Kritik terhadap Wacana Penghapusan Program Studi yang Tidak Relevan dengan Kebutuhan Industri
Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (UPNVJ), Azwar, menyampaikan kritik tajam terhadap wacana penghapusan program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri. Menurutnya, pola pikir yang menempatkan perguruan tinggi hanya sebagai pemasok tenaga kerja industri merupakan residu dari pemikiran kolonial.
Wacana ini sebelumnya sempat disampaikan oleh Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Badri Munir Sukoco. Azwar mengungkapkan bahwa pendidikan yang hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan industri sejatinya merupakan pola pendidikan warisan penjajahan.
“Pola pikir yang mengatakan bahwa kampus harus menyuplai industri, lulusan kampus itu harus diterima di industri, ini adalah residu-residu dari pemikiran zaman kolonial,” ujar Azwar dalam acara podcast Banyak Tanya di YouTube.
Menurutnya, pada masa kolonial Belanda, pendidikan dirancang untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja penjajah, bukan untuk mencerdaskan masyarakat pribumi. “Jadi pendidikan yang dianggap untuk memenuhi kebutuhan industri itu kan pola pikir penjajahan,” jelasnya.
Azwar menyinggung buku karya Elizabeth Graves yang meneliti asal-usul elit Minangkabau modern. Dalam penelitian tersebut dijelaskan bahwa setelah Belanda menang atas Kaum Paderi pada 1837, pemerintah kolonial mulai mendirikan banyak lembaga pendidikan modern di Sumatera Barat. Tujuannya adalah untuk menopang kebutuhan industri Belanda di Tanah Air.
“Mereka butuh SDM, tapi tidak mungkin mendatangkan tenaga kerja dari Eropa. Maka pilihannya adalah mendidik kaum pribumi untuk kebutuhan mereka,” jelasnya. Dengan begitu, tujuan pendidikan saat itu adalah mencetak tenaga kerja untuk mendukung administrasi dan aktivitas ekonomi kolonial.
“Pasca 1837 banyak berdiri lembaga-lembaga pendidikan modern versi Belanda di Sumatera Barat. Tujuannya adalah menyuplai tenaga kerja. Mereka butuh juru tulis, orang yang paham hitungan dagang, dan seterusnya,” katanya. “Jadi pendidikan itu bukan untuk mencerdaskan pribumi, tapi memenuhi kebutuhan mereka.”
Jika ditarik pada era saat ini, Azwar menyayangkan apabila mahasiswa di perguruan tinggi masih dianggap sebagai orang yang hanya dibutuhkan tenaganya untuk kebutuhan industri. Padahal, pendidikan punya tujuan yang lebih luas daripada itu.
Industri Takkan Mampu Serap Semua Mahasiswa
Azwar juga menilai gagasan pembubaran program studi yang dianggap tidak relevan dengan industri merupakan “kesadaran semu”. Hal itu menurutnya berpotensi menimbulkan persoalan baru di dunia pendidikan.
“Saya terus terang melihat gagasan-gagasan tersebut, wacana-wacana itu, tentu saja sangat prihatin. Yang pertama perlu kita garis bawahi adalah kalau ini adalah gagasan pribadi, saya pikir silakan. Tapi kalau ini sudah menjadi kebijakan kementerian, saya pikir ini adalah bencana besar bagi dunia pendidikan kita,” tegasnya.
Menurut Azwar, anggapan bahwa seluruh lulusan perguruan tinggi harus terserap industri tidak realistis, terutama di Indonesia yang memiliki jumlah kampus sangat besar. “Saya berani taruhan, kalau kita ikuti pola pikir seperti itu bahwa semua lulusan perguruan tinggi harus relevan dengan dunia industri, saya yakin industri pun tidak akan bisa menampung semua lulusan perguruan tinggi, apalagi di Indonesia,” katanya.
Ia menilai, banyaknya perguruan tinggi negeri maupun swasta membuat mustahil seluruh lulusan diarahkan hanya untuk memenuhi kebutuhan industri. “Indonesia perguruan tinggi kita sangat banyak. Kampus swasta dan negeri banyak. Kalau semuanya diniatkan untuk menyuplai industri, tidak akan tertampung oleh industri. Makanya saya sebut ini adalah kesadaran semu,” tandas Azwar.



