Maharva Clinic Hadirkan 4 Minutes Lift, Teknologi Lifting Wajah yang Cuma Butuh 4 Menit

Caption : Demo Maharva 4 Minutes Lift menggunakan teknologi Dios Twin Laser dari ALTÉON dalam rangkaian peluncuran inovasi lifting terbaru Maharva Clinic Surabaya, Minggu (4/10/2026). (Foto : Nugi/Indonesiakini.id)

SURABAYA – Tren perawatan kecantikan kini semakin mengarah pada prosedur yang praktis, nyaman, dan tidak banyak mengganggu aktivitas harian. Kondisi tersebut mendorong industri aesthetic menghadirkan teknologi yang mampu memberikan hasil perawatan dengan waktu tindakan yang lebih efisien.

Menjawab kebutuhan itu, Maharva Clinic Surabaya memperkenalkan inovasi terbaru bertajuk “Maharva 4 Minutes Lift: The Next Era of Lifting” dalam acara peluncuran yang digelar Minggu (4/10/2026).

Founder Maharva Clinic, dr. Aji Bayu Chandra, M.Biomed (AAM), mengatakan perkembangan prosedur nonsurgical skin tightening menunjukkan respons positif dari masyarakat. Konsumen, kata dia, kini semakin terbuka terhadap pilihan perawatan untuk mengencangkan kulit tanpa melalui prosedur pembedahan.

“Perkembangan inilah yang dibawa Maharva melalui Maharva 4 Minutes Lift. Inovasi lifting terbaru yang menggabungkan expertise Maharva dalam skin lifting dengan ALTÉON, teknologi aesthetic asal Korea Selatan,” ujar dr. Bayu.

Menurutnya, Maharva menjadi klinik pertama di Surabaya yang menghadirkan teknologi ALTÉON. Kehadiran teknologi tersebut sekaligus memperkenalkan konsep lifting yang lebih efisien dan dinilai sesuai dengan pola hidup masyarakat yang memiliki mobilitas tinggi.

Nama “4 Minutes Lift”, lanjut dr. Bayu, mengacu pada durasi proses utama lifting berbasis laser yang dapat dilakukan sekitar empat menit. Kendati demikian, keseluruhan treatment tetap melalui tahapan persiapan dan perawatan lain sesuai protokol yang diterapkan Maharva.

“Sedangkan, nama 4 Minutes Lift merujuk pada proses utama lifting menggunakan laser yang dapat dilakukan dalam sekitar empat menit. Keseluruhan treatment tetap mencakup tahapan persiapan dan perawatan lainnya sesuai dengan protokol Maharva,” jelasnya.

Dalam prosedur tersebut, Maharva menggunakan Dios Twin Laser dari ALTÉON dengan teknologi dual wavelength 980nm dan 1064nm. Teknologi ini dirancang untuk mendukung proses skin tightening sekaligus membantu pembentukan kontur wajah.

Teknologi asal Korea Selatan tersebut dihadirkan di Indonesia oleh GEA Aesthetic. Penggunaannya memungkinkan Maharva mengembangkan proses lifting utama dengan durasi lebih singkat dan downtime yang minimal.

Namun, dr. Bayu menegaskan bahwa efisiensi waktu tidak berarti mengesampingkan kualitas maupun ketepatan prosedur. Menurut dia, perkembangan teknologi justru memberikan ruang bagi dokter untuk menghadirkan perawatan yang lebih praktis tanpa menjadikan kecepatan sebagai satu-satunya ukuran.

“Bagi Maharva, perkembangan teknologi juga bukan sekadar tentang menghadirkan alat terbaru, tetapi bagaimana teknologi tersebut dipahami dan diterapkan dengan tepat sesuai kebutuhan setiap pasien,” katanya.

Ia menambahkan, setiap pasien memiliki karakteristik wajah dan kondisi kulit yang berbeda. Karena itu, penggunaan teknologi tetap harus dibarengi pemahaman dan keahlian dokter dalam menentukan pendekatan treatment.

Caption : Maharva Clinic resmi memperkenalkan inovasi 4 Minutes Lift sebagai bagian dari pengembangan teknologi aesthetic yang lebih praktis dan sesuai kebutuhan gaya hidup modern. (Foto : Nugi/Indonesiakini.id)

“Maharva 4 Minutes Lift menjadi salah satu bentuk perkembangan itu. Proses lifting utamanya dapat dilakukan dalam waktu yang sangat singkat, minim downtime, tetapi tetap dengan pendekatan dan expertise Maharva. Inilah yang kami lihat sebagai the next era of lifting,” tandasnya.

Pengalaman menggunakan treatment tersebut turut dirasakan Miss Earth Indonesia 2024, Jennifer Calista, Fashion Designer & Lifestyle Influencer Karla Jasmina, serta Cooking Influencer Liena Hartono.

Ketiganya memiliki aktivitas dan kesibukan yang berbeda, namun sama-sama menilai durasi treatment menjadi salah satu keunggulan yang menarik. Proses yang relatif singkat dan minim downtime membuat mereka tetap dapat menjalankan agenda setelah perawatan.

“Buat aku, treatment itu idealnya nggak bikin harus mengubah schedule seharian. Proses lifting-nya singkat, setelahnya bisa langsung lanjut aktivitas, dan lifting effect-nya juga langsung terasa,” ujar Jennifer Calista.

Sementara itu, Karla Jasmina melihat efisiensi waktu sebagai nilai tersendiri bagi seseorang yang memiliki aktivitas padat di dunia fashion. Ia menilai perawatan kecantikan tetap dapat dilakukan tanpa harus menghentikan rutinitas.

“Efisiensi menjadi luxury tersendiri di tengah aktivitas aku di industri fashion. Tetap bisa take care of myself tanpa harus stop everything else. Proses lifting-nya cepat dan setelahnya bisa langsung kembali ke aktivitas,” kata Karla.

Pengalaman serupa disampaikan Liena Hartono. Ia mengaku sempat terkejut karena prosedur yang menggunakan teknologi laser tersebut terasa ringan dan tidak membutuhkan waktu pemulihan panjang.

“Rasanya treatment-nya sederhana banget. Meski menggunakan teknologi laser yang advanced, prosesnya terasa ringan seperti kulit sedang disinari cahaya, tanpa harus menyediakan banyak waktu untuk recovery,” ujarnya.

Dr. Bayu kembali menekankan bahwa teknologi dalam perawatan aesthetic tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran dokter. Sebaliknya, teknologi menjadi sarana untuk membantu dokter memberikan tindakan yang lebih sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing pasien.

“Setiap wajah memiliki struktur, kondisi kulit dan kebutuhan yang berbeda. Bagi Maharva, teknologi bukanlah pengganti expertise, melainkan tools yang memungkinkan dokter memberikan pendekatan treatment sesuai kebutuhan masing-masing pasien,” pungkasnya.