JAKARTA — PT Krakatau Steel (Persero) Tbk mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan kinerja seiring dengan penerapan strategi transformasi yang fokus pada efisiensi, restrukturisasi keuangan, serta penguatan kepercayaan dari berbagai pemangku kepentingan. Perusahaan baja pelat merah ini berhasil mencatatkan laba bersih sebesar US$4,6 juta pada kuartal I/2026.
Direktur Utama Krakatau Steel, Akbar Djohan, menyampaikan bahwa perbaikan kinerja di awal tahun 2026 menjadi indikasi bahwa transformasi yang dilakukan secara bertahap mulai memberikan hasil. Ia menjelaskan bahwa meskipun kinerja mulai meningkat, program efisiensi tetap menjadi kunci penting dalam menjaga momentum tersebut.
“Kinerja kami mulai meningkat secara bertahap di awal tahun ini. Namun, program efisiensi masih menjadi kunci penting dalam menjaga momentum ini,” ujarnya saat berada di Kantor Krakatau Steel, Jakarta, Senin (27/4/2026).
Dengan hasil kuartal I/2026 yang stabil, perseroan berkomitmen untuk terus melakukan transformasi guna mencapai pertumbuhan laba pada kuartal II/2026 yang ditargetkan sebesar Rp20 triliun. Strategi utama transformasi difokuskan pada pembenahan fundamental. Restrukturisasi keuangan yang telah berlangsung sejak 2019 menjadi bagian penting dalam proses pemulihan ini.
Perseroan mengakui bahwa akses terhadap pembiayaan sempat menjadi kendala, terutama dalam pengadaan bahan baku yang krusial bagi keberlanjutan produksi. Namun, dukungan pembiayaan dari Danantara akhir tahun lalu menjadi salah satu faktor kunci dalam mempercepat pemulihan ini. Suntikan modal sekitar Rp5 triliun digunakan khusus untuk pembelian bahan baku, sehingga meningkatkan kemampuan produksi dan daya saing perusahaan.
Di sisi lain, negosiasi dengan perbankan juga menghasilkan kesepakatan restrukturisasi berupa pemangkasan kewajiban utang (haircut) hingga sekitar 80% dari pokok, bunga, dan denda. Langkah ini dinilai mampu memperbaiki struktur keuangan sekaligus meningkatkan kepercayaan lembaga keuangan terhadap perseroan.
“Inilah yang menjadi semangat buat kami, karena komitmen kami melakukan transformasi adalah membangun trustworthy. Kalau perbankan sudah percaya kepada kami, harusnya publik juga ikut percaya,” jelas Akbar.
Selain itu, pembenahan internal juga dilakukan secara menyeluruh, termasuk terhadap anak-anak usaha serta perusahaan patungan (joint venture/JV) yang kontribusinya masih negatif. “Secara internal kami benahi, baik dari anak perusahaan, JV maupun eksternal. Ini PR (pekerjaan rumah) besarnya Krakatau Steel hari ini,” ucap Akbar.
Berdasarkan pencapaian positif tersebut, Krakatau Steel optimistis dalam menargetkan laba bersih sebesar US$129 juta pada 2026 sebagai bagian dari upaya penguatan kinerja keuangan perusahaan. Hingga Maret 2026, total produksi Krakatau Steel mencapai 360.000 ton. Capaian ini didorong oleh beroperasinya fasilitas produksi utama secara optimal, di mana pabrik hot strip mill (HSM) berkontribusi sebesar 230.000 ton dan pabrik cold rolling mill (CRM) sebesar 130.000 ton.
Selain itu, Krakatau Steel membukukan pendapatan sebesar US$262,4 juta pada kuartal I/2026. Laba bersih sebesar US$4,6 juta turut memperkuat posisi ekuitas perusahaan di angka US$745,7 juta. Dengan capaian ini, perusahaan semakin yakin untuk terus menjalani transformasi yang akan membawa perusahaan menuju stabilitas dan pertumbuhan yang lebih baik.






