Pameran Tunggal R. Irawan Surianatanegara di Galeri Orbital Dago Bandung
Galeri Orbital Dago Bandung kembali menggelar pameran tunggal seniman R. Irawan Surianatanegara sejak 4 April hingga 3 Mei 2026. Pameran yang bertajuk “Si Konsisten” ini menampilkan karya-karya seniman berusia 82 tahun tersebut, yang terdiri dari lukisan dan gambar. Rifky Effendy, perwakilan dari Galeri Orbital, menyampaikan bahwa Irawan tetap konsisten berkarya meskipun kondisi fisiknya terbatas.
Karya-karya Irawan dalam pameran ini dikelompokkan menjadi tiga jenis, yaitu potret, benda (still life), dan pemandangan atau landscape. Karya-karya potret lebih mendominasi, termasuk potret diri Irawan sendiri serta orang-orang terdekat seperti istri, anak, perempuan berkebaya, dan penari Bali. Selain itu, ada juga sosok Rembrandt dan anak kucing yang tidur sambil didekap induknya.
Irawan juga menunjukkan kemampuannya dalam menggambar dan melukis benda-benda seperti bunga dalam pot, guci, serta alat pertukangan. Sementara untuk lanskap atau pemandangan, ia menggambarkan suasana di tepi pantai, daratan di kaki gunung, dan pesisir. Rifky menyebut karya gambarnya cukup baik sebagai seniman zaman modern klasik. Oleh karena itu, pihak galeri ingin memperkenalkan sang seniman ke publik di Bandung.
Profil R. Irawan Surianatanegara
Nama Irawan Surianatanegara sebagai pelukis menurut Rifky kurang terpublikasi di dunia seni Indonesia. Lahir di Tasikmalaya pada 12 April 1944, Irawan adalah sulung dari sembilan bersaudara. Hampir seumur hidupnya, ia tinggal di Kota Sukabumi. Berbeda dengan ayahnya yang bekerja di kepolisian, Irawan memilih profesi sebagai pelukis potret dan naturalis sejak usia 17 tahun. Selain melukis, ia juga pernah menjadi atlet cabang menembak, mengikuti jejak sang ayah.
Sampai saat ini, Irawan masih konsisten aktif melukis. Menurut Ulfah Yulaifah, muridnya, gurunya sering melukis potret berdasarkan permintaan dari para pejabat, pengusaha, maupun temannya. Selain itu, ia juga sering melukis potret anggota keluarga inti dan terdekat sebagai cerminan untuk lebih mengenal keluarganya. Bagi Irawan, hal ini merupakan ruang kontemplasi untuk mengenal dirinya sendiri.
Perjalanan Seni Irawan
Irawan tidak belajar seni lukis secara formal melainkan otodidak seraya melihat hasil karya seniman pendahulu dari buku-buku. Teori melukis Eropa atau dari karya-karya pelopor seni lukis modern seperti Abdullah Suryosubroto, Affandi, dan lain sebagainya ikut dipelajari. Kekaryaan Irawan yang dipamerkan di Galeri Orbital Dago Bandung itu merupakan koleksi sang anak, yaitu Indah Prianti yang diserahkan sang ayah untuk dirawat. Ada pun karya lain merupakan milik kolektor.
Pameran retrospektif ini, menurut Rifky, menghadirkan kembali perjalanan panjang R. Irawan Surianatanegara sebagai pelukis yang dengan tekun merawat disiplin, kesunyian, dan ketepatan dalam tradisi seni lukis modern Indonesia. Dalam rentang waktu dari dekade 1970-an hingga 1990-an, konsistensinya bukan sekadar pengulangan tema, melainkan pendalaman bahasa visual yang matang dan reflektif.






