News  

Kesaksian Menegangkan Penumpang KRL yang Diseruduk Argo Bromo: Lampu Mati, Dentuman, dan Tangisan

Pengalaman Mengerikan yang Berakhir dengan Kebetulan Bahagia

Malam itu seharusnya menjadi perjalanan biasa. Namun bagi Maksus (39), warga Tambun, kejadian di Stasiun Bekasi Timur berubah menjadi pengalaman yang nyaris merenggut nyawanya. Ia selamat dari tabrakan maut antara KRL Commuter Line Cikarang dan KA Argo Bromo Anggrek bukan karena perlindungan khusus, melainkan karena keputusan sederhana: turun dari gerbong beberapa saat sebelum benturan terjadi.

Awal Kejadian: Kereta Berhenti, Lalu Aneh

Maksus menceritakan, awalnya KRL yang ia tumpangi berhenti normal untuk menurunkan penumpang. Setelah itu, kereta sempat bergerak kembali menuju tujuan berikutnya, Tambun. Namun, baru berjalan sekitar tiga meter, rangkaian kembali berhenti mendadak.

“Itu ada mobil yang katanya keserempet di depan. Keserempet apa berhenti lah gitu kan? Saat itu saya juga enggak tahu pasti,” ujarnya.

Kereta tertahan sekitar dua menit. Situasi ini memicu rasa penasaran para penumpang, termasuk Maksus, yang akhirnya turun ke peron.

Rasa Penasaran yang Menyelamatkan Nyawa

Di tengah kebingungan, banyak penumpang turun untuk melihat kondisi di depan. Maksus ikut terbawa arus. “Saya kepo ikut turun tuh, yang lain-lain pada turun, nah saya turun juga ke peron mau lihat ke depan. Tapi kok tidak keliatan juga mobilnya yang keserempet KRL,” katanya.

Tak menemukan jawaban, ia memutuskan kembali ke gerbong. Namun keputusan kecil itu justru menjadi momen penentu hidupnya.

Dentuman Maut Itu Datang

Saat baru beberapa langkah menuju gerbong 6, tiba-tiba situasi berubah drastis. “Baru saya melangkah berapa langkah, kereta jalan sendiri tapi kenceng. Tiba-tiba duss !! Lampu KRL mati,” tutur Maksus.

Dalam hitungan detik, ia menyadari apa yang terjadi: kereta yang ia tumpangi dihantam dari belakang. “Lalu terlihat ada dua gerbong berjalan cepat melewati peron. Baru sadar ternyata ada KA jarak jauh nyundul (KRL dari belakang),” lanjutnya.

Gerbong Hancur, Penumpang Terlempar

Benturan keras membuat lokomotif KA jarak jauh mendorong rangkaian KRL hingga masuk ke bagian gerbong. Maksus menyebut, dampak paling parah terjadi di gerbong belakang. “Gerbong yang terkena (tabrakan) paling parah itu gerbong 12, atau gerbong khusus perempuan dan gerbong 11,” kata Maksus.

Pemandangan di lokasi pun sulit dilupakan. “Ada yang tadi (penumpang) nyangkut di atas gitu kan, ada yang ke bawah juga. Saya sudah nggak tega lihatnya,” jelasnya. Lampu berjatuhan, listrik padam, dan suasana berubah gelap dalam sekejap.

Antara Syukur dan Trauma

Di tengah kekacauan, Maksus hanya bisa gemetar. Ia sadar, jika tetap berada di dalam gerbong, nasibnya bisa berbeda. “Ya Allah untung aja tadi keluar. Habis itu saya mau ngambil HP aja sampai gemeteran,” tuturnya. “Meski di peron 6, bisa saja kalau saya tetap di dalam ikut tergencet, terbentur atau luka,” ucapnya.

Korban dan Evakuasi

Tabrakan yang terjadi sekitar pukul 20.52 WIB itu menewaskan empat penumpang KRL. Puluhan lainnya mengalami luka-luka dan harus dirawat di rumah sakit. Sementara itu, ratusan penumpang KA Argo Bromo Anggrek berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat.

Meski demikian, bagi para saksi seperti Maksus, luka psikologis kemungkinan akan bertahan lebih lama daripada luka fisik sebuah pengingat bahwa dalam hitungan detik, perjalanan biasa bisa berubah menjadi tragedi besar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *