INDONESIAKINI.ID – Perubahan peta kekuasaan di Washington mendorong pasar menimbang kemungkinan meredanya perang AS-Israel dengan Iran. Pada Kamis (5/11) pukul 07.45 WIB, harga minyak Brent turun 8,67 persen menjadi 94,62 dolar AS per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) tercatat 88,07 dolar per barel, melemah 0,06 persen.
Partai Demokrat merebut kendali DPR dan Senat AS dalam pemilihan paruh waktu, sementara Partai Republik pimpinan Presiden Donald Trump kehilangan mayoritas di Kongres. Perubahan tersebut memicu perkiraan bahwa ruang Trump untuk melanjutkan operasi militer terhadap Iran dapat menyempit dan peluang penyelesaian lewat perundingan meningkat.
Wakil Presiden Senior Perdagangan BOK Financial, Dennis Kissler, menilai Kongres yang dikuasai Demokrat berpotensi memperketat pengawasan atas pengeluaran militer AS di Timur Tengah. “Penguasaan Kongres oleh Demokrat dapat meningkatkan kemungkinan tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat,” kata Dennis.
Trump menyatakan pemerintahannya belum berencana menyerang Iran dalam waktu dekat. Ia juga mengakui perang tersebut turut memengaruhi kekalahan besar Partai Republik, sementara Wakil Presiden JD Vance mempertanyakan manfaat konflik dan menghubungkannya dengan hasil pemilu partainya.
Meski sinyal politik itu memberi harapan, jalan menuju perdamaian masih belum jelas. Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei menyatakan permusuhan AS terhadap Iran akan berlanjut tanpa bergantung pada partai yang berkuasa di Washington; pejabat senior Iran pun menyebut kedua negara masih jauh dari kesepakatan. Analis Enverus Carl Larry mengingatkan perubahan politik AS tidak otomatis mengakhiri perang, sementara Qatar meningkatkan mediasi untuk mencegah serangan di kawasan kembali meluas.
Pasokan dari Teluk turut menjadi perhatian. Ekspor minyak mentah, kondensat, dan produk olahan—di luar gas minyak cair atau LPG—rata-rata mencapai 17,1 juta barel per hari pada Oktober, turun dari 18,9 juta barel per hari pada September. Volume Oktober masih sekitar tiga perempat dari tingkat sebelum perang. Uni Emirat Arab juga mempertimbangkan pembangunan pipa ketiga agar minyak mentah dapat dialirkan tanpa melintasi Selat Hormuz.
Di sisi lain, penurunan stok minyak AS menjadi faktor yang menahan tekanan harga. Administrasi Informasi Energi AS mencatat persediaan minyak mentah turun 865.000 barel menjadi 409,8 juta barel pada pekan yang berakhir 30 Oktober 2026, berlawanan dengan perkiraan jajak pendapat Reuters yang memproyeksikan kenaikan 877.000 barel. Stok bensin dan produk distilat juga berkurang pada periode tersebut.
Penulis: Emel Yanie





