SURABAYA – Penanganan tuberkulosis (TB) di masa depan membutuhkan perubahan paradigma. Pendekatan konvensional dalam diagnosis dan terapi perlu diarahkan menuju sistem yang lebih cepat, presisi, mudah diakses, serta mampu menyesuaikan karakteristik masing-masing pasien.
Hal tersebut disampaikan Prof. Dr. Soedarsono, Sp.P(K), dalam International Guest Lecture bertajuk Research Frontiers in Infection and Fetal Neurodevelopment yang digelar Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Senin (10/8/2026).
Dalam forum tersebut, Prof. Soedarsono memaparkan perkembangan mutakhir riset TB, mulai dari strategi penemuan kasus, diagnosis, deteksi resistansi obat hingga pengembangan terapi berbasis kedokteran presisi.
Menurutnya, tantangan pengendalian TB masih sangat besar. Berdasarkan Global Tuberculosis Report 2025, pada 2024 diperkirakan terdapat 10,6 juta orang yang mengalami TB di dunia dengan 1,3 juta kematian.
Indonesia menyumbang sekitar 10 persen kasus TB global atau sekitar 1,08 juta kasus dan berada di posisi kedua dunia setelah India.
Karena itu, upaya eliminasi TB tidak cukup hanya mengandalkan inovasi yang bersifat inkremental. Diperlukan perubahan paradigma dalam menemukan, mendiagnosis, dan menangani pasien TB.
Salah satu perubahan yang tengah berkembang adalah pergeseran dari passive case finding menuju deteksi kasus yang lebih proaktif dan berbasis risiko.
Kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi, seperti kontak serumah pasien TB, penderita HIV, diabetes, malnutrisi, orang dengan riwayat TB, serta masyarakat yang tinggal di lingkungan padat, perlu mendapatkan perhatian lebih dalam upaya menemukan kasus secara dini.
Teknologi digital juga mulai memainkan peran penting dalam proses tersebut. Pemanfaatan foto toraks digital yang dipadukan dengan artificial intelligence (AI) dapat membantu proses skrining sekaligus menentukan kelompok yang membutuhkan pemeriksaan molekuler lebih lanjut.
Perubahan paradigma juga terjadi dalam jenis sampel yang digunakan untuk diagnosis. Pemeriksaan TB tidak lagi sepenuhnya bergantung pada sputum atau dahak.
Prof. Soedarsono menjelaskan, berbagai penelitian kini mengembangkan alternatif sampel, antara lain urine, darah, tongue swab, aerosol pernapasan, hingga biomarker respons tubuh.
Pendekatan tersebut penting karena tidak semua pasien mampu menghasilkan sputum yang memadai untuk pemeriksaan.
Pada 2026, WHO telah merekomendasikan penggunaan tongue swab dengan teknologi tertentu bagi orang dewasa dan remaja yang tidak dapat menghasilkan sputum.
Meski demikian, pemeriksaan sputum masih memiliki sensitivitas lebih tinggi dan tetap menjadi pilihan utama apabila tersedia.
Selain itu, riset TB juga mulai mengarah pada pemanfaatan biomarker host, termasuk transcriptomic signatures, proteomik, metabolomik, cytokine panels, dan immune signatures.
Pengembangan biomarker tersebut diharapkan dapat membantu membedakan infeksi, penyakit subklinis, dan TB aktif. Teknologi tersebut juga berpotensi digunakan untuk memprediksi risiko perkembangan penyakit serta respons pasien terhadap terapi.
Menuju Kedokteran Presisi
Perubahan paradigma tidak hanya terjadi pada diagnosis, tetapi juga dalam pengobatan TB. Prof. Soedarsono menegaskan bahwa pasien TB bukanlah kelompok yang homogen.
Respons terhadap pengobatan dapat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari beban bakteri, pola resistansi obat, usia, berat badan, diabetes, HIV, malnutrisi, fungsi hati dan ginjal, interaksi obat, variasi farmakokinetik hingga faktor genetik.
Karena itu, arah riset TB masa depan bergerak menuju precision medicine atau kedokteran presisi.
Konsep tersebut menekankan pemberian obat yang tepat kepada pasien yang tepat, dengan dosis dan durasi yang tepat. Dengan pendekatan ini, terapi diharapkan semakin terindividualisasi sesuai karakteristik penyakit dan kondisi masing-masing pasien.
Tantangan lain yang menjadi perhatian adalah resistansi obat. Pemeriksaan resistansi secara konvensional membutuhkan waktu karena harus menunggu pertumbuhan bakteri.
Perkembangan rapid molecular assays, targeted sequencing, next-generation sequencing, whole-genome sequencing, serta pemanfaatan basis data mutasi resistansi membuka peluang untuk memperoleh profil resistansi secara lebih cepat.
Dengan demikian, dokter dapat menentukan terapi yang efektif sedini mungkin dan mengurangi risiko pemberian obat yang tidak sesuai dengan pola resistansi pasien.
Prof. Soedarsono juga mengingatkan bahwa TB tidak semestinya dipandang secara sederhana hanya sebagai kondisi laten atau aktif. Perjalanan penyakit TB bersifat dinamis dan dapat bergerak menuju progresi, stabil, regresi hingga clearance.
Karena itu, penelitian masa depan perlu mampu mengidentifikasi pasien yang berisiko mengalami progresi, mereka yang kemungkinan tetap stabil, serta pasien yang membutuhkan terapi pencegahan lebih intensif.
Dalam konteks Unusa, perkembangan tersebut memiliki relevansi strategis dengan keberadaan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Pulmonologi.
Forum ilmiah seperti International Guest Lecture menjadi ruang bagi dosen, dokter, dan residen untuk mengikuti perkembangan terbaru dalam ilmu pulmonologi sekaligus mengidentifikasi peluang pengembangan riset yang dapat menjawab persoalan TB di Indonesia.
Prof. Soedarsono menegaskan, ukuran keberhasilan sebuah inovasi kesehatan pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi.
Dampak nyata terhadap masyarakat menjadi ukuran penting. Karena itu, inovasi dalam diagnosis maupun terapi harus diarahkan agar semakin mudah diakses, akurat, aman, serta memberikan manfaat nyata bagi pengendalian TB.
Bagi Unusa, pengembangan keilmuan pulmonologi tidak berhenti pada peningkatan kompetensi klinis. Kehadiran PPDS Pulmonologi juga menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem pendidikan, penelitian, dan pelayanan kesehatan yang mampu merespons persoalan penyakit paru, khususnya TB, melalui pendekatan berbasis bukti dan teknologi.






