243 Peserta Ramaikan Lomba Tahfidz FESyar Jawa, Hafalan Jadi Ujian Utama

Teks Foto : Sebanyak 243 anak mengikuti lomba tahfidz FESyar Regional Jawa 2026 yang terbagi dalam kategori usia 7-9 tahun dan 10-12 tahun di Grand City Surabaya. (ist)

SURABAYA – Sebanyak 243 anak ambil bagian dalam lomba tahfidz yang menjadi salah satu rangkaian Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Regional Jawa 2026 di Grand City Surabaya, Minggu (27/9/2026).

Kompetisi hafalan Al-Qur’an tersebut diikuti peserta yang terbagi dalam dua kelompok usia, yakni 7-9 tahun dan 10-12 tahun. Antusiasme peserta menjadi salah satu gambaran tingginya minat anak-anak untuk mempelajari dan menghafalkan Al-Qur’an sejak usia dini.

Deputi Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Christoveny Kasnav, mengatakan lomba tahfidz dalam rangkaian FESyar tidak semata-mata diarahkan untuk mencari pemenang.

Menurutnya, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkenalkan literasi Al-Qur’an sekaligus menanamkan nilai moral dan karakter Islami kepada anak-anak.

“Tujuannya sebenarnya untuk menanamkan edukasi dan literasi, penguatan karakter Al-Qur’ani, moral, serta nilai-nilai keislaman sejak dini,” katanya.

Christoveny berharap proses pembelajaran Al-Qur’an sejak usia belia dapat membentuk generasi yang memiliki integritas dan akhlak mulia. Nilai-nilai yang dipelajari, kata dia, diharapkan tidak berhenti pada kemampuan menghafal ayat, tetapi juga menjadi pedoman dalam kehidupan.

“Tujuannya membentuk leader atau pemimpin yang berintegritas, berakhlak mulia, dan berdasarkan nilai-nilai Al-Qur’an,” ujarnya.

Ia menilai tingginya jumlah peserta menunjukkan respons masyarakat yang positif terhadap kegiatan tersebut. Kemampuan anak-anak dalam mengikuti perlombaan juga dinilai cukup baik, mulai dari hafalan, penerapan tajwid, makhraj hingga ketepatan panjang dan pendek bacaan.

“Anak-anak sekarang untuk pemahaman ataupun bacaannya sudah luar biasa,” katanya.

Di sisi lain, Juri Lomba Tahfidz FESyar 2026, Mohammad Baidum Makenun, menekankan pentingnya menjadikan kompetisi sebagai sarana untuk terus meningkatkan kemampuan, bukan sekadar mengejar gelar juara.

Imam Besar Masjid Manarul Ilmi ITS itu mengatakan peserta yang belum meraih juara tetap perlu menjadikan pengalaman mengikuti lomba sebagai bahan evaluasi dan motivasi untuk memperkuat hafalan.

“Jadi bukan kegagalan itu menjadikan teman-teman tidak mau menghafal lagi, tetapi lebih semangat lagi. Harapan kita seperti itu,” katanya.

Baidum menyebut kemampuan peserta, terutama kelompok usia 10-12 tahun, cukup baik. Namun, masih ditemukan sejumlah hal yang perlu diperbaiki, khususnya dalam ketepatan membaca ayat dan penerapan kaidah tajwid.

Menurutnya, hafalan yang baik harus berjalan beriringan dengan kemampuan membaca Al-Qur’an secara benar. Peserta juga tidak cukup mengandalkan lagu atau irama saat melantunkan ayat.

“Jangan hanya mengandalkan lagu, tetapi harus tepat cara bacanya,” ujarnya.
Dalam perlombaan tersebut, aspek hafalan menjadi komponen penilaian terbesar dengan bobot 50 persen. Sementara tajwid dan fashoha masing-masing memiliki bobot 25 persen.

Materi yang diujikan meliputi Juz 30, mulai dari surat An-Nas hingga An-Naba. Peserta diuji melalui mekanisme sambung ayat dan sambung surat.

Baidum menjelaskan, ketepatan panjang-pendek bacaan menjadi salah satu aspek penting dalam penilaian. Ia mencontohkan penerapan mad thabi’i yang harus dibaca konsisten sesuai kaidah.

“Kalau mad thabi’i dibaca dua harakat, semuanya harus dibaca dua harakat. Jangan yang satu dua harakat, yang lain lebih panjang,” jelasnya.

Selain tajwid, kemampuan mengucapkan setiap huruf sesuai makharijul huruf juga perlu terus diasah. Sebab, kesalahan dalam melafalkan huruf dapat memengaruhi ketepatan bacaan Al-Qur’an.

Karena itu, Baidum mendorong para peserta untuk tetap belajar bersama guru Al-Qur’an agar kemampuan hafalan dan kualitas bacaan dapat berkembang secara bersamaan.

Ia juga berharap penyelenggaraan lomba tahfidz pada FESyar mendatang dapat menghadirkan tantangan yang lebih luas. Materi lomba, kata dia, berpotensi dikembangkan dari Juz 30 menjadi lima juz, 10 juz, hingga 30 juz.

“Kita tawarkan lombanya lebih menantang lagi. Mungkin 5 juz atau 10 juz, bahkan bisa 30 juz,” katanya.

Lebih jauh, Baidum mengingatkan para peserta agar membangun niat yang lebih luas dalam menghafalkan Al-Qur’an.

Menurutnya, hafalan seharusnya tidak hanya dipersiapkan untuk kebutuhan perlombaan, tetapi menjadi bagian dari proses memahami dan mengamalkan ajaran Islam.

“Jangan sampai Al-Qur’an itu cuma hafalan saja atau untuk perlombaan. Al-Qur’an diturunkan untuk menjadi sumber ajaran Islam. Karena itu kita harus berusaha mengamalkannya,” ujarnya.