perkembangan praktik TJSL yang tidak lagi sekadar menjadi program sosial perusahaan, tetapi telah diarahkan menjadi bagian dari strategi keberlanjutan dan penciptaan nilai bersama.

Bagi TTL, penghargaan tersebut sekaligus menjadi pengakuan atas konsistensi perusahaan dalam mengintegrasikan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) ke dalam pelaksanaan program TJSL di sekitar wilayah operasionalnya.

Corporate Communication PT Terminal Teluk Lamong, Dahlia Permata Sari, mengatakan penghargaan tersebut merupakan bentuk apresiasi terhadap kolaborasi perusahaan dengan berbagai pemangku kepentingan dalam menjalankan program pemberdayaan masyarakat.

Menurut dia, keberhasilan program TJSL tidak semata-mata dilihat dari penghargaan yang diperoleh, tetapi terutama dari dampak yang dihasilkan bagi masyarakat dan lingkungan.

“Bagi kami, keberhasilan sebuah program diukur dari sejauh mana program tersebut mampu menjawab kebutuhan masyarakat, menciptakan kemandirian ekonomi, sekaligus mendukung keberlanjutan lingkungan di sekitar wilayah operasional perusahaan,” ujar Dahlia, Kamis (6/8/2026).

Program pengembangan budidaya kepiting soka tersebut disusun berdasarkan hasil pemetaan sosial (social mapping) terhadap masyarakat di tujuh kelurahan yang berada di area ring 1 sekitar wilayah operasional TTL.

Pemetaan tersebut dilakukan untuk mengidentifikasi berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat pesisir. Salah satunya adalah semakin menyempitnya area tangkap nelayan seiring dengan perkembangan aktivitas kepelabuhanan serta menurunnya akses masyarakat terhadap sumber daya alam pesisir.

Kondisi tersebut mendorong TTL mengembangkan alternatif mata pencaharian yang dapat disesuaikan dengan kondisi masyarakat sekaligus memiliki prospek ekonomi.

Budidaya kepiting soka kemudian dikembangkan sebagai salah satu solusi mata pencaharian alternatif yang adaptif, produktif, dan berkelanjutan bagi masyarakat pesisir.

Program tersebut tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat, tetapi juga memperkuat kapasitas kelembagaan kelompok nelayan. Penguatan dilakukan melalui pendampingan secara intensif, pelatihan teknis budidaya, hingga pembukaan akses untuk meningkatkan nilai tambah komoditas perikanan.

Dengan pendekatan tersebut, TTL berupaya memastikan program pemberdayaan tidak berhenti pada pemberian bantuan, tetapi mampu mendorong masyarakat menjadi lebih mandiri dalam mengelola kegiatan ekonomi secara berkelanjutan.

Sementara itu, CEO BUMN Track SH Sutarto mengatakan TJSL & CSR Award telah menjadi salah satu tolok ukur bagi BUMN maupun anak perusahaan BUMN dalam mengembangkan praktik tanggung jawab sosial yang inovatif, terukur, serta memberikan dampak nyata.

Ia menilai paradigma pelaksanaan TJSL saat ini telah mengalami perubahan. Perusahaan tidak lagi hanya dinilai berdasarkan besarnya anggaran yang dikeluarkan untuk program sosial, tetapi dari manfaat dan perubahan yang berhasil diciptakan.

“Keberhasilan TJSL saat ini tidak lagi diukur dari besarnya anggaran yang dikeluarkan, melainkan dari besarnya perubahan yang dihasilkan dalam membangun kehidupan masyarakat. Perusahaan yang mampu menciptakan manfaat bagi publik akan memperoleh kepercayaan yang lebih besar,” tegas SH Sutarto.

Penghargaan Gold yang diraih TTL melalui program budidaya kepiting soka tersebut menjadi bukti bahwa pelaksanaan TJSL dapat berjalan beriringan dengan strategi keberlanjutan perusahaan.