.CO.ID, JAKARTA — Pada 5–6 September 2026, para pemimpin pendidikan, akademisi, dan pengelola pesantren akan bertemu di Jakarta dalam Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES). Nama forum ini menarik perhatian saya pada satu kata: holistic. Sebab jauh sebelum istilah itu menjadi tema sebuah pertemuan internasional, pesantren sebenarnya sudah lama hidup dengan pendidikan yang tidak mengenal batas tegas antara kelas dan kehidupan.
Karena itu, menjelang GIHES, saya ingin mengajukan satu catatan kecil yang mungkin agak mengganggu: kalau kita sungguh ingin berbicara tentang pendidikan holistik, mungkin sudah waktunya menggeser core pendidikan dari hidden curriculum menuju holistic curriculum.
Istilah hidden curriculum tidak lahir karena para ahli pendidikan sedang kekurangan istilah. Ia lahir dari kegelisahan melihat kehidupan nyata anak di sekolah.
Pada 1968 Philip W. Jackson menerbitkan Life in Classrooms. Ia tidak hanya melihat kelas sebagai tempat guru mengirim pelajaran dan siswa menerima. Ia melihat kelas sebagai kehidupan. Ada anak yang aktif, ada yang terus menunggu; ada yang sering dipuji, ada yang ditegur; ada yang terlibat penuh, dan ada pula yang perlahan menarik diri. Mereka duduk di ruang yang sama, tetapi belum tentu mengalami pendidikan yang sama.
Sekolah mudah melihat anak yang mampu menjawab pertanyaan. Nilainya ada, ranking-nya ada, lembar ujiannya ada. Tetapi bagaimana dengan anak yang hadir setiap hari, tidak membuat masalah, tidak menonjol, jarang ditanya, dan nyaris tidak pernah mendapat pujian? Ia hadir, tetapi hampir tak terlihat.
Apakah ia tidak belajar? Tentu saja ia belajar. Hanya saja mungkin bukan pelajaran yang sedang kita ukur.
Ia belajar kapan boleh berbicara dan kapan harus diam. Ia belajar bagaimana rasanya menunggu dan tidak dipilih. Ia belajar siapa yang mendapat perhatian, siapa yang mempunyai kuasa, jawaban macam apa yang mendapat pujian, dan perilaku macam apa yang mengundang teguran.
Jackson melihat kehidupan kelas antara lain melalui crowds, praise, and power: kerumunan, penghargaan, dan kekuasaan. Anak ternyata tidak hanya belajar matematika, bahasa, atau sejarah. Ia sekaligus belajar bagaimana hidup dalam sebuah struktur sosial bernama sekolah.
Di wilayah itulah kita mengenal hidden curriculum: kurikulum yang tidak ditulis, tetapi dipelajari; tidak tercantum dalam jadwal, tetapi dialami; tidak diujikan pada akhir semester, tetapi meninggalkan jejak dalam diri anak. Sampai di sini saya setuju.
Tetapi setelah lebih dari setengah abad kita membicarakannya, saya mulai agak “nakal” bertanya: kalau kita sudah tahu ada kurikulum tersembunyi, mengapa terus kita biarkan tersembunyi? Kalau sudah ketahuan tempat persembunyiannya, ya jangan disembunyikan lagi.
Jackson membantu kita menemukan kurikulum yang tersembunyi. Tantangan pendidikan hari ini adalah berhenti membiarkannya tersembunyi. Di sinilah saya ingin menggeser core pendidikan dari hidden curriculum menuju holistic curriculum.
Saya tidak sedang mengatakan bahwa hidden curriculum salah. Konsep itu berjasa besar karena mengingatkan bahwa anak tidak hanya belajar dari apa yang kita ajarkan. Anak belajar dari apa yang ia alami. Tetapi pendidikan tidak cukup hanya menjadi pekerjaan detektif: menemukan apa yang tersembunyi. Pendidikan adalah pekerjaan desain.
Kalau lingkungan mendidik, lingkungan harus dirancang. Kalau hubungan mendidik, hubungan harus diperhatikan. Kalau penghargaan dan teguran mendidik, keduanya harus dikelola. Kalau pengalaman adalah guru, pengalaman peserta didik tidak boleh terus dianggap produk sampingan kurikulum.
Ia harus masuk ke jantung kurikulum itu sendiri.
Di titik ini John P. Miller memberi bahasa yang cukup terang. Pendidikan holistik, baginya, berusaha mengembangkan manusia sebagai keseluruhan: intelektual, emosional, fisik, sosial, estetis, bahkan spiritual. Kerangkanya bertumpu pada tiga hal: balance, inclusion, dan connection—keseimbangan, ketercakupan, dan keterhubungan. Artinya, pendidikan tidak boleh hanya membesarkan kepala sambil membiarkan hati, tubuh, relasi sosial, dan kehidupan batin berjalan sendiri-sendiri.
UNESCO mendefinisikan pendidikan holistik sebagai pendekatan pembelajaran yang menekankan perkembangan manusia secara utuh dengan mengintegrasikan pertumbuhan emosional, sosial, fisik, dan kognitif. Dalam berbagai pendekatan kurikulum dan pedagoginya, UNESCO juga mendorong pembelajaran yang melampaui fragmentasi disiplin: interdisipliner, berbasis proyek (project-based), serta menghubungkan apa yang dipelajari di sekolah dengan kehidupan nyata, komunitas, dan tantangan global.
Nah, masalahnya menjadi lucu. Kita sangat rapi merancang learning to know, tetapi learning to be dan learning to live together sering kita serahkan kepada kebetulan: terjadi di asrama, kantin, organisasi, lapangan, antrean, bahkan klik sosial yang sering muncul. Padahal justru di sanalah anak sering belajar menjadi manusia.
Itulah holistic curriculum yang saya maksud. Bukan menambah mata pelajaran baru bernama “Holistic Curriculum”. Jangan. Nanti kasihan anak-anak. Jadwal mereka sudah padat. Yang harus diperluas bukan jumlah mata pelajaran, tetapi kesadaran kita tentang apa yang disebut pendidikan.
Dan ketika gagasan ini dibawa ke pesantren, persoalannya menjadi jauh lebih menarik.
Pesantren mempunyai sesuatu yang tidak dimiliki banyak sekolah: kehidupan. Santri tidak datang pukul tujuh lalu pulang pukul dua. Ia hidup di dalam sistem pendidikan. Ia bangun, tidur, makan, beribadah, belajar, berteman, bertengkar, berdamai, sakit, tertawa, kadang menangis di sana.
Ia belajar menjadi pemimpin, dan pada saat lain harus belajar dipimpin.
Kalau Jackson menemukan hidden curriculum dengan mengamati kehidupan siswa di kelas, saya sering membayangkan: bagaimana kalau Jackson mondok seminggu?
Mungkin bukunya tidak lagi berjudul Life in Classrooms, tetapi Life Everywhere. Sebab di pesantren, kelas hanya salah satu ruang pendidikan. Masjid mendidik. Asrama mendidik. Lapangan mendidik. Organisasi mendidik. Dapur mendidik. Bahkan antre kamar mandi mendidik.
Cara dapur membagi lauk bisa lebih efektif mengajarkan keadilan daripada satu jam pelajaran akhlak. Cara ustaz menegur santri dapat mengajarkan penghormatan—atau penghinaan. Cara pengurus memperlakukan junior mengajarkan kepemimpinan—atau bahwa kekuasaan boleh dipakai semaunya. Cara teman merawat temannya yang sakit mengajarkan kasih sayang tanpa perlu definisi panjang. Ini artinya bahwa Masjid berbicara. Asrama berbicara. Kamar mandi pun berbicara. Bahkan ketika tidak ada seorang pun sedang berceramah, sistem tetap mengirim pesan.
Di sinilah saya sering merasa pendidikan terlalu percaya kepada kata-kata. Kita memberi ceramah tentang kebersihan, tetapi lingkungan kotor. Kita berbicara tentang disiplin, tetapi guru datang terlambat. Kita menjelaskan akhlak mulia, tetapi anak menyaksikan kemarahan yang tidak terkendali.
Anak akhirnya menerima dua kurikulum. Yang satu dibacakan. Yang satu diperagakan. Maaf saja, biasanya yang diperagakan lebih kuat daripada yang dibacakan.
Karena itu saya sedikit khawatir setiap kali mendengar slogan: “Pesantren mendidik dua puluh empat jam.” Kalimat itu bagus sekali untuk brosur. Tetapi kalau benar pesantren mendidik dua puluh empat jam, kalimat itu sekaligus merupakan ancaman bagi pengelolanya. Sebab kesalahan sistem pada pukul sepuluh malam pun adalah kurikulum.
Senioritas yang berubah menjadi kekerasan adalah kurikulum. Pengurus yang merendahkan junior adalah kurikulum. Guru yang menuntut disiplin tetapi dirinya tidak disiplin adalah kurikulum. Anak yang hanya diperhatikan ketika berprestasi juga sedang menerima kurikulum.
Kalau pendidikan berlangsung dua puluh empat jam, maka dua puluh empat jam pula lembaga harus bertanggung jawab terhadap pesan yang diproduksi sistemnya.
Di zaman digital persoalannya bertambah rumit. Kita masih kadang memperlakukan anak seperti hard disk: guru mengirim data, ujian mengecek berapa persen file berhasil disimpan. Anak yang menyimpan banyak disebut pintar. Yang tidak, remedial.
Padahal setelah kelas selesai, ia kembali ke layar. Guru mungkin berbicara tentang akhlak satu jam. Algoritma bekerja enam jam. Walaupun banyak pesantren yang melarang penggunaan dawai –tapi saat liburan semester hal itu tetap tak terelakkan.
YouTube, TikTok, gim, influencer, mesin pencari, kecerdasan buatan, dan grup percakapan sekarang ikut mendidik anak. Mereka tidak tercantum dalam struktur organisasi sekolah, tidak punya nomor induk pegawai, dan tidak pernah hadir dalam rapat guru. Tetapi mereka bekerja.
Lalu ketika ada sesuatu yang tidak kita sukai, kita bertanya, “Anak-anak sekarang kenapa?” Mungkin pertanyaannya perlu dibalik: ekosistem pendidikan kita sedang membentuk mereka menjadi apa?
Nah, pertanyaan itulah jantung holistic curriculum. Pendidikan tidak cukup bertanya: apa yang sudah diajarkan? Ia harus bertanya: apa yang dialami anak? Apa yang ia lihat dan dengar? Siapa yang menjadi teladan? Bagaimana orang lemah diperlakukan? Apakah ia boleh bertanya? Apakah kesalahan menjadi kesempatan belajar atau sekadar alasan menghukum? Semua itu kurikulum.
Dalam pendidikan Islam, persoalan ini bahkan lebih penting. Kita tidak mendidik manusia hanya supaya tahu. Ilmu harus bergerak menjadi kesadaran, iman, amal, kebiasaan, karakter, tanggung jawab sosial, lalu memberi warna kepada kehidupan bersama. Kalau proses sebesar itu hanya diserahkan kepada mata pelajaran, rasanya kita terlalu optimistis.
Justru di sinilah pesantren mempunyai kesempatan besar. Pesantren tidak harus sibuk mengejar sekolah modern dengan cara menjadi semakin mirip sekolah modern. Ia mempunyai modal sendiri: kehidupan bersama, keteladanan, pembiasaan, ibadah berjamaah, kedekatan dengan guru, organisasi, kemandirian, pengabdian, adab, dan pengalaman sehari-hari.
Maka GIHES akan menjadi lebih menarik jika kata holistic tidak berhenti sebagai tema summit. Ia perlu turun menjadi cara kita memandang kurikulum, mengelola pesantren, memperlakukan santri, dan menilai keberhasilan pendidikan.
Semua pengalaman pendidikan itu jangan dibiarkan hanya menjadi hidden curriculum. Petakan. Rancang. Kelola. Evaluasi. Pertanggungjawabkan. Mungkin problem pendidikan kita bukan kekurangan kurikulum. Kurikulumnya sudah terlalu banyak. Yang kurang justru keberanian mengakui bahwa kehidupan itu sendiri adalah kurikulum.
Kalau begitu, jangan lagi disembunyikan. Jadikan ia holistik, disengaja, dan dipertanggungjawabkan.
Sebab anak mungkin lupa apa yang kita ajarkan, tetapi sangat sulit melupakan bagaimana kita memperlakukannya.






