KEDIRI – Kabar membanggakan datang dari PLN Unit Induk Transmisi Jawa Bagian Timur dan Bali (UIT JBM). Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Agroedukasi Anggur di Desa Toyoresmi, Kabupaten Kediri, UIT JBM berhasil masuk sebagai nominator dalam ajang TOP CSR Award 2026.
Program ini lahir dari pendekatan inovatif dalam menjaga keandalan sistem transmisi, khususnya pada jalur Right of Way (ROW) jaringan SUTT 150 kV. Kawasan yang sebelumnya berisiko akibat vegetasi tinggi dan aktivitas masyarakat kini bertransformasi menjadi ruang produktif sekaligus destinasi edukasi berbasis pertanian modern.
General Manager UIT JBM, Ika Sudarmaja, menyampaikan bahwa capaian ini merupakan hasil kolaborasi kuat antara perusahaan dan masyarakat. Menurutnya, pendekatan mitigasi gangguan transmisi yang dikembangkan telah berevolusi menjadi kawasan agroeduwisata bernilai ekonomi dan edukatif.
“Ini menjadi kebanggaan bagi kami. Berawal dari pendekatan berbeda dalam mitigasi gangguan transmisi, kini berkembang menjadi kawasan agroeduwisata yang memberikan nilai ekonomi dan edukasi bagi masyarakat,” ujarnya.
Program Agroedukasi Anggur Toyoresmi dikembangkan melalui sinergi lintas pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah desa dan kabupaten, dinas pertanian, hingga Kelompok Tani Paguyuban Petani Anggur Toyoresmi (PPAT). Kolaborasi ini tidak hanya menjaga keberlanjutan program, tetapi juga memperkuat rasa memiliki masyarakat terhadap inisiatif tersebut.
Lebih dari sekadar solusi teknis, program ini menghadirkan dampak sosial nyata. Masyarakat, khususnya perempuan, kini memiliki ruang untuk lebih produktif dan mandiri secara ekonomi, sejalan dengan semangat emansipasi yang terus digaungkan.
Dalam proses penilaian TOP CSR Award 2026, dewan juri memberikan sejumlah catatan strategis untuk pengembangan program ke depan. Agroedukasi Anggur Toyoresmi dinilai memiliki potensi besar untuk direplikasi sebagai model pemberdayaan ekonomi berbasis pemanfaatan ruang ROW yang aman dan produktif. Penguatan kemitraan dengan koperasi desa serta dukungan pembiayaan inklusif juga dinilai penting untuk memperluas rantai pasok.
Selain itu, integrasi edukasi bahaya listrik berbasis komunitas menjadi nilai tambah agar masyarakat tidak hanya berdaya secara ekonomi, tetapi juga semakin sadar akan aspek keselamatan ketenagalistrikan.
Dari sisi keberlanjutan, juri menekankan pentingnya pendekatan yang lebih komprehensif melalui kajian penghidupan (livelihood assessment) serta monitoring tingkat kemandirian masyarakat agar dampak program dapat terukur secara berkelanjutan.
Program ini juga diapresiasi karena selaras dengan kearifan lokal. Ke depan, penguatan kerangka lokal, penyiapan local champion, serta penyusunan exit strategy bertahap menjadi kunci menjaga keberlanjutan program. Pendekatan sosial budaya yang mempertimbangkan karakteristik wilayah Kediri, termasuk peran tokoh masyarakat dan agama, dinilai penting untuk meningkatkan penerimaan masyarakat.
Dari sisi pengukuran dampak, penyajian nilai Social Return on Investment (SROI) dan Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) secara lebih eksplisit juga menjadi perhatian guna memperkuat kredibilitas program.
Ke depan, Agroedukasi Anggur Toyoresmi berpotensi dikembangkan sebagai model social enterprise berbasis agroeduwisata, dengan dukungan digitalisasi pemasaran serta integrasi program ketahanan pangan dan ekonomi hijau.
Keberhasilan ini menegaskan bahwa program TJSL yang dirancang secara strategis, kolaboratif, dan berbasis potensi lokal mampu menciptakan shared value. Tidak hanya menjaga keandalan sistem kelistrikan, tetapi juga mendorong transformasi sosial dan ekonomi masyarakat.
Inisiatif ini menjadi bukti bahwa listrik bukan sekadar energi, melainkan penggerak perubahan, penumbuh harapan, dan fondasi masa depan yang berkelanjutan.






